Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKISTAN, untuk pertama kalinya, resmi menduduki peringkat pertama dalam Global Terrorism Index (GTI) 2026, menandai titik terendah keamanan negara tersebut dalam sepuluh tahun terakhir. Laporan terbaru yang dirilis oleh Institute for Economics and Peace (IEP), seperti dilansir Pakistan Today, Senin (23/3), mengungkapkan bahwa kematian akibat terorisme di Pakistan melonjak enam persen menjadi 1.139 jiwa sepanjang 2025.
Pencapaian tragis ini menempatkan Pakistan di posisi teratas dari 163 negara yang disurvei. Sebelumnya, pada tahun 2024, Pakistan berada di peringkat kedua dengan lonjakan kematian sebesar 45%. Laporan tersebut menyoroti bahwa ketegangan hubungan dengan negara tetangga, khususnya Afghanistan, menjadi katalis utama meningkatnya risiko keamanan nasional.
Laporan GTI 2026 mengidentifikasi kelompok Tehreek-i-Taliban Pakistan (TTP) sebagai organisasi militan paling mematikan di negara tersebut, sekaligus peringkat ketiga paling mematikan di dunia. TTP bertanggung jawab atas 67% dari total serangan di Pakistan sejak 2009.
Pada 2025 saja, TTP tercatat melakukan 595 serangan--naik 24% dari tahun sebelumnya. Sebagian besar serangan terkonsentrasi di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa yang berbatasan dengan Afghanistan. IEP mencatat bahwa kembalinya kekuasaan Taliban di Afghanistan memberikan "ruang operasional" yang lebih luas bagi TTP untuk mengekspansi pengaruhnya.
Selain TTP, Tentara Pembebasan Balochistan (BLA) juga menjadi aktor utama kekerasan. Provinsi Khyber Pakhtunkhwa dan Balochistan menyumbang lebih dari 74% total serangan dan 67% total kematian di Pakistan sepanjang tahun lalu.
Meski jumlah serangan secara keseluruhan mengalami sedikit penurunan, laporan tersebut mencatat lonjakan dramatis pada insiden penyanderaan. Angka penyanderaan meroket dari 101 kasus pada 2024 menjadi 655 kasus pada 2025.
Lonjakan ini dipicu secara signifikan oleh serangan kereta Jaffar Express, di mana 442 orang disandera dalam satu insiden tunggal. Tanpa kejadian tersebut, angka penyanderaan global sebenarnya diprediksi menurun sebesar 30%.
Berbanding terbalik dengan Pakistan, secara global angka kematian akibat terorisme justru turun signifikan sebesar 28% menjadi 5.582 jiwa. Sebagian besar kematian global (70%) terkonsentrasi di lima negara, yaitu Pakistan, Burkina Faso, Nigeria, Niger, dan Republik Demokratik Kongo. Sub-Sahara Afrika kini disebut sebagai episentrum baru terorisme global.
Namun, laporan ini memberikan peringatan bagi negara-negara Barat. Terjadi kenaikan insiden terorisme di Barat sebesar 280% dengan total 57 kematian. Beberapa insiden menonjol termasuk serangan truk di New Orleans, AS, serta penembakan massal di Bondi Beach, Australia. (Pakistan Today/B-3)
Donald Trump pertimbangkan AS keluar dari NATO setelah sekutu tolak amankan Selat Hormuz. Ia tegaskan militer AS tidak butuh bantuan siapa pun dalam konflik Iran.
Erdogan dan Mohammed bin Salman membahas krisis regional melalui telepon, menekankan pentingnya dialog dan diplomasi demi keamanan global.
Menlu Iran Abbas Araghchi tegaskan program nuklir Teheran tak bisa dihancurkan serangan militer. Ia peringatkan respons keras atas setiap ancaman baru dari AS.
Norwegia dan Jerman mulai menarik sebagian pasukan dari Irak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan penumpukan kekuatan militer AS di kawasan tersebut.
Sejumlah negara Eropa dilaporkan bahas pengembangan penangkal nuklir pertama sejak Perang Dingin, respons ancaman Rusia dan dinamika NATO.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved