Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH video viral di media sosial yang menunjukkan seorang anak Gaza, Palestina tengah menjalani operasi luka sobek di bagian kaki kirinya. Tanpa obat bius, sang anak menjalani operasi sambil membaca Al-Qur'an.
"Tanpa anestesi atau bahkan listrik, seorang anak membaca Al-Qur'an sementara dokter menjahit lukanya," demikian caption yang tertulis di video tersebut.
Video yang dibagikan di akun Instagram @palestine.pixel itu menyedot perhatian banyak warga net. Sejak diunggah enam jam lalu, video tersebut sudah diputar oleh lebih dari 10 ribu orang.
Baca juga : 6 Rumah Sakit di Gaza Tutup karena Kekurangan Bahan Bakar
Meski terlihat dari wajahnya, rasa takut dan kesakitan, anak laki-laki yang mengenakan jaket tersebut tampak tegar dan tenang. Tubuhnya tidak bergerak atau memberontak, saat dokter menjahit luka yang menganga di kakinya.
Operasi yang dilakukan tanpa menggunakan anestesi atau obat bius terpaksa dilakukan oleh tenaga medis di Gaza lantaran kosongnya stok gudang obat. Begitu juga dengan ketersediaan bahan bakar untuk menghidupkan sejumlah alat penunjang kedokteran.
Para dokter pun harus menjatuhkan keputusan sulit, yakni dengan melakukan operasi tanpa obat bius.
Baca juga : 5 Jasad Bayi Prematur Palestina Ditemukan Membusuk di RS Al Nasr, Ini Kronologinya
Selain kehabisan obat bius, Gaza juga mengalami krisis obat untuk sejumlah penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, obat kejang hingga obat cuci darah.
Karena tak ada listrik, para dokter juga terpaksa menggunakan cahaya dari ponsel genggam saat mengoperasi pasien. Hal itu dilakukan sejak dua hari lalu, tepatnya pada Jumat (20/10).
Tidak ada tempat tidur untuk ICU bahkan inkubator bayi. Padahal setiap harinya, banyak ibu hamil yang melahirkan di Gaza. Jumlahnya mencapai ratusan.
Baca juga : Gaza Malam Ini Seperti Kota Mati, 1.385 Syahid dan 6.229 Terluka
Pada Minggu (22/10), PBB mengatakan, nyawa sedikitnya 120 bayi baru lahir yang berada di inkubator rumah sakit di Gaza yang dilanda perang terancam karena kehabisan bahan bakar di wilayah kantong yang terkepung tersebut.
“Saat ini kami memiliki 120 bayi baru lahir yang berada di inkubator, dan 70 bayi di antaranya dilengkapi dengan ventilasi mekanis, dan tentu saja hal ini sangat kami khawatirkan,” kata juru bicara UNICEF Jonathan Crickx.
Listrik adalah salah satu kekhawatiran utama bagi tujuh bangsal spesialis di Gaza yang merawat bayi prematur untuk membantu pernapasan dan memberikan dukungan penting, misalnya ketika organ mereka belum cukup berkembang.
Baca juga : WHO Kirim Bahan Bakar ke Rumah Sakit di Gaza Utara Palestina
Israel memerintahkan blokade penuh terhadap wilayah tersebut setelah serangan Hamas pada 7 Oktober ke wilayah Israel.
WHO mengatakan sekitar 1.000 orang yang membutuhkan dialisis untuk cuci darah juga akan berisiko jika generator berhenti beroperasi.
Ada 20 truk bantuan menyeberang dari Mesir ke Gaza pada hari Sabtu (21/10), tetapi tidak ada bahan bakar dalam kiriman tersebut.
Baca juga : Tentara Israel Telanjangi Puluhan Orang di Dalam RS Al Shifa Gaza, Interogasi Paramedis
Alasan Israel, mereka khawatir bahan bakar dapat membantu Hamas, meskipun pasokan terbatas yang masih ada di Gaza dialihkan agar generator peralatan medis tetap beroperasi.
“Jika mereka (bayi) dimasukkan ke dalam inkubator ventilasi mekanis, menurut definisi, jika listrik padam, kami khawatir dengan nyawa mereka,” kata juru bicara UNICEF kepada AFP.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan, sebanyak 130 bayi prematur berada dalam bahaya kematian karena kekurangan bahan bakar.
Baca juga : Puluhan Bayi Prematur Gaza Menangis, Berjuang Hidup di Luar Inkubator
Sekitar 160 perempuan melahirkan setiap hari di Gaza, menurut Dana Kependudukan PBB, yang memperkirakan ada 50.000 perempuan hamil di wilayah berpenduduk 2,4 juta orang.
Meskipun Israel mengatakan serangannya ditujukan pada Hamas, nyatanya korban jatuh dari warga sipil. Seluruh keluarga, termasuk perempuan hamil, tewas dalam serangan dan setiap hari orang tua terlihat di jalan-jalan yang hancur membawa jenazah bayi dalam kain kafan putih. (AFP/Z-4)
PEMERINTAH Jerman mengecam keras langkah Kabinet Israel yang memperluas otoritas sipil di Tepi Barat.
GELOMBANG kecaman internasional kembali menghantam Israel setelah pemerintahnya mengesahkan aneksasi ilegal di Tepi Barat.
Kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog ke Australia berujung kericuhan. Polisi tangkap 27 demonstran di Sydney di tengah tuduhan kekerasan aparat.
Langkah baru Israel perketat kontrol di Tepi Barat menuai kecaman global. Kebijakan ini dinilai melanggar hukum internasional dan mematikan solusi dua negara.
PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggunakan fokus yang kembali tertuju pada berkas Epstein untuk menyerang pendahulunya, Ehud Barak.
MENURUT dokumen FBI tahun 2020, Jeffrey Epstein dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak dan dilatih sebagai mata-mata di bawah arahannya.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved