Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Donald Trump Klaim Iran Ingin Negosiasi tapi Takut Bicara

Ferdian Ananda Majni
26/3/2026 14:10
Donald Trump Klaim Iran Ingin Negosiasi tapi Takut Bicara
Presiden AS Donald Trump(instagram/@realdonaldtrump)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Iran sebenarnya ingin bernegosiasi, meskipun tidak berani mengakuinya secara terbuka di tengah berlanjutnya operasi militer Amerika.

"Ngomong-ngomong, mereka sedang bernegosiasi, dan mereka sangat ingin mencapai kesepakatan, tetapi mereka takut mengatakannya, karena mereka mengira akan dibunuh oleh rakyat mereka sendiri," kata Trump dalam acara makan malam penggalangan dana Komite Kongres Republik Nasional pada Rabu (25/3).

"Mereka juga takut akan dibunuh oleh kita," lanjutnya.

Trump bahkan menyebut posisi kepemimpinan di Iran sebagai sesuatu yang tidak diinginkannya.

"Saya tidak menginginkannya. Kami ingin menjadikan Anda Pemimpin Tertinggi berikutnya. Tidak, terima kasih. Saya tidak menginginkannya," terangnya.

Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa tindakan AS terhadap Iran lebih tepat disebut sebagai operasi militer.

"Saya tidak akan menggunakan kata perang. Jadi saya akan menggunakan kata operasi militer, yang memang seperti itulah adanya. Ini disebut penghancuran militer," lanjutnya.

Ia juga menggambarkan operasi tersebut sebagai ekskursi ke neraka.

"Sebuah ekskursi ke tempat yang mengerikan," ucapnya 

Terkait dampak ekonomi, Trump menilai kenaikan harga energi hanya bersifat sementara dan bukan menjadi perhatian utama.

"Yang harus kita lakukan adalah menyingkirkan kanker itu. Kita harus membasmi kanker itu. Kanker itu adalah Iran dengan senjata nuklir, dan kita telah membasminya. Sekarang kita akan menghabisinya," tambahnya.

Trump turut memuji kemampuan militer Amerika Serikat dalam menghadapi serangan balasan Iran. Ia mengklaim pasukan AS berhasil menggagalkan serangan besar.

"Kita mengalami serangan. 100 rudal ditembakkan oleh Iran dan dari 100 rudal yang menuju ke arah kita, 100 rudal langsung ditembak jatuh," sebutnya.

"Kita memiliki militer terhebat. Kita membuat peralatan militer terhebat," jelasnya.

Eskalasi Konflik Berlanjut

Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.

Sejak operasi dimulai, dilaporkan 13 personel militer AS tewas dan sekitar 290 lainnya mengalami luka-luka, menandai eskalasi konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah. (Anadolu/H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya