Headline
Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.
Kumpulan Berita DPR RI
ESKALASI konflik bersenjata di Timur Tengah memicu guncangan hebat pada sektor energi global. Lembaga kajian perminyakan internasional, Argus, melaporkan tingkat produksi minyak di kawasan Teluk Persia anjlok drastis hingga hampir 7 juta barel per hari (bpd) akibat krisis yang melumpuhkan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Kondisi ini merupakan dampak langsung dari blokade de facto di Selat Hormuz pascaserangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Penutupan jalur logistik vital ini memaksa negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Irak, Kuwait, hingga Bahrain memangkas produksi secara besar-besaran.
Laporan Argus menyebutkan bahwa pembatasan produksi tidak lagi bisa dihindari. Hal ini karena fasilitas penyimpanan minyak (storage) di negara-negara Teluk telah mencapai kapasitas maksimum dalam waktu singkat akibat terhentinya arus ekspor melalui jalur laut.
Secara akumulatif, negara-negara Teluk mengurangi output mereka di kisaran 6,2 hingga 6,9 juta bpd dibandingkan tingkat produksi normal pada Februari 2026. Berikut rincian dampak krisis pada produsen minyak utama:
Raksasa minyak dunia, Saudi Aramco, dilaporkan menangguhkan operasi di sejumlah tambang lepas pantai strategis seperti Safaniya, Marjan, Zuluf, dan Abu Safa. Argus memperkirakan produksi Arab Saudi anjlok sekitar 2 hingga 2,5 juta bpd.
Produksi minyak Irak yang pada Februari masih berada di angka 4,42 juta bpd, merosot tajam ke level 1,5-1,7 juta bpd per 8 Maret 2026. Angka ini diprediksi akan terus tergerus hingga menyentuh 1,2 juta bpd jika krisis berlanjut.
Kuwait Petroleum Corporation (KPC) secara resmi mengumumkan status force majeure (keadaan kahar) terkait pengiriman produk minyak mentahnya. Produksi Kuwait jatuh dari 2,59 juta bpd menjadi hanya 2 juta bpd, dengan proyeksi penurunan lanjutan ke angka 1,5 juta bpd.
Meski ADNOC (Emirat) berupaya menggunakan opsi jalur ekspor alternatif, data Argus menunjukkan produksi Emirat tetap terkoreksi ke angka 2,7-3 juta bpd dari sebelumnya 3,53 juta bpd. Sementara itu, Bahrain melalui Bapco juga menyatakan keadaan kahar pada kilang berkapasitas 405.000 bpd milik mereka.
Krisis energi ini berakar dari serangan udara gabungan yang dilancarkan AS dan Israel ke wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran, pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur vital dan jatuhnya korban jiwa.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah dan wilayah Israel. Eskalasi militer inilah yang kemudian memicu blokade di Selat Hormuz, menutup akses kapal-kapal tanker yang membawa komoditas energi dunia.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda deeskalasi di kawasan tersebut, sementara pasar energi global terus memantau dengan kecemasan tinggi terkait stabilitas pasokan minyak di masa depan. (Sputnik/RIA Novosti/OANA/Ant/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved