Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Putaran Ketiga Negosiasi Nuklir AS-Iran di Jenewa: Ancaman Militer Trump dan Risiko Konflik Timur Tengah

Ferdian Ananda Majni
26/2/2026 21:25
Putaran Ketiga Negosiasi Nuklir AS-Iran di Jenewa: Ancaman Militer Trump dan Risiko Konflik Timur Tengah
Kendaraan pengangkut senjata nuklir.(AFP)

PEJABAT Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menggelar pertemuan tidak langsung putaran ketiga di Jenewa, Kamis (26/2), dalam upaya meredakan ketegangan dan mencegah potensi konflik terbuka di tengah ancaman Presiden Donald Trump soal kemungkinan serangan jika kesepakatan nuklir gagal tercapai.

Pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah menilai putaran kali ini tidak akan jauh berbeda dari sebelumnya. Menurut dia, posisi kedua negara masih bertolak belakang dan sama-sama mempertahankan sikap keras.

"Putaran ketiga akan seperti putaran-putaran sebelumnya. Amerika akan terus menekan Iran untuk menutup semua fasilitas Nuklir dan membekukan program peluru kendali balistik. Bagi Iran, tekanan tersebut adalah pelecehan atas marwah negara Iran, dan menjadikan Iran bertekuk lutut pada Amerika Serikat. Keadaan ini menantang nyali Amerika Serikat dan juga Iran, karena menjadikan sumbu perang semakin pendek," kata Teuku Rezasyah dihubungi Media Indonesia, Kamis (26/2).

Terkait ancaman Trump yang menyebut opsi serangan militer jika diplomasi gagal, ia menilai pernyataan tersebut lebih merupakan pola tekanan politik ketimbang sinyal aksi langsung.

"Presiden Trump seperti biasanya akan mengancam, dan tidak bernyali menyerang Iran. Keadaan ini menguntungkan Iran, karena memungkinkannya mempertajam berbagai strategi pembalasan kontan, seandainya Amerika Serikat menyerang. Sasaran balasan Iran sangatlah jelas, yakni kota-kota di Israel, semua pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, dan kapal-kapal perang Amerika Serikat di perairan-perairan strategis Timur Tengah," sebutnya.

Ia juga memaparkan sejumlah skenario geopolitik yang berpotensi terjadi apabila perundingan gagal mencapai kesepakatan. Jika perundingan gagal, kata Teuku Rezasyah bahwa skenario berikut ini mungkin terjadi. Pertama, kepulangan pekerja asing di banyak negara Timur Tengah ke negara asal mereka. Kedua, eksodus penduduk Israel ke berbagai negara, yang sesuai dengan status dwi-kewarganegaraan mereka.

Lebih lanjut, ketiga yakni rotasi prajurit di banyak pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Keempat, meningkatnya pembelian senjata dari Tiongkok dan Rusia, yang berlanjut dengan pengiriman penasehat militer ke berbagai negara yang membelinya.

Terakhir, meningkatnya tekanan Amerika Serikat pada negara-negara Teluk, untuk segera mengijinkan pembukaan ruang udara mereka bagi serangan Amerika Serikat ke Iran.

Menurutnya, dinamika ini menunjukkan bahwa setiap kegagalan diplomasi berpotensi memperlebar dampak krisis, tidak hanya bagi Washington dan Teheran, tetapi juga bagi stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. (Fer/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya