Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Eropa Tolak Seruan Trump untuk Gempur Selat Hormuz: Ini Bukan Perang Kami!

Akmal Fauzi
17/3/2026 16:19
Eropa Tolak Seruan Trump untuk Gempur Selat Hormuz: Ini Bukan Perang Kami!
Sebuah helikopter beroperasi di Selat Hormuz.(AFP)

NEGARA-negara Eropa menolak permintaan Amerika Serikat (AS) untuk mengerahkan kekuatan angkatan laut ke Selat Hormuz. Uni Eropa menegaskan komitmennya untuk menghindari keterlibatan militer langsung dalam konflik yang kian memanas antara AS-Israel dengan Iran.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan bahwa Eropa tidak memiliki niat untuk memperluas misi militer mereka saat ini. Pernyataan ini muncul usai pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, Senin (16/3).

“Kami bersedia memperkuat misi-misi ini,” katanya, tetapi saya rasa misi-misi tersebut tidak dapat diperluas hingga mencakup Selat Hormuz.”

Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menegaskan bahwa Berlin tidak akan mengirim pasukan ke wilayah Teluk dan mendesak solusi politik segera. Senada dengan itu, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius memperingatkan adanya kendala hukum dan parlemen untuk pengerahan pasukan di luar wilayah NATO.

"Ini bukan perang kami; kami tidak memulainya. Kami menginginkan solusi diplomatik," ujar Pistorius.

Di London, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menolak tekanan Washington. Ia menyatakan Inggris tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas dan setiap langkah militer harus memiliki mandat hukum yang jelas.

Penolakan juga datang dari Polandia dan Belgia. Menteri Luar Negeri Polandia, Radoslaw Sikorski, bahkan melontarkan kritik tajam kepada Presiden AS Donald Trump yang dinilai kontradiktif dalam memandang posisi NATO. Sementara itu, PM Belgia Bart De Wever memastikan negaranya tidak akan bergabung dalam serangan apa pun bersama AS dan Israel.

Sebelumnya, Trump mengeklaim banyak negara bersiap membantu AS membuka kembali Selat Hormuz, namun ia enggan menyebutkan nama negara-negara tersebut karena alasan keamanan.

Selat Hormuz menjadi titik api global setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menutup jalur tersebut menyusul serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu.

Sebelum konflik pecah, sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat ini setiap hari. Gangguan pada jalur urat nadi energi dunia ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah secara signifikan di pasar internasional.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya