Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
IMAM An-Nawawi lahir pada pertengahan bulan Muharam tahun 631 H di kota Nawa. Nama lengkapnya ialah Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husin bin Muhammad bin Jum'ah bin Hizam al Hizami an-Nawawi. Panggilannya Abu Zakaria.
An-Nawawi adalah nisbat pada desa Nawa tersebut. Nawa merupakan pusat kota al-Jaulan dan berada di kawasan Hauran di provinsi Damaskus. Jadi Imam an-Nawawi adalah orang Damaskus karena menetap di sana selama kurang lebih delapan belas tahun.
Imam Nawawi gelarnya adalah Muhyiddin atau orang yang mengjidupkan agama. Namun, ia sendiri tidak senang diberi gelar tersebut. Al-Lakhani mengatakan bahwa Imam an-Nawawi tidak senang dengan julukan Muhyiddin yang diberikan orang kepadanya. Ketidaksukaan itu disebabkan karna adanya rasa tawadhu yang tumbuh pada diri Imam Nawawi, meskipun sebenarnya dia pantas diberi julukan tersebut karena dengan dia Allah menghidupkan sunah, mematikan bid'ah, menyuruh melakukan perbuatan yang ma'ruf, mencegah perbuatan yang mungkar dan memberikan manfaat bagi umat Islam dengan karya-karyanya.
Imam Nawawi adalah ulama yang paling banyak mendapatkan cinta dan sanjungan makhluk. Orang yang mempelajari biografinya akan melihat ada wira'i, zuhud, kesungguhan dalam mencari ilmu yang bermanfaat, amal soleh, ketegasan dalam membela kebenaran dan amar ma'ruf nahi munkar, takut dan cinta kepada Allah SWT dan kepada Rasulnya. Semua itu menjelaskan rahasia ia dicintai banyak orang.
Imam Nawawi merupakan ulama besar yang besar pada masanya, terutama dalam mazhab Syafii dan mazhab akidah Asyari. Menurut pendapat utama, ia meninggal dunia sementara umurnya tidak lebih dari 45 tahun. Ia telah meninggalkan berkas-berkas, ketetapan-ketetapan, dan kitab-kitab ilmiah yang berbobot. Peninggalan-peninggalan tersebut menunjukan bahwa ia melebihi ulama-ulama dan imam-imam pada masanya.
Imam Nawawi menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat, rela berada di pondok yang disediakan untuk para siswa. Merasa puas dengan makan roti al-Ka'k dan buah tin. Ia memanfaatkan semua waktu dan tenaganya untuk melayani umat Islam. Ia memakai pakaian tambalan dan tidak menghiraukan dengan perhiasan dunia, agar
mendapatkan rida sang raja maha pemberi.
Adz-Dzabhi mensifati Imam An-Nawawi sebagai orang yang berkulit sawo matang, berjenggot tebal, berperawakan tegak, beribawa, jarang tertawa, tidak bermain-main, dan terus bersungguh-sungguh dalam hidupnya. Ia selalu mengatakan yang benar, meskipun hal itu sangat pahit baginya dan tidak takut terhadap hinaan orang yang menghina dalam membela agama Allah.
Adz-Dzabhi mengatakan di dalam kitab Tarikh al Islam bahwa Imam an-Nawawi mengenakan pakaian-pakaian sebagaimana para ahli fikih di Hauran mengenakannya. Namun ia tidak terlalu memperhatikan masalah berpakaian.
Syaikh Yasin bin Yusuf al Marakisyai melihat Imam Nawawi di kota Nawa, ketika itu umurnya masih 10 tahun. Anak-anak kecil yang lain memaksanya untuk bermain bersama mereka. Namun Imam Nawawi lari dari mereka dan menangis karena dipaksa.
Ayahnya menempatkannya di toko. Namun kesibukannya dengan Al-Qur'an tidak bisa dikalahkan oleh aktivitas jual beli. Imam an-Nawawi tumbuh berkembang dalam penjagaan, kebaikan, dan menghafalkan Al-Qur'an. Dia menghabiskan waktunya di toko bersama dengan ayahnya.
Kemudian pada tahun 649 H ayahnya memindahkannya ke Damaskus agar belajar di sana. Dia bertempat di asrama para siswa. Dia mengandalkan kekuatannya dengan roti kasar. Dia belajar kitab At-Tanbih dan menghafalnya dalam empat bulan setengah dan belajar Al-Muhadzab.
Imam Nawawi menghafal kitab At-Tanbih dalam waktu kurang lebih 4,5 bulan dan ia hafal seperempat pembahasan ibadah dari kitab Al-Muhadzab dalam sisa tahun itu. Ia kemudian mensyarahi, mentashi di hadapan syaikhnya yaitu seorang imam, ulama besar, zuhud, wara', punya keutamaan dan pengetahuan-pengetahuan yakni Abu Ibrahim bin Ahmad bin Usman Al-Maghribi Asy-Syafi'i dan ia selalu bersama dengannya.
Ketika Imam Nawawi pergi haji bersama ayahnya, tampak oleh ayahnya tanda-tanda kecerdasan dan kemampuan memahami. Dia bermukim di Madinah selama 1,5 bulan. Dalam perjalanannya dia banyak mengalami sakit. Kembali dari haji, dia memfokuskan diri dengan mencari ilmu siang maupun malam, karena itu dia dijadikan percontohan dalam perumpamaan.
Menurut Ustaz Ahmad Abdul Aziz Qasim, ada beberapa hal yang biasa membentuk kepribadian yang besar pada Imam An-Nawawi, terutama berupa kemauan sendiri yang muncul dari dirinya. Berikut contohnya.
a. Melakukan perjalanan dalam mencari ilmu.
b. Keberadaannya di Madrasah ar-Rawahiyah.
c. Bersungguh-sungguh dalam belajar.
d. Banyak menghafal dan menelaah.
e. Belajar dari guru-guru besar dan mendapat perhatian dari mereka.
f. Tersedianya kitab-kitab secara lengkap.
g. Sering mengajarkan ilmu yang telah didapatkan dari guru-gurunya.
Baca juga: Liku-Liku Perjalanan Imam Syafii Menuntut Ilmu
Imam Nawawi dalam perjalanan mencari ilmunya telah melibatkan beberapa ulama yang berjasa memberikan pelajaran dalam berbagai ilmu.
Berikut guru-gurunya dalam bidang ilmu fikih.
a. Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad bin Utsman al-Maghribi Ad-Dimasyiqi.
b. Abu Muhammad Abdurrahman bin Nuh bin Muhammad bin Ibrahim bin Musa al-Maqdisi ad-Dimasyqi.
c. Syaikh Abu hafsh Umar bin As'ad bin Abi Ghalib ar-Rabai al-Irbili.
d. Abu Al-Hasan bin Sallar bin Al-Hasan Al-Irbili Al-Halabi Ad-Dimasyqi.
Baca juga: Bertemu Orang Perangai Buruk, Imam Syafii Batal Bakar Kitab Firasat
Imam an-Nawawi mempelajari ilmu Ushul Fiqih kepada sejumlah ulama. Berikut gurunya yang paling masyhur dan paling besar.
a. Al-Qadhi Abu al Fath Umar bin Bundar bin Umar bin Ali Muhammad at-Taflisi Asy-Syafi'i. Imam An-Nawawi belajar kepadanya al-Muntajhob karya Imam Fakhruddin ar-Razi dan sebagian dari kitab al-Mustashfa karya Imam al-Ghazali.
Baca juga: Hukum Berkurban untuk Sendiri dan Orang Lain dalam Empat Mazhab
Berikut guru-gurunya.
a. Fakhruddin al-Maliki.
b. Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Malik Jayyani.
c. Ahmad bin Salim al-Mashari.
d. Ibnu Malik.
Baca juga: Benarkah Imam Syafii Bidahkan Baca Al-Quran di Kuburan
Berikut guru-gurunya dalam bidang ilmu hadis.
a. Syaikh al-Muhaqqiq Abu Ishaq Ibrahim bin Isa al-Muradi al-Andalusia asy-Syafi'i.
b. Abu Ishaq Ibrahim bin Abi Hafsah Umar bin Mudhar al-Wasithi.
c. Zainuddin Abu al-Baqa' Khalid bin Yusuf bin Sa'ad ar-Ridha bin al-Burhan.
d. Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdul Muhsin al-Anshari.
Baca juga: Imam Syafii Wafat, Muncul Aliran Khurasan dan Irak
Berikut di antara murid-murid Imam Nawawi.
1. Alauddin bin al-Aththar.
2. Shadr ar-Rais al-Fadhil Abu al-Abbas Ahmad bin Ibrahim bin Mush'ah.
3. As-Syamsi Muhammad bin Abi Bar bin Ibrahim bin Abdirrahman bin an-Naqib.
4. Al-Nadar Muhammad bin Ibrahim bin Sa'dillah bin Jum'ah.
5. Asy-Syihab Muhammad bin Abdil Khaliq bin Utsman bin Munzhir al-Anshari ad-Dimasyiqi al-Muqri.
6. Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Abbas bin Ja'wan.
7. Al-Faqih al-Muqir Abu Abbas Ahmad adh-Dharir al Wasithi.
Baca juga: Sekilas Kehidupan Abu Tsaur Murid Imam Syafii dan Imam Ahmad
Ada beberapa kitab yang ditulis Imam an-Nawawi.
a. Syarah Muslim yang dinamakan al-Minhaj Syarah Shahih Muslim al-Hajjajj.
b. Riyadh ash-Shalihin.
c. Arbain an-Nawawi.
d. Khulashah al-Ahkam min Muhammad as-Sunan Wa Qawa'id al-Islam.
e. Syarah al-Bukhari (baru sedikit yang ditulis).
f. Al-Adzkar yang dinamakan Hilyah al-Abrar al-Khiyar fi Talkhish ad-Da'awat wa al-Adzkar.
Baca juga: Mengenal Imam Al-Muzani Murid Imam Syafii dan Penolong Mazhab
a. Al-Irsyad.
b. At-Taqrib.
c. Al-Irsyat Ila Bayan al-Asma' al-Mubhamat.
Baca juga: Siapakah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani
a. Raudh ath-Thalibin.
b. Al-Majmu' Syarah al-Muhadzab (disempurnakan oleh As-Subki kemudian al-Muthi').
c. Al-Minhaj.
d. Al-Idhah.
e. At-Tahqiq.
a. Adab Hamalah al-Qur'an.
b. Bustan al-Arifin.
a. Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat.
b. Thabaqat al-Fuqaha.
a. Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat bagian kedua.
b. Tahrir at-Tanbih. (Z-2)
Apakah boleh Puasa Daud di hari Jumat? Simak penjelasan hukum fikih, hadis larangan puasa Jumat, dan pengecualian bagi pengamal Puasa Daud di sini.
Simak tinjauan medis manfaat Puasa Daud bagi metabolisme. Dari proses autofagi hingga sensitivitas insulin, temukan alasan mengapa pola ini sangat sehat.
Apakah mandi besar (mandi wajib/mandi junub) boleh pakai sabun dan sampo? Simak penjelasan Ning Sheila Hasina dan Gus Baha agar mandi junub sah dan tidak menjadi mutaghayir.
Panduan lengkap cara mencuci pakaian najis, mulai dari najis ringan, sedang, hingga berat agar sah untuk ibadah. Simak langkah-langkahnya di sini.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menilai Kitab Fikih Zakat karya Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene sangat relevan bagi pengelolaan zakat di era modern.
Baznas bersama Shafiec Research Center Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan Pascasarjana UIN Jakarta berkolaborasi dalam penelitian dan tahqiq.
Apakah boleh Puasa Daud di hari Jumat? Simak penjelasan hukum fikih, hadis larangan puasa Jumat, dan pengecualian bagi pengamal Puasa Daud di sini.
Puasa enam hari Syawal harus berurutan atau boleh terpisah, hukum membatalkan puasa Syawal, dan saat silaturahmi sebaiknya melanjutkan puasa Syawal atau boleh dibatalkan.
Pertanyaannya, kapan kita boleh membayar zakat fitrah? Apakah membayar zakat fitrah harus di akhir bulan Ramadan atau boleh di awal Ramadan?
DALAM puasa di bulan suci Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk melakukan sahur. Ini karena sahur memiliki sejumlah keberkahan. Setidaknya ada tiga jenis keberkahan dalam sahur.
SATU pendapat menganjurkan salat nisfu Sya'ban sebanyak 100 rakaat. Bagaimana pendapat ulama tentang hal ini?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved