Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Trump Klaim Dialog "Sangat Baik" dengan Pejabat Tinggi Iran

Thalatie K Yani
24/3/2026 04:29
Trump Klaim Dialog
Presiden AS Donald Trump mengeklaim adanya pembicaraan positif dengan pejabat tinggi Iran di tengah ketegangan perang. Benarkah deeskalasi segera terjadi?(White House)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memberikan kejutan diplomatik, Senin waktu setempat, dengan mengeklaim adanya perkembangan "sangat baik" dalam pembicaraan dengan seorang pejabat tinggi Iran. Pernyataan ini muncul secara mendadak setelah Trump sempat menunda rencana serangan baru terhadap infrastruktur energi Republik Islam tersebut.

Meski demikian, klaim sepihak ini segera dibantah oleh Teheran. Pihak Iran menuduh Trump tengah melakukan manipulasi pasar energi global. Terlepas dari bantahan tersebut, pasar bereaksi positif; harga minyak dunia dilaporkan anjlok, sementara bursa saham melonjak karena investor melihat adanya celah deeskalasi.

Simpang Siur Sosok Negosiator

Laporan dari Axios yang mengutip sumber pejabat Israel menyebutkan sosok yang berkomunikasi dengan Trump adalah Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran sekaligus tokoh non-ulama paling berpengaruh saat ini. Namun, Ghalibaf melalui media sosial X menegaskan "tidak ada negosiasi" yang sedang berlangsung.

"Trump mencoba memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari rawa tempat AS dan Israel terjebak," tulis Ghalibaf.

Senada dengan itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengakui adanya pesan dari "negara-negara sahabat" mengenai permintaan AS untuk bernegosiasi guna mengakhiri perang, namun ia membantah pembicaraan tersebut telah terealisasi.

Sikap Kontradiktif Israel

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui adanya kemungkinan kesepakatan setelah berbicara dengan Trump. Namun, Netanyahu menegaskan militer Israel (IDF) tidak akan mengendurkan serangan ke Iran dan Lebanon.

"Trump percaya ada peluang untuk memanfaatkan pencapaian luar biasa IDF dan militer AS guna mewujudkan tujuan perang dalam sebuah perjanjian, perjanjian yang akan menjaga kepentingan vital kita," ujar Netanyahu. "Pada saat yang sama, kami terus menyerang baik di Iran maupun di Lebanon."

Dampak Ekonomi Global

Ketegangan di Selat Hormuz, jalur bagi seperlima minyak mentah dunia, telah menjadi ancaman serius bagi ekonomi global. Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan jika perang berkepanjangan, krisis energi kali ini bisa lebih buruk daripada krisis minyak tahun 1970-an.

Sesaat setelah klaim Trump mencuat, harga minyak mentah Brent merosot tajam sekitar 12 persen menjadi 98,95 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat bertahan di atas US$100.

Syarat dan Tekanan

Trump menyebutkan ada beberapa poin kesepakatan utama, termasuk tuntutan agar Iran menghentikan ambisi nuklirnya dan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya. Namun, ia juga tetap memberikan peringatan keras. Jika pembicaraan gagal dalam lima hari ke depan, AS mengancam akan kembali melanjutkan serangan udara secara masif.

Hingga saat ini, ribuan Marinir AS dilaporkan tengah menuju Timur Tengah sebagai langkah antisipasi jika diplomasi buntu dan operasi militer untuk mengamankan aset minyak atau membuka paksa Selat Hormuz harus dilakukan. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya