Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH video viral di media sosial yang menunjukkan seorang anak Gaza, Palestina tengah menjalani operasi luka sobek di bagian kaki kirinya. Tanpa obat bius, sang anak menjalani operasi sambil membaca Al-Qur'an.
"Tanpa anestesi atau bahkan listrik, seorang anak membaca Al-Qur'an sementara dokter menjahit lukanya," demikian caption yang tertulis di video tersebut.
Video yang dibagikan di akun Instagram @palestine.pixel itu menyedot perhatian banyak warga net. Sejak diunggah enam jam lalu, video tersebut sudah diputar oleh lebih dari 10 ribu orang.
Baca juga : 6 Rumah Sakit di Gaza Tutup karena Kekurangan Bahan Bakar
Meski terlihat dari wajahnya, rasa takut dan kesakitan, anak laki-laki yang mengenakan jaket tersebut tampak tegar dan tenang. Tubuhnya tidak bergerak atau memberontak, saat dokter menjahit luka yang menganga di kakinya.
Operasi yang dilakukan tanpa menggunakan anestesi atau obat bius terpaksa dilakukan oleh tenaga medis di Gaza lantaran kosongnya stok gudang obat. Begitu juga dengan ketersediaan bahan bakar untuk menghidupkan sejumlah alat penunjang kedokteran.
Para dokter pun harus menjatuhkan keputusan sulit, yakni dengan melakukan operasi tanpa obat bius.
Baca juga : 5 Jasad Bayi Prematur Palestina Ditemukan Membusuk di RS Al Nasr, Ini Kronologinya
Selain kehabisan obat bius, Gaza juga mengalami krisis obat untuk sejumlah penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, obat kejang hingga obat cuci darah.
Karena tak ada listrik, para dokter juga terpaksa menggunakan cahaya dari ponsel genggam saat mengoperasi pasien. Hal itu dilakukan sejak dua hari lalu, tepatnya pada Jumat (20/10).
Tidak ada tempat tidur untuk ICU bahkan inkubator bayi. Padahal setiap harinya, banyak ibu hamil yang melahirkan di Gaza. Jumlahnya mencapai ratusan.
Baca juga : Gaza Malam Ini Seperti Kota Mati, 1.385 Syahid dan 6.229 Terluka
Pada Minggu (22/10), PBB mengatakan, nyawa sedikitnya 120 bayi baru lahir yang berada di inkubator rumah sakit di Gaza yang dilanda perang terancam karena kehabisan bahan bakar di wilayah kantong yang terkepung tersebut.
“Saat ini kami memiliki 120 bayi baru lahir yang berada di inkubator, dan 70 bayi di antaranya dilengkapi dengan ventilasi mekanis, dan tentu saja hal ini sangat kami khawatirkan,” kata juru bicara UNICEF Jonathan Crickx.
Listrik adalah salah satu kekhawatiran utama bagi tujuh bangsal spesialis di Gaza yang merawat bayi prematur untuk membantu pernapasan dan memberikan dukungan penting, misalnya ketika organ mereka belum cukup berkembang.
Baca juga : WHO Kirim Bahan Bakar ke Rumah Sakit di Gaza Utara Palestina
Israel memerintahkan blokade penuh terhadap wilayah tersebut setelah serangan Hamas pada 7 Oktober ke wilayah Israel.
WHO mengatakan sekitar 1.000 orang yang membutuhkan dialisis untuk cuci darah juga akan berisiko jika generator berhenti beroperasi.
Ada 20 truk bantuan menyeberang dari Mesir ke Gaza pada hari Sabtu (21/10), tetapi tidak ada bahan bakar dalam kiriman tersebut.
Baca juga : Tentara Israel Telanjangi Puluhan Orang di Dalam RS Al Shifa Gaza, Interogasi Paramedis
Alasan Israel, mereka khawatir bahan bakar dapat membantu Hamas, meskipun pasokan terbatas yang masih ada di Gaza dialihkan agar generator peralatan medis tetap beroperasi.
“Jika mereka (bayi) dimasukkan ke dalam inkubator ventilasi mekanis, menurut definisi, jika listrik padam, kami khawatir dengan nyawa mereka,” kata juru bicara UNICEF kepada AFP.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan, sebanyak 130 bayi prematur berada dalam bahaya kematian karena kekurangan bahan bakar.
Baca juga : Puluhan Bayi Prematur Gaza Menangis, Berjuang Hidup di Luar Inkubator
Sekitar 160 perempuan melahirkan setiap hari di Gaza, menurut Dana Kependudukan PBB, yang memperkirakan ada 50.000 perempuan hamil di wilayah berpenduduk 2,4 juta orang.
Meskipun Israel mengatakan serangannya ditujukan pada Hamas, nyatanya korban jatuh dari warga sipil. Seluruh keluarga, termasuk perempuan hamil, tewas dalam serangan dan setiap hari orang tua terlihat di jalan-jalan yang hancur membawa jenazah bayi dalam kain kafan putih. (AFP/Z-4)
Kepala Staf Gabungan Angkatan Udara AS Jenderal Dan Caine menyatakan operasi gabungan AS-Israel di Iran bertujuan melindungi diri dan mitra regional, mencegah proyeksi kekuatan Iran.
Jenderal Dan Caine menyatakan operasi gabungan AS-Israel di Iran bukan misi semalam dan memperkirakan kerugian tambahan bagi pasukan AS.
ANGGOTA Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Amelia Anggraini, menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi serangan antara Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran.
Tentara Israel mengumumkan pembunuhan Hussein Makled, kepala intelijen Hizbullah, di Beirut. Militer AS melaporkan anggota keempat tewas akibat luka-luka dalam operasi melawan Iran
Korps Garda Revolusi Iran menargetkan kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan markas Angkatan Udara Israel dengan rudal Khyber.
Serangan udara Israel-AS di Teheran dan sejumlah wilayah Iran menewaskan 555 orang, termasuk siswa dan tentara. Iran membalas dengan rudal Khayber Shiken ke Tel Aviv, Haifa.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved