Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SALAH satu ulama besar ahlussunnah waljamaah asyariyah ialah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani. Keluasan ilmu dan karyanya membuat fatwanya banyak menjadi rujukan para ulama lain.
Jadi, siapakah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani? Berikut pemaparannya.
Namanya ialah Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar atau yang lebih dikenal sebagai Ibnu Hajar al-Asqalani. Ia lahir pada 773 H di Mesir.
Baca juga: Mengenal Imam Hanafi Pendiri Mazhab Fikih Pertama
Ayahnya meninggal dunia ketika beliau masih kecil, tepatnya pada Rajab 779 H, atau saat Ibnu Hajar berusia enam tahun.
Ibnu Hajar memulai masa remaja dengan menghafal Al-Qur'an. Diceritakan, beliau memiliki hafalan yang sangat cepat. Karena itulah, pada usia sembilan tahun, beliau sudah bisa menghafal seluruh isi Al-Qur'an di bawah bimbingan Syekh Shadru ad-Din ash-Shafti.
Baca juga: Kisah Nabi Yusya, Hizqiyal, Asya'ya Mendidik Bani Israil
Berkaitan dengan masalah ini, Al-Hafizh As-Suyuthi menyatakan pada mulanya Ibnu Hajar fokus mendalami sastra dan syair (puisi). Namun, ketika telah mencapai tujuannya dalam bidang ini, sejak 794 H beliau mendalami hadis.
Beliau juga banyak mendengar hadis dari berbagai sumber dan mengembara sampai ke Irak. Di negeri tersebut, beliau berguru kepada Syekh Al-Hafizh Abu Al-Fadhl Al-'Iraqi. Tidak mengherankan Ibnu Hajar sangat unggul dalam ilmu hadis dan begitu menonjol dalam seluruh cabang keilmuan ini.
Baca juga: Liku-Liku Perjalanan Imam Syafii Menuntut Ilmu
Menginjak dewasa, Ibnu Hajar berguru kepada asy-Syams bin al-Qatthan, salah seorang penasihatnya dalam ilmu fikih dan bahasa Arab. Selain itu, beliau juga berguru ilmu fikih kepada Al-Ibnasi, Balyaqni, dan Ibnu Mulqin.
Pengembaraan keilmuan Ibnu Hajar hingga ke negeri-negeri yang termasuk wilayah Syam, Mesir, dan Hijaz. Terbukti, beliau pernah mengembara ke Mekah, Damaskus, Yaman, Alexandria, dan Qush (Afganistan) pada 793 H, sampai ke daerah Sha'id di Mesir. Selain itu, beliau mempelajari hadis dari ulama-ulama Haramain (Mekah dan Madinah), Baitul Maqdis (Palestina), Nablus (Palestina), Ramlah, dan Gaza.
Ibnu Hajar tercatat memiliki banyak guru yang menjadi kepercayaannya untuk memecahkan berbagai permasalahan. Jumlah gurunya bahkan tak tertandingi oleh siapa pun pada zamannya. Ibnu Hajar memiliki sekitar 500 guru dalam berbagai cabang ilmu, khususnya fikih dan hadis.
Baca juga: Dua Ulama Khatamkan Al-Qur'an Ribuan Kali dalam Hidup
Semua gurunya sangat menguasai sekaligus paling menonjol dalam bidang masing-masing. Berikut daftar beberapa gurunya.
1. Imam Afifuddin an-Naisaburi.
2. Imam al-Makki (wafat 790 H).
3. Imam Muhammad bin Abdullah bin Zhahirah al-Makki (wafat 717 H).
4. Imam Abul Hasan Al-Haitsami (wafat 807 H).
5. Imam Ibnul Mulaqqin (wafat 804 H).
6. Imam Sirajuddin Al-Bulqini (wafat 805 H) ialah ulama yang Ibnu Hajar mengajar dan berfatwa.
7. Imam Abul-Fadhl Al-'Iraqi (wafat 806 H) ialah yang menjuluki Ibnu Hajar dengan sebutan Al-Hafizh dan bersaksi bahwa Ibnu Hajar ialah muridnya yang paling pandai dalam bidang hadis.
8. Imam Abdurrahim bin Razin. Kepada ulama ini, Ibnu Hajar mendengarkan dan belajar kitab Shahih Al-Bukhari.
9. Imam Al-'Izz bin Jama'ah.
10. Imam Al-Hummam Al-Khawarizmi.
11. Imam Al-Fairuz Abadi yang menyusun kitab Al-Qamus Al-Muhith. Kepada ulama ini, Ibnu Hajar belajar ilmu bahasa Arab.
12. Imam Ahmad bin Abdurrahman.
13. Imam Al-Burhan At-Tanukhi ialah yang mengajari Ibnu Hajar tentang Qira'ah Sab'ah (tujuh macam bacaan Al-Qur'an).
Karena itulah Ibnu Hajar sangat menguasai berbagai disiplin ilmu. Beliau mengutip (hadits-hadits) Abu Al-'Abbas dari Ahmad bin Umar al-Baghdadi. Sementara itu, hadis-hadis Abu Hurairah, beliau kutip dari Abdurrahman bin Al-Hafizh Adz-Dzahabi dan Ibnu 'Irfah Al-Maliki. Sedangkan dari kalangan wanita, beliau mengutip dari Maryam binti al-Adzra'i.
Ibnu Hajar juga mendokumentasikan daftar guru-gurunya yang paling menonjol berikut biografi mereka dalam karyanya yang berjudul Al-Majma' Al-Mu'assan bi Al-Mu'jam Al-Mufahras. Dalam kitab tersebut, beliau menuliskan biografi guru-gurunya secara alfabetis dan membaginya menjadi dua bagian.
Bagian pertama, mereka pernah mengajarinya ilmu hadis secara riwayat (riwayah). Bagian kedua, Ibnu Hajar juga mengklasifikasikan guru-gurunya berdasarkan ketinggian derajat mereka menjadi lima kelompok.
Dalam setiap biografi masing-masing guru, beliau menuliskan hadis yang pernah didengar dari guru tersebut. Karenanya, sistematika penyusunan kitab itu berdasarkan hadis-hadis yang didengar dari mereka.
Berikut beberapa murid yang pernah berguru kepada Ibnu Hajar.
1. Imam Ash-Shakhawi (wafat 902 H) ialah murid khusus Ibnu Hajar sekaligus orang yang menyebarkan ilmu-ilmunya.
2. Imam Al-Biqa'i (wafat 885 H).
3. Imam Zakaria Al-Anshari (wafat 926 H).
4. Imam Ibnu Qadhi Syuhbah (wafat 874 H).
5. Imam Ibnu Taghri Bardi (wafat 874 H).
6. Imam Ibnu Fahd al-Makki (wafat 871 H).
7. Jamal Ibrahim Al-Qalqasyandi.
8. Syaraf Abdul Haqq as-Sinbathi.
Selain mengajar, Ibnu Hajar menjalani beberapa amanah.
1. Seorang mufti (pemberi fatwa) dan pendikte hadis.
2. Memegang tampuk kepemimpinan dewan guru di berbagai sekolah, seperti Al-Hasaniyyah, Al-Manshuriyyah, Al-Baibarsiyyah, dan lain-lain.
3. Pemimpin di lembaga pengadilan.
4. Mengarang berbagai kitab yang sangat bermanfaat dan tak tertandingi dalam bidang Ulumul Hadits.
5. Mendiktekan hadis yang beliau hafal di lebih dari 1.000 majelis.
Di negeri Sultan Bilbars, beliau mendiktekan hadis selama kurang lebih 20 tahun. Pada masa pemerintahan Sultan Al-Mua'ayyad (Mesir), beliau berkali-kali diminta menjadi hakim di negeri-negeri Syam, tetapi selalu menolak. Namun, pada akhirnya beliau menjadi hakim di Mesir pada masa pemerintahan Sultan al-Asyraf.
Di antara karakter keilmuan yang dianugerahkan Allah kepada Ibnu Hajar ialah kemampuan membacanya yang sangat cepat. Bahkan, beliau sanggup membaca kitab Shahih Al-Bukhari hanya dalam 10 kali duduk yang dilakukan setiap setelah salat zuhur hingga asar. Sementara kitab Shahih Muslim beliau baca dalam lima kali duduk selama dua setengah hari.
Yang lebih menarik, beliau sanggup membaca kitab Al-Mu'jam Ash-Shaghir karya Imam Thabrani hanya dalam sekali waktu, yaitu antara salat zuhur hingga asar. Selama sekitar dua bulan lebih bermukim di Damaskus, Suriah, beliau sanggup membaca hampir 100 kitab sekaligus memberi catatan-catatan singkat terhadap kitab-kitab tersebut.
1. Fathul-Bari Syarah Shahih Al-Bukhari mulai ditulis pada 817 H dan selesai pada hari pertama Rajab tahun 842 H. Kitab ini telah dicetak berkali-kali.
2. Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah dicetak di Dar ash-Shadir, Beirut, Libanon.
3. Lisan Al-Mizan dicetak di percetakan Darul Ma'arif, Haidar 'Abad, Deccan, India.
4. Tahzdib At-Tahzdib dicetak di India dan Mesir.
5. Taqrib At-Tahzdib dicetak di Darul Kitab Al-'Arabi, Mesir, pada 1380 H.
6. Ta'jil Al-Manfa'ah bi Zawa'id Rijali Al-A'immah Al-Arba'ah dicetak di Darul Mahasin, Kairo, Mesir, tahun 1386 H.
7. Ad-Durar Al-Kaminah fi A'yan Al-Mi'ah Ats-Tsaminah dicetak di Dar al-Jil, Beirut, Libanon.
8. Syarh Nakhbati Al-Fikr dicetak berkali-kali.
9. Al-Ihtifal bi Bayani Ahwali Ar-Rijal.
10. Nuzhatul Al-Albab fi Al-Alqab.
11. Tabshir Al-Muntabih bi Tahriri Al-Musytabih.
12. Tuhfatu Ahli Al-Hadits 'an Syuyukhi Al-Hadits.
13. Ta'rifu Ahli At-Taqdis bi Maratib Al-Maushufin bi At-Taqlis.
14. Al-Qaul Al-Musaddad fi Adz-Dzibbi 'an Al-Musnad li Al-Imam Ahmad dicetak di Maktabah Ibnu Taimiyah, Mesir.
15. Ta'liq At-Ta'liq.
16. At-Tasywiq ila Washli At-Ta'liq.
17. Nukat Ibni Ash-Shalah.
18. Al-Muqtarib fi Al-Mudhtharib.
19. Zawa'id Al-Masanid Ats-Tsamaniyah.
20. Takhrij Ahadits Ar-Rafi'i wa Al-Hidayah wa Al-Kassyaf.
21. Tasdid al-Qaus ala Musnad Al-Firdaus (manuskrip).
Pada akhir hayatnya, Ibnu Hajar menderita sakit, tepatnya pada 852 H. Hingga akhirnya ia meninggal karena penyakit tersebut setelah salat isya di penghujung malam Sabtu 28 Zulhijah 852 H. Di antara yang ikut serta mengangkat jenazahnya ialah sang Sultan dan para pengiringnya.
Beliau dimakamkan di daerah Bani al-Kharubi, dekat pusara Imam al-Laits bin Sa'd, yang berada di depan Masjid Ad-Dailami. Semoga Allah menganugerahkan rahmat yang luas serta pahala yang melimpah kepadanya dari setiap ilmu beliau yang berguna bagi agama Islam dan umatnya. (Z-2)
KEMENTERIAN Agama (Kemenag) mengungkap hasil Asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) Tahun 2025 yang menunjukkan tantangan serius pada kompetensi literasi Al-Qur’an guru PAI SD.
DIREKTUR Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama (Kemenag) Amin Suyitno menyampaikan bahwa literasi Al-Qur’an akan menjadi syarat rekrutmen guru PAI.
DIREKTORAT Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama RI mengukuhkan posisi pendidikan agama sebagai pilar strategis dalam pembangunan karakter nasional sepanjang tahun 2025.
SISWA-SISWA kelas XII pasti mempelajari materi Pendidikan Agama Islam (PAI) & Budi Pekerti. Ada 10 bab dalam PAI kelas 12.
MATERI Pendidikan Agama Islam (PAI) & Budi Pekerti Kelas XI sekolah menengah atas (SMA) terdiri dari 10 bab. Pelajaran PAI kelas 10 mulai dari berpikir kritis sampai Ulul Azmi.
MATERI Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) & Budi Pekerti diajarkan kepada para siswa kelas X sekolah menengah atas (SMA)/MA. Ada 10 bab yang akan dipelajari siswa kelas 10.
ASOSIASI Ma’had Aly Indonesia (AMALI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) perdana di bawah kepengurusan masa khidmat 2026–2030 di Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an
BNPT mengunjungi pondok pesantren asuhan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha di Rembang, Jawa Tengah, Kamis (20/11/2025).
PIMPINAN Pusat Al Irsyad Al Islamiyyah menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) bertema 'Menggokohkan Peradaban Melahirkan Cendekiawan dan Ulama Berakhlak Mulia'.
PCNU Kabupaten Tasikmalaya menyerukan agar seluruh masyarakat menahan diri agar tidak terjadi konflik horizontal dan perpecahan
DIREKTORAT Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI untuk pertama kalinya menggelar Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) tingkat Internasional.
MAJELIS Masyayikh mengingatkan pentingnya penerapan standar mutu tinggi dalam penyusunan jenjang lanjutan pendidikan tinggi pesantren.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved