Senin 25 April 2022, 16:05 WIB

Israel Janji Tetap Berkomitmen atas Status Tempat Suci Jerusalem

Mediaindonesia.com | Internasional
Israel Janji Tetap Berkomitmen atas Status Tempat Suci Jerusalem

AFP/Ahmad Gharabli.
Warga Palestina berdemonstrasi setelah salat Jumat yang ketiga Ramadhan di kompleks Masjid Al-Aqsa.

 

MENTERI Luar Negeri Israel Yair Lapid mengatakan pada Minggu (24/4) bahwa Israel berkomitmen pada status quo yang mencegah orang Yahudi berdoa di kompleks masjid Al-Aqsa Jerusalem. Pasalnya, kawasan ini menjadi pusat bentrokan  yang berulang sejak lama.

Komentarnya itu menyusul kekerasan di Israel dan wilayah-wilayah Palestina yang menewaskan 38 orang sejak akhir Maret. Ketegangan itu semakin dipicu oleh bentrokan di Jerusalem dan saling kirim rudal antara Israel dan kantung Palestina Jalur Gaza.

"Orang-orang Islam beribadah di Gunung Kuil (Temple Mount). Non-Muslim hanya berkunjung," kata Lapid. Ia menggunakan istilah Yahudi untuk kompleks masjid al-Aqsa di Jerusalem Timur yang dianeksasi Israel, tempat paling suci di Yudaisme dan ketiga dihormati dalam Islam.

Muslim Palestina marah akibat kunjungan warga Yahudi ke kompleks Al-Aqsa. Pasalnya, dalam konvensi lama orang Yahudi dapat mengunjungi tempat itu tetapi tidak diizinkan untuk beribadah.

"Tidak ada perubahan, tidak akan ada perubahan. Kami tidak memiliki rencana untuk membagi Temple Mount di antara agama-agama," kata Lapid kepada wartawan.

Para pengunjuk rasa Palestina berulang kali bentrok dengan polisi antihuru-hara Israel di kompleks al-Aqsa sejak pertengahan bulan itu. Ini membuat ratusan orang terluka ketika bulan suci Muslim Ramadan bertepatan dengan Paskah Yahudi.

Baca juga: Umat Kristen Protes Pembatasan Kehadiran Api Kudus di Israel

Serangan oleh Palestina dan Arab Israel sejak akhir Maret menewaskan 14 orang di Israel. Di sisi lain, 24 warga Palestina tewas, termasuk pelaku serangan dan dalam penggerebekan oleh pasukan keamanan Israel di Tepi Barat yang dijajah.

Biden diundang

Minggu malam, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett berbicara dengan Presiden AS Joe Biden. Ia menyampaikan perkembangan tentang, "Upaya menghentikan kekerasan dan hasutan di Jerusalem," ungkap pernyataan dari kantor perdana menteri itu.

Biden menerima undangan sebelumnya oleh Bennett untuk mengunjungi Israel. Ia mengatakan selama panggilan telepon itu bahwa ia akan melakukan hal tersebut dalam bulan-bulan mendatang.

Pejabat dan militan Palestina berulang kali menuduh Israel berusaha untuk membagi al-Aqsa menjadi bagian Yahudi dan Muslim. Ini seperti situs suci sensitif lain di Hebron. Mereka menyuarakan kemarahan pada serangan berulang oleh pasukan keamanan Israel ke kompleks masjid.

Baca juga: Sekjen PBB Bahas Ketegangan Jerusalem dengan Pemimpin Israel-Palestina

Namun Lapid menuduh Hamas yang mengatur Gaza dan Jihad Islam mengirim anggotanya dengan senjata dan bahan peledak untuk menggunakan kompleks al-Aqsa, "Sebagai basis untuk menghasut kerusuhan dengan kekerasan. Satu-satunya alasan polisi memasuki masjid dalam beberapa minggu terakhir untuk menghilangkan kerusuhan itu," tambahnya.

Penyeberangan

Minggu malam, sumber Israel mengatakan kepada AFP dengan syarat anonim bahwa penyeberangan akan tetap ditutup pada Senin (25/4) juga. Menteri Pertahanan Benny Gantz memperingatkan kelompok yang disebutnya berbuat teror bahwa situasi ekonomi, warga sipil, dan militer tidak stabil akan merasakan kerugian oleh kerusuhan apa pun.

Analis Ofer Zalzberg mencatat bahwa orang-orang Palestina telah marah dengan laporan di media sosial bahwa Israel memutuskan untuk membagi kompleks masjid al-Aqsa. "Ketakutan ada di sana dan sangat penting apakah itu benar atau tidak," kata Zalzberg, Kepala Timur Tengah di Herbert C Kelman Institute.

Dia mengatakan Hamas ingin menghindari eskalasi setelah diserang Israel selama perang tahun lalu. Namun mereka, lanjutnya, melihat ketegangan di Al-Aqsa sebagai peluang ideologis untuk membuat kemajuan dengan Tepi Barat dan Jerusalem.

Baca juga: Ganti Strategi, Israel Tutup Penyeberangan dari Gaza Mulai Besok

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi bertemu pada Minggu dengan Raja Jordan Abdullah II dan Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed di Kairo. Mereka membahas situasi di Jerusalem, menurut juru bicara Sisi.

Para pemimpin dari tiga negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel itu mendesak lebih lanjut upaya untuk memulihkan ketenangan dan melestarikan status quo di Al-Aqsa. Mereka juga menyerukan Israel untuk berhenti melakukan perbuatan yang merusak prospek untuk solusi dua negara. (OL-14)

Baca Juga

Andreas SOLARO / AFP

Harga Energi Italia Membuat 120 Ribu Usaha Kecil Terancam Bangkrut

👤Cahya Mulyana 🕔Selasa 27 September 2022, 11:25 WIB
Harga energi di Italia naik signifikan yang mengancam kelangsungan sektor usaha kecil dan jasa. Jumlahnya mencapai 120ribu...
kemlu.go.id

Indonesia Desak Pelucutan 13 Ribu Senjata Nuklir

👤Cahya Mulyana 🕔Selasa 27 September 2022, 11:20 WIB
"Mekanisme pelucutan senjata global perlu diperkuat dan pemanfaatan energi nuklir untuk keperluan damai harus terus...
AFP

Putin Sahkan Status Snowden sebagai Warga Rusia

👤Cahya Mulyana 🕔Selasa 27 September 2022, 10:18 WIB
PRESIDEN Vladimir Putin telah memberikan kewarganegaraan Rusia kepada mantan kontraktor keamanan Amerika Serikat (AS), Edward...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya