Headline
Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Kuba memasuki babak baru yang krusial. Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan tengah mengincar pelengseran Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, sebagai syarat mutlak bagi Havana jika ingin menjalin kesepakatan atau normalisasi hubungan dengan Washington.
Laporan The New York Times yang mengutip sejumlah sumber internal menyebutkan bahwa Washington secara tegas menyatakan tidak akan ada kesepakatan apa pun selama Diaz-Canel masih memegang tampuk kekuasaan. Meski demikian, AS dikabarkan tidak akan melakukan intervensi militer langsung, melainkan menyerahkan mekanisme perubahan kepemimpinan kepada rakyat Kuba melalui tekanan ekonomi.
Sejumlah pejabat tinggi dalam pemerintahan Donald Trump meyakini bahwa keberadaan Diaz-Canel menjadi penghambat utama bagi perubahan struktural ekonomi di negara kepulauan tersebut. Washington menilai reformasi ekonomi yang lebih terbuka kecil kemungkinan akan didukung oleh Diaz-Canel yang dikenal sebagai loyalis ideologi Partai Komunis Kuba.
Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, Washington saat ini dilaporkan tidak lagi memfokuskan tindakan terhadap keluarga Castro, melainkan secara spesifik menargetkan administrasi Diaz-Canel sebagai simbol status quo yang harus diakhiri.
Sebagai langkah konkret untuk menekan Havana, Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif pada akhir Januari 2026. Perintah ini memberikan wewenang penuh kepada Washington untuk mengenakan tarif impor berat terhadap barang-barang dari negara mana pun yang masih memasok minyak ke Kuba.
Langkah agresif ini disertai dengan penetapan status darurat nasional oleh AS. Alasannya, ada ancaman terhadap keamanan nasional yang diduga bersumber dari aktivitas pemerintah Havana di kawasan Karibia.
Miguel Diaz-Canel merupakan politikus senior Partai Komunis Kuba yang mulai menjabat sebagai Presiden sejak April 2018, menggantikan posisi Raul Castro. Sebelum mencapai kursi kepresidenan, ia menjabat sebagai Wakil Presiden Pertama Dewan Negara dan Dewan Menteri pada periode 2013-2018.
Di bawah kepemimpinannya, Kuba terus berupaya mempertahankan kedaulatan sosialisnya di tengah kepungan sanksi ekonomi AS yang semakin intensif sejak kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih.
Para analis geopolitik memprediksi bahwa kebijakan tanpa kompromi dari Washington ini akan semakin mengisolasi Kuba secara finansial, sekaligus menguji ketahanan rezim komunis di Havana dalam menghadapi tekanan inflasi dan kelangkaan energi yang kian parah. (Sputnik/RIA Novosti/Ant/I-2)
Empat orang tewas dan enam luka-luka setelah speedboat Florida terlibat baku tembak dengan penjaga pantai Kuba. AS mulai kumpulkan fakta lapangan.
MENURUT semua laporan, Kuba sedang mengalami momen ekonomi terburuk dalam sejarah 67 tahun revolusi komunisnya.
TIDAK ada tempat yang lebih terpukul daripada Kuba oleh gelombang kejut yang ditimbulkan oleh penangkapan Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela pada Sabtu (3/1) pagi.
Presiden AS Donald Trump memberikan ancaman paling eksplisit terhadap Kuba saat pulau tersebut lumpuh akibat pemadaman listrik total dan blokade minyak.
Demonstrasi langka pecah di Kuba. Massa merusak kantor Partai Komunis di tengah krisis makanan dan pemadaman listrik hingga 15 jam akibat blokade minyak.
Penjaga pantai Kuba menembak mati empat orang di sebuah speedboat asal Florida, termasuk satu warga AS. Kuba menuding adanya plot terorisme di tengah sengketa minyak.
Ketegangan AS-Kuba memuncak. Presiden Miguel Díaz-Canel menolak keras tuntutan Donald Trump untuk bernegosiasi dan menegaskan kedaulatan Kuba.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved