Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Iran Nyatakan Siap Berunding dengan AS, Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman

Haufan Hasyim Salengke
31/1/2026 07:33
Iran Nyatakan Siap Berunding dengan AS, Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman
Menteri Luar Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Istanbul, Turki, 30 Januari 2026.(Burak Kara/Getty Images)

PEMERINTAH Iran menyatakan kesiapannya untuk membuka pintu dialog yang adil dan setara dengan Amerika Serikat (AS) guna meredakan ketegangan yang terus memuncak. Namun, Teheran menegaskan tidak akan berunding selama Washington masih melontarkan ancaman militer maupun tekanan ekonomi.

Menteri Luar Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam kunjungan resminya ke Turki, Jumat (30/1) waktu setempat, menegaskan bahwa kedaulatan pertahanan negaranya tidak dapat diganggu gugat.

"Iran tidak memiliki masalah dengan negosiasi, namun negosiasi tidak dapat dilakukan di bawah bayang-bayang ancaman," ujar Araghchi dalam konferensi pers bersama Menlu Turkiye, Hakan Fidan, di Ankara.

Araghchi juga memberikan garis merah yang tegas terkait program persenjataan mereka. Ia menyatakan bahwa kemampuan pertahanan dan rudal Iran tidak akan pernah menjadi subjek negosiasi apa pun. Menurutnya, pengembangan alutsista adalah hak prerogatif Teheran demi keamanan rakyatnya.

Pernyataan ini muncul di tengah retorika keras Presiden AS Donald Trump. Baru-baru ini, Trump mengonfirmasi pengerahan 'armada besar', termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, menuju kawasan Teluk. Trump bahkan secara terang-terangan tidak menutup kemungkinan aksi militer jika Iran menolak untuk merundingkan kesepakatan nuklir baru yang lebih ketat.

"Jika kita mencapai kesepakatan, itu bagus. Jika tidak, kita lihat saja apa yang terjadi," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Trump, yang menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015 pada masa jabatan sebelumnya, kini berupaya menekan Iran untuk menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium. Meski demikian, Washington disebut telah memberikan tenggat waktu (deadline) rahasia kepada Teheran untuk memulai pembicaraan.

Di tengah memanasnya hubungan kedua negara, sekuti regional seperti Emirat Arab, Turki, dan Arab Saudi telah terlibat dalam upaya diplomatik untuk mencegah konfrontasi militer antara Iran dan AS. Turki mencoba mengambil peran penengah.

Presiden Recep Tayyip Erdogan dilaporkan telah menghubungi Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk menawarkan peran Ankara sebagai fasilitator demi mencegah pecahnya konfrontasi bersenjata di kawasan Timur Tengah. (Al-Jazeera/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya