Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Iran Ancam Balasan ke AS dan Israel di Tengah Sinyal Serangan Trump

Thalatie K Yani
12/1/2026 04:31
Iran Ancam Balasan ke AS dan Israel di Tengah Sinyal Serangan Trump
Kondisi Iran(Media Sosial X)

KETUA Parlemen Iran memperingatkan akan melakukan pembalasan jika Amerika Serikat (AS) melakukan serangan. Bila terjadi, pusat-pusat militer dan jalur pengiriman AS di kawasan tersebut, serta Israel, akan menjadi target pembalasan yang sah.

Diketahui, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal kuat untuk melakukan intervensi. Melalui media sosial, Trump menyatakan Iran sedang "menatap kebebasan" dan AS "siap untuk membantu."

Laporan dari mitra berita BBC, CBS, menyebutkan bahwa Trump telah menerima pengarahan mengenai berbagai opsi, mulai dari serangan militer, operasi siber untuk melumpuhkan kekuatan militer Iran, hingga penambahan sanksi ekonomi di sektor energi.

Situasi Iran

Saat ini di Iran situasinya dilaporkan semakin mencekam dan menyerupai "zona perang" menyusul tindakan keras pemerintah terhadap gelombang protes anti-rezim yang telah berlangsung selama dua pekan. Berdasarkan laporan aktivis dan sumber lapangan, ratusan nyawa telah melayang di tengah upaya aparat keamanan memadamkan kerusuhan.

"Kondisi di sini sangat, sangat buruk," ungkap seorang sumber di Tehran kepada BBC. "Banyak teman kami yang terbunuh. Mereka menembakkan peluru tajam. Jalanan penuh darah dan jenazah dibawa pergi menggunakan truk."

Lembaga kemanusiaan HRANA (Human Rights Activist News Agency) melaporkan sedikitnya 495 pengunjuk rasa dan 48 personel keamanan tewas di seluruh negeri. Selain itu, sekitar 10.600 orang dilaporkan telah ditahan. Cuplikan video yang diverifikasi menunjukkan deretan kantong mayat, diperkirakan mencapai 180 jenazah, tertumpuk di pusat diagnostik forensik di Kahrizak, Provinsi Tehran.

Tuduhan Rezim dan Kondisi Rumah Sakit 

Pemerintah Iran bersikap keras terhadap para demonstran. Jaksa Agung Iran menyatakan siapa pun yang melakukan protes akan dianggap sebagai "musuh Tuhan" (Enmity against God), sebuah pelanggaran yang diancam hukuman mati. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bahkan mencap para pengunjuk rasa sebagai "sekelompok perusak" yang dikendalikan oleh pihak asing.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menuduh AS dan Israel berada di balik kerusuhan ini tanpa memberikan bukti konkret. "Mereka telah melatih individu-individu tertentu... membawa teroris ke dalam negeri, membakar masjid, dan menyerang pasar," klaimnya.

Sebaliknya, petugas medis di berbagai rumah sakit mengaku kewalahan menangani korban. Seorang tenaga kesehatan di Tehran melaporkan banyak korban jiwa akibat luka tembak langsung di bagian kepala dan jantung. "Sekitar 38 orang meninggal. Banyak yang meninggal begitu sampai di tempat tidur darurat," ujarnya.

Pemutusan Internet Total 

Untuk membatasi arus informasi, pemerintah Iran telah memberlakukan penutupan internet total sejak Kamis lalu. Para ahli menilai pemadaman kali ini jauh lebih parah dibandingkan saat protes "Woman, Life, Freedom" tahun 2022. Aksis internet warga kini sebagian besar terbatas pada jaringan intranet domestik, membuat upaya verifikasi data di lapangan menjadi tantangan besar bagi dunia internasional. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya