Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
GERAKAN Hizbullah Libanon yang didukung Iran pada Jumat (13/10) mengatakan mereka akan sepenuhnya siap untuk bergabung dengan sekutunya, Hamas, dalam perang melawan Israel ketika waktunya tepat.
Wakil Ketua Hizbullah Naim Qassem berbicara ketika Hamas dan Israel saling baku tembak untuk hari ketujuh, setelah ratusan anggota bersenjata Hamas menyerbu melintasi perbatasan dari Gaza ke Israel pada hari Sabtu dan menewaskan lebih dari 1.300 orang.
Israel membalas dengan menghujani serangan udara dan artileri terhadap sasaran Hamas di Jalur Gaza menewaskan sedikitnya 1.537 orang.
Baca juga: Iran: AS Harus Kendalikan Israel untuk Hindari Perang Regional
"Kami, sebagai Hizbullah, berkontribusi terhadap konfrontasi dan akan (terus) berkontribusi sesuai visi dan rencana kami," kata Qassem pada rapat umum pro-Palestina di pinggiran selatan Beirut.
"Kami sepenuhnya siap dan ketika tiba waktunya untuk mengambil tindakan, kami akan mengambil tindakan," ujarnya.
Baca juga: Israel Peringatkan 1,1 Juta Warga Gaza untuk Segera Pindah ke Selatan
Pejabat tersebut, yang pernyataannya bertepatan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Iran ke Beirut, menolak seruan agar Hizbullah tidak terlibat dalam perang.
Upaya yang dilakukan oleh, "Negara-negara besar, negara-negara Arab, dan utusan PBB, secara langsung dan tidak langsung, meminta kami untuk tidak ikut campur dalam pertempuran, tidak akan mempengaruhi kami," katanya seraya menambahkan bahwa, "Hizbullah tahu tugasnya."
Israel telah saling baku tembak dengan Hizbullah dan faksi-faksi Palestina yang bersekutu di Libanon dalam beberapa hari terakhir, meskipun serangan balasan masih terbatas.
Pada Senin, Hizbullah mengatakan serangan Israel menewaskan tiga anggotanya. Sementara pejuang Palestina mengklaim upaya infiltrasinya gagal.
Israel mengatakan pihaknya menyerang pos pengamatan Hizbullah pada Selasa. Sayap bersenjata Hamas mengaku menembakkan roket.
Pada Rabu, Hizbullah mengatakan pihaknya menargetkan posisi Israel di dekat desa Dhayra. Tembakan balasan Israel tak lama kemudian melukai tiga orang dan mengubah Dhayra menjadi kota hantu. (AFP/Z-2)
Israel mengatakan pihaknya tidak menargetkan tentara Libanon karena pertempuran mereka bukan dengan mereka, melainkan dengan Hizbullah.
Israel pertimbangkan mobilisasi 450 ribu pasukan cadangan untuk menghadapi eskalasi konflik dengan Libanon, termasuk opsi operasi darat.
SERANGAN roket menghantam Israel pada Senin (16/3). Delapan orang dilaporkan terluka. Serangan tersebut disebut diluncurkan oleh Hizbullah dari Libanon serta oleh Iran.
Israel meluncurkan gelombang serangan udara baru ke Beirut dan wilayah selatan Lebanon. Lebih dari satu juta orang dilaporkan mengungsi dalam dua minggu terakhir.
Pasukan Zionis kemudian melakukan serangan ke sejumlah titik di Libanon, antara lain Beirut selatan serta wilayah Libanon selatan dan timur.
Konflik memuncak! Iran dan Hizbullah luncurkan gelombang rudal ke Israel.
Presiden Donald Trump memperpanjang jeda serangan ke fasilitas energi Iran selama 10 hari. Sementara itu, IAEA peringatkan risiko radiasi nuklir di Bushehr.
Ia menambahkan rancangan awal telah disiapkan, meski belum menjadi proposal resmi.
Teheran menyatakan bahwa kapal dari negara selain AS dan Israel tetap dapat melintasi Selat Hormuz.
Ketua Parlemen Iran Qalibaf mengancam bakal menyerang infrastruktur vital negara kawasan jika terbukti membantu musuh menduduki salah satu pulau strategis milik Iran.
Warga AS kini mengurangi belanja makanan untuk menutupi biaya bahan bakar yang melonjak tajam setelah Selat Hormuz diblokade oleh Iran.
Wisma Putra juga menyatakan perkembangan terbaru itu memerlukan pembahasan yang komprehensif, cermat, dan terkoordinasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved