Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Trump Ancam Ambil Alih Kuba di Tengah Krisis Listrik Total

Thalatie K Yani
17/3/2026 06:29
Trump Ancam Ambil Alih Kuba di Tengah Krisis Listrik Total
Presiden AS Donald Trump memberikan ancaman paling eksplisit terhadap Kuba saat pulau tersebut lumpuh akibat pemadaman listrik total dan blokade minyak.(White House)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Kuba, Senin (16/3). Di saat yang bersamaan, negara komunis tersebut tengah didera kegelapan total akibat ambruknya jaringan listrik nasional yang diperparah embargo minyak ketat dari Washington.

Setelah hampir tujuh dekade menentang Amerika Serikat, otoritas Havana kini berada di bawah tekanan masif dari pemerintahan Trump yang tampaknya bertekad melakukan perubahan drastis di pulau tersebut.

"Anda tahu, sepanjang hidup saya, saya telah mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba. Kapan Amerika Serikat akan melakukannya?" ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

"Saya benar-benar percaya saya akan... mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba," tambah Trump. "Apakah saya membebaskannya, atau mengambilnya, saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan terhadap mereka, jika Anda ingin tahu kebenarannya. Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini."

Ancaman eksplisit ini muncul saat penduduk Kuba yang berjumlah 9,6 juta jiwa harus berjuang menghadapi pemadaman listrik total. Union Nacional Electrica de Cuba (UNE) menyatakan "penghentian total jaringan nasional" telah terjadi, meski upaya pemulihan mulai dilakukan.

Dampak Blokade Minyak dan Ambruknya Ekonomi

Sistem pembangkit listrik Kuba yang menua telah lama berada dalam kondisi memprihatinkan, dengan pemadaman harian hingga 20 jam menjadi norma di beberapa wilayah. Namun, kondisi ini kian memburuk sejak AS menggulingkan sekutu utama Kuba, Nicolas Maduro di Venezuela, pada awal Januari lalu.

Trump mempertahankan blokade minyak secara de facto, yang mengakibatkan tidak ada minyak yang masuk ke pulau itu sejak 9 Januari. Selain menghantam sektor listrik, kelangkaan bahan bakar juga memaksa maskapai penerbangan mengurangi penerbangan, yang menjadi pukulan telak bagi sektor pariwisata.

Sebagai upaya meredakan tekanan ekonomi, Menteri Perdagangan Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri Kuba, Oscar Perez-Oliva, mengumumkan kebijakan mengejutkan bahwa para eksil Kuba kini diizinkan berinvestasi dan memiliki bisnis di sana.

"Kuba terbuka untuk memiliki hubungan komersial yang lancar dengan perusahaan-perusahaan AS," kata Perez-Oliva kepada NBC News. Ia menambahkan bahwa peluang ini juga terbuka bagi "orang-orang Kuba yang tinggal di Amerika Serikat dan keturunan mereka."

Kerusuhan dan Frustrasi Rakyat

Kelangkaan makanan, obat-obatan, dan listrik telah memicu frustrasi warga yang berujung pada protes langka. Akhir pekan lalu, massa merusak kantor provinsi Partai Komunis Kuba di kota Moron. Polisi menangkap 14 orang terkait insiden tersebut.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengakui melalui unggahan di media sosial X mengenai "ketidakpuasan yang dirasakan rakyat kami karena pemadaman listrik yang berkepanjangan." Namun, ia menegaskan, "Apa yang tidak akan pernah bisa dimengerti, dibenarkan, atau diterima adalah kekerasan."

Di sisi lain, Trump berdalih bahwa blokade bahan bakar ini adalah respons terhadap "ancaman luar biasa" yang ditimbulkan Kuba terhadap AS. Ia memberi isyarat bahwa kesepakatan dengan Kuba mungkin akan segera terjadi setelah pemerintahannya menyelesaikan konflik dengan Iran.

"Saya pikir kita akan segera membuat kesepakatan atau melakukan apa pun yang harus kita lakukan," ujar Trump. (AFP/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik