Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Strategi Perubahan Rezim Iran Gagal? Pakar Ungkap Mengapa Perang Justru Perkuat Rezim Ayatullah

Haufan Hasyim Salengke
26/3/2026 10:56
Strategi Perubahan Rezim Iran Gagal? Pakar Ungkap Mengapa Perang Justru Perkuat Rezim Ayatullah
Spanduk di Alun-Alun Valiasr di Teheran yang menggambarkan mendiang Ayatullah Khomeini (kiri), menyaksikan penerusnya, mendiang Ali Khamenei, menyerahkan bendera nasional kepada putranya dan pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei.(AFP)

STRATEGI Amerika Serikat (AS) dan Israel yang berharap serangan militer masif akan memicu revolusi rakyat untuk menggulingkan kekuasaan Ayatullah di Iran tampaknya menemui jalan buntu. Alih-alih runtuh, intensitas perang selama empat minggu terakhir justru dilaporkan menyatukan elit politik dan militer Iran dalam koalisi yang lebih solid dari sebelumnya.

Sebelum perang pecah, Iran berada dalam posisi paling rentan sejak revolusi 1979. Protes nasional pada Januari lalu, yang dipicu oleh krisis ekonomi dan sanksi internasional, telah merambah ke berbagai kelas ekonomi dan etnis. Para pakar menilai, saat itu Iran tinggal selangkah lagi menuju revolusi jika aparat keamanan mulai membelot.

Namun, Jack A. Goldstone, pakar kebijakan publik dari George Mason University, menilai perang telah menjungkirbalikkan proses keruntuhan tersebut. "Kita hampir sampai pada titik di mana rezim tidak lagi dianggap mewakili negara, tetapi intensitas serangan luar telah menghapus semua itu," ujarnya.

Solidaritas di Tengah Gempuran

Kampanye udara Israel dan pembunuhan bertarget terhadap tokoh-tokoh kunci memang melemahkan Iran secara material, kata pakar. Namun, secara politik, hal ini justru menghilangkan ruang bagi kelompok moderat. Siapa pun yang sebelumnya menyuarakan negosiasi atau reformasi kini kehilangan pijakan, sementara kelompok garis keras militer semakin memperkuat kontrol atas negara.

Ray Takeyh dari Council on Foreign Relations menekankan bahwa revolusi hanya bisa terjadi jika ada perpecahan di dalam aparat keamanan (IRGC, militer, dan Basij). Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda pembelotan. "Tanpa keretakan di internal elit dan aparat keamanan, sangat sulit melihat rezim mana pun akan runtuh," tegas Takeyh.

Kegagalan Strategi Revolusi dari Langit 

Menurut laporan New York Times yang mengutip mantan pejabat intelijen AS dan Israel, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menerima rencana ambisius Mossad untuk memicu pemberontakan rakyat Iran di awal kampanye militer terhadap 'Negeri para Mullah'. Tetapi Netanyahu sekarang frustasi karena janji-janji tersebut belum terwujud. Pejabat AS dan Israel merasa bahwa kondisi tampaknya belum matang untuk memungkinkan terjadinya perlawanan rakyat.  

Netanyahu sebelumnya berharap kekuatan udara dapat memberi ruang bagi rakyat Iran untuk bangkit. Namun, model 'revolusi dari langit' ini dinilai belum teruji. Alex Vatanka dari Middle East Institute menunjukkan perbedaan dengan kasus Libya 2011; di Iran, tidak ada militer yang membelot untuk melindungi demonstran.

Meski infrastruktur ekonomi seperti jaringan listrik dan gas South Pars menjadi sasaran untuk memicu ketidakpuasan rakyat, para ahli memperingatkan bahwa rakyat yang sengsara tetap tidak berdaya melawan aparat yang bersenjata lengkap dan setia. Selama IRGC dan Basij tetap loyal, rezim Iran diprediksi dapat bertahan hingga beberapa dekade ke depan, meski dalam kondisi tidak populer sekalipun.

Kini, pengumuman Trump mengenai potensi pembicaraan untuk mengakhiri perang secara implisit mengakui bahwa skenario regime change (pergantian rezim) mungkin telah gagal, dan rezim Ayatullah tetap menjadi pemegang otoritas di Tehran. (Times of Israel/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya