Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Negara Gonjang-Ganjing, Kedubes Iran: Kami Prioritaskan Nyawa Demonstran

Dhika Kusuma Winata
14/1/2026 13:39
Negara Gonjang-Ganjing, Kedubes Iran: Kami Prioritaskan Nyawa Demonstran
Orang-orang berkumpul di Lapangan Enghelab setelah seruan pemerintah untuk berunjuk rasa menentang protes baru-baru ini di seluruh negeri, meneriakkan slogan anti-AS dan anti-Israel, di Teheran, Iran, Senin, 12 Januari 2026.(Anadolu/Fatemeh Bahrami)

KEDUTAAN Besar (Kedubes) Iran di Jakarta menegaskan aparat penegak hukum Teheran memprioritaskan pelindungan terhadap nyawa warga sipil yang berunjuk rasa pada 28 Desember lalu dan terus meluas ke banyak wilayah. 

Penegasan ini muncul di tengah eskalasi protes yang dipicu oleh krisis ekonomi di negara tersebut. Dalam keterangan resminya pada Rabu (14/1/2026), pihak Kedubes menyoroti adanya pihak luar yang memanfaatkan situasi tersebut. 

“Melindungi nyawa warga negara, termasuk para pengunjuk rasa damai, selalu menjadi prioritas, meskipun selama kerusuhan ini, sejumlah warga Iran yang tidak bersalah serta petugas keamanan dan ketertiban umum telah kehilangan nyawa di tangan elemen teroris bayaran,” demikian pernyataan Kedubes Iran di Jakarta.

Lebih lanjut, Kedutaan menekankan bahwa Iran berpegang teguh pada hukum dan praktik hak kebebasan berekspresi dan berunjuk rasa secara damai, dan mengakui hak-hak ini dalam kerangka konstitusi dan komitmen internasional, termasuk Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (ICCPR). 

Semua otoritas dan lembaga terkait disebut telah memperhatikan tuntutan damai dan sah dari warga negara dan menggunakan kapasitas yang dimiliki untuk menangani dan menindaklanjuti tuntutan, serta menegaskan tidak ada tindakan yang diambil terhadap para pengunjuk rasa damai.

Terapkan SOP yang Ketat

Terkait prosedur pengamanan di lapangan, pihak Teheran mengeklaim telah menerapkan standar operasional yang ketat. Terlepas dari adanya insiden kekerasan yang terorganisasi pada aksi unjuk rasa, Kedubes Iran menyampaikan bahwa aparat penegak hukum Iran telah bertindak dengan menahan diri dan dalam kerangka hukum, serta sesuai dengan prinsip-prinsip urgensi tinggi dan proporsionalitas untuk menjaga ketertiban dan keamanan publik.

Pihak Kedubes kembali menegaskan komitmen fundamental negara dalam menghadapi gelombang protes ini. 

“Iran sekali lagi menekankan komitmen penuhnya untuk melindungi hak-hak warga negara, termasuk hak untuk berdemonstrasi dan berunjuk rasa secara damai, dan pada saat yang sama menganggap perlindungan keamanan publik, nyawa dan harta benda warga negara dan sarana umum sebagai tanggung jawab yang sangat mendasar,” ucap pernyataan tersebut.

Mengenai pemicu utama unjuk rasa, yakni fluktuasi nilai tukar mata uang rial Iran, pemerintah mengaku telah menyiapkan solusi konkret bagi rakyatnya. Iran telah memahami tuntutan pengunjuk rasa dan menyiapkan sejumlah langkah praktis, termasuk menyediakan paket bantuan untuk kelompok rentan. 

“Pemerintah Republik Islam Iran telah memasukkan langkah-langkah praktis ke dalam agenda, termasuk paket bantuan mendesak untuk kelompok rentan dan dialog langsung dengan perwakilan serikat pekerja dan serikat pasar, untuk mengurangi tekanan biaya hidup dan memulai reformasi ekonomi,” katanya.

Sanksi AS Perlemah Ekonomi Iran

Kedubes Iran juga menambahkan bahwa tindakan dan sanksi ekonomi sepihak yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) turut menjadi faktor yang membuat kondisi perekonomian rakyat Iran semakin melemah. Menurut pihak Kedutaan, sanksi sepihak dan tindakan paksa AS selama beberapa tahun terakhir telah memainkan peran langsung dan tak terbantahkan dalam meningkatkan tekanan ekonomi pada rakyat Iran.

Sebagai catatan, Iran telah diguncang demonstrasi sejak 28 Desember 2025 di Grand Bazaar Teheran akibat anjloknya nilai rial Iran serta memburuknya kondisi ekonomi. Aksi protes kemudian menyebar ke 585 lokasi di seluruh negeri, tercatat pada 186 kota di seluruh 31 provinsi Iran.

Meski belum ada angka korban resmi dari pemerintah, kelompok pemantau hak asasi manusia berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), memperkirakan jumlah korban tewas mencapai sedikitnya 544 orang, termasuk aparat keamanan dan demonstran. 

Badan itu juga menyatakan bahwa lebih dari 1.000 orang luka-luka dan sedikitnya 10.681 orang telah ditahan dalam aksi protes tersebut. Sementara itu, setidaknya 109 anggota aparat keamanan Iran juga dilaporkan tewas dalam kerusuhan yang melanda sejumlah wilayah menurut Kantor Berita Tasnim milik Iran. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya