Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Pakistan Siap Fasilitasi Perundingan AS-Iran

Khoerun Nadif Rahmat
24/3/2026 19:40
Pakistan Siap Fasilitasi Perundingan AS-Iran
Ilustrasi(Anadolu)

KEMENTERIAN Luar Negeri Pakistan menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran demi mencapai penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, jika kedua pihak menghendaki.

"Jika para pihak menginginkan, Islamabad selalu bersedia menjadi tuan rumah pembicaraan," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Tahir Andrabi sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

"Kami secara konsisten mendorong dialog dan diplomasi untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di kawasan," imbuhnya.

Pernyataan itu muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump menunda selama lima hari ancamannya untuk menyerang fasilitas listrik Iran. Trump juga mengeklaim bahwa Washington dan Teheran tengah terlibat dalam "pembicaraan yang sangat baik".

Namun, Iran membantah adanya negosiasi dengan AS. Meski demikian, sejumlah laporan media di AS dan Israel menyebutkan bahwa beberapa negara seperti Pakistan, Mesir, dan Turkiye berperan sebagai perantara dalam beberapa hari terakhir dengan menyampaikan pesan antara Teheran dan Washington.

Sejumlah laporan juga menyebutkan kemungkinan pertemuan antara perwakilan AS dan Iran di Islamabad dalam waktu dekat, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari kedua pihak.

Di tengah upaya diplomasi tersebut, komunikasi intensif turut dilakukan oleh para pejabat tinggi Pakistan. Panglima Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir berbicara dengan Trump pada Minggu. Sehari kemudian, Perdana Menteri Shehbaz Sharif melakukan kontak dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Menteri Luar Negeri Ishaq Dar juga melakukan pembicaraan terpisah dengan mitranya dari Iran dan Turkiye.

Di sisi lain, perbedaan sikap masih terlihat jelas. Pemerintah AS terus menyuarakan kemungkinan negosiasi, sementara Iran menolak laporan tersebut.

Situasi yang berkembang dinilai tidak mudah bagi kedua pihak, terutama bagi Iran yang menghadapi tingkat ketidakpercayaan tinggi terhadap AS.

Iran sebelumnya telah dua kali terlibat dalam perundingan dalam setahun terakhir, namun di tengah proses tersebut justru menghadapi serangan udara. Kondisi itu dinilai semakin mempersulit kemungkinan keterlibatan diplomatik.

Teheran menegaskan syarat utama untuk membuka jalur diplomasi. Selama serangan udara masih berlangsung, pembicaraan gencatan senjata dinilai tidak relevan.

Namun, jika intensitas serangan menurun, peluang untuk membuka kembali perundingan tetap ada, meski sangat terbatas. (Ndf/I-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya