Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Pentingnya Peningkatan Kompetensi dan Kesejahteraan Guru PAI

Rahmatul Fajri
30/12/2025 11:05
Pentingnya Peningkatan Kompetensi dan Kesejahteraan Guru PAI
Ilustrasi: sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar tanpa meja dan kursi di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Hidayatul Mubtadi'in(ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)

DIREKTORAT Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama RI mengukuhkan posisi pendidikan agama sebagai pilar strategis dalam pembangunan karakter nasional sepanjang tahun 2025. Langkah ini diambil sebagai respons atas tantangan global dan disrupsi nilai yang mengancam ketahanan sosial masyarakat.

Pendidikan Agama Islam (PAI) kini tidak lagi diposisikan sekadar pelengkap kurikulum, melainkan investasi peradaban yang selaras dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan arah kebijakan Menteri Agama. Fokus utama kebijakan ini adalah penguatan moral publik dan moderasi beragama di sekolah umum.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Amin Suyitno, menegaskan bahwa sepanjang 2025 telah terjadi pergeseran paradigma, dari pendekatan administratif menuju penguatan sistemik yang berorientasi dampak jangka panjang.

“Guru PAI adalah aktor strategis peradaban. Kehadiran negara bukan lagi sekadar melalui regulasi, melainkan diwujudkan dalam afirmasi nyata: peningkatan kompetensi, kepastian kesejahteraan, dan ekosistem pendukung yang sehat,” ujar Amin Suyitno melalui keterangannya, Selasa (30/12).

Data nasional hingga akhir 2025 mencatat urgensi peran PAI yang sangat masif. Sebanyak 262.971 Guru PAI mengemban mandat untuk melayani 41.883.439 siswa Muslim yang tersebar di 317.520 sekolah umum di seluruh Indonesia.

Untuk menunjang mandat besar tersebut, negara terus memacu profesionalisme pendidik. Hingga tahun ini, tercatat 90,2 persen guru PAI telah bersertifikat pendidik. Sementara itu, 9,8 persen atau sekitar 25.880 guru lainnya menjadi prioritas utama untuk dituntaskan melalui skema Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan afirmasi kualifikasi pada tahun mendatang.

Selain kompetensi, aspek kesejahteraan tetap menjadi prioritas melalui pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG). Langkah ini dipandang krusial untuk menjaga kesinambungan peran guru sebagai jangkar etika sosial di ekosistem pendidikan.

Direktorat PAI juga mencatatkan lompatan signifikan dalam ranah teknologi dan penguatan literasi. Beberapa capaian inovatif di tahun 2025 meliputi Smart PAI yang meluncurkan 40 buku PAI berbasis digital dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) yang dapat diakses oleh jutaan siswa dan mahasiswa.

Lalu, Gerakan Bebas Buta Huruf Al-Qur’an dengan melaksanakan Asesmen Tuntas Baca Al-Qur’an (TBQ) di enam provinsi yang didukung oleh platform digital CintaQu dan penjaminan mutu dari Universitas PTIQ.

Capaian ketiga, asesmen nasional literasi PAI dengan memetakan mutu pembelajaran berbasis data objektif yang mengukur aspek kognitif hingga afektif siswa dan guru.

Membangun Ekosistem Moderasi Generasi Muda

Direktur Pendidikan Agama Islam, M. Munir, menjelaskan bahwa seluruh program dirancang dalam satu ekosistem yang terhubung, bukan sekadar agenda seremonial yang terpisah-pisah.

“Kami mendorong agar nilai agama benar-benar hidup dalam praktik keseharian, mulai dari sekolah moderasi, kantin halal, hingga kultur keagamaan yang sehat melalui Rohis dan pergerakan mahasiswa,” kata Munir.

Beberapa tonggak sejarah baru bagi generasi muda juga terbentuk pada 2025, di antaranya penyelenggaraan Kongres Rohis Nasional I, pembentukan Duta Wakaf Sekolah dari 34 provinsi, hingga Kongres Pergerakan Mahasiswa Moderasi Beragama dan Bela Negara (PMMBN). (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya