Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Norwegia dan Jerman Tiba-Tiba Relokasi Pasukan dari Timur Tengah, Antisipasi Serangan Iran?

Haufan Hasyim Salengke
20/2/2026 20:44
Norwegia dan Jerman Tiba-Tiba Relokasi Pasukan dari Timur Tengah, Antisipasi Serangan Iran?
Pasukan Angkatan Bersenjata Bundeswehr Jerman turun dari pesawat angkut Airbus A400M di pangkalan udara militer di Wunstorf, pada 28 April 2023.( (AFP))

ESKALASI situasi keamanan di Timur Tengah mulai memicu reposisi kekuatan militer internasional. Norwegia dan Jerman secara resmi mengumumkan relokasi dan penarikan sebagian personel militer mereka keluar menyusul meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.

Pihak Angkatan Bersenjata Norwegia mengonfirmasi akan merelokasi sekitar 60 prajuritnya yang sebelumnya bertugas di Timur Tengah. Juru bicara militer Norwegia menyatakan pada Jumat (20/2) bahwa personel tersebut akan dipindahkan kembali ke Norwegia atau ke negara-negara tetangga di kawasan tersebut dengan mempertimbangkan risiko keamanan.

Langkah serupa diambil oleh Jerman. Kementerian Pertahanan Jerman mengonfirmasi bahwa mereka telah memindahkan sejumlah tentara 'untuk sementara' dari pangkalan di Erbil, wilayah otonom Kurdistan, Irak Utara.

“Hanya personel yang benar-benar diperlukan untuk menjaga operasional kamp di Erbil yang tetap berada di lokasi,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Jerman kepada AFP.

Meski pihak Jerman tidak secara spesifik menyebutkan sumber ketegangan tersebut, langkah ini diambil di tengah kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memperkuat kehadiran militer Amerika Serikat melalui pengiriman kapal perang dan pesawat tempur ke kawasan tersebut, serta ancaman tindakan tegas terhadap Iran.

Jerman menegaskan bahwa keputusan penarikan sementara ini telah dikoordinasikan secara ketat dengan mitra multinasional lainnya dalam misi pelatihan pasukan lokal Irak.

AS dilaporkan telah mencapai kesiapan tempur penuh untuk serang Iran akhir pekan ini, menyusul pengerjaan besar-besaran aset udara dan laut di Timur Tengah. 

Sementara itu, Iran telah berulangkali memperingatkan bahwa serangan terhadap 'Negeri para Mullah' akan memicu perang regional. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran juga telah menetapkan status 'siaga maksimum' bagi seluruh unit tempur dan sistem pertahanan udara mereka sejak Sabtu (31/1) malam.

Selain itu, untuk pertama kalinya sejak Perang Iran-Irak (1980-1988), Pemerintah Kota Teheran berkoordinasi dengan otoritas manajemen krisis nasional untuk membuka seluruh bunker bawah tanah dan stasiun metro yang telah diperkuat bagi warga sipil. (Times of Israel/Alarabiya/Royanews/B-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya