Selasa 22 Maret 2022, 17:17 WIB

Junta Myanmar Tahan Ratusan Anak tanpa Alasan Jelas

Cahya Mulyana | Internasional
Junta Myanmar Tahan Ratusan Anak tanpa Alasan Jelas

AFP
Aparat bersiap menghadang demonstran yang menentang kepemimpinan junta Myanmar.

 

JUNTA militer Myanmar telah menahan ratusan anak, sejak mengambil alih kekuasan dari pemerintahan Aung San Suu Kyi. Ratusan anak berada di tahanan kepolisian dan militer, tanpa alasan berikut proses hukum yang jelas.

Menteri Kementerian Perempuan, Pemuda dan Anak Myanmar, bentukan penentang junta, Naw Susanna Hla Hla Soe, menyebut ada 287 anak yang ditahan. Mereka berusia di bawah 18 tahun dan sudah ditahan sehak 1 Februari 2021 lalu. Sejumlah anak ditahan di kantor polisi, lalu sebagian di slembaga pemasyarakatan.

Kemudian, terdapat 80 anak usia sekolah atau di bawah 12 tahun yang ditahan selama 36 jam di sebuah biara Buddha wilayah Sagaing. Daerah itu menjadi sasaran penyerangan junta militer, karena banyak pendukung pemerintahan yang sah.

Baca juga: AS Tetapkan Myanmar Lakukan Genosida terhadap Rohingya

Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi, yang digulingkan junta militer, turut menjadi korban. Putranya yang berusia 28 tahun, Chan Tar, diduga dibunuh tentara junta Myanmar.

"Anak-anak tidak melakukan kesalahan, tetapi militer mencoba menangkap mereka, termasuk aktivis," ungkap Naw.

Menurutnya, junta militer menjadikan anak-anak sebagai sandera, dengan tujuan menangkap keluarga pendukung Aung San Suu Kyi. “Ketika mereka tidak dapat menemukan target, mereka menangkap anak-anak sebagai tebusan. Mereka juga meminta aktivis datang dengan tebusan anak-anak,” imbuhnya.

Baca juga: Pakar HAM PBB: Tiongkok-Rusia Pasok Senjata untuk Junta Myanmar

UNICEF melaporkan ratusan remaja telah ditahan junta militer Myanmar. Pada tahun lalu, sekitar 1.000 anak dan remaja berusia hingga 25 tahun telah ditahan militer, tanpa alasan yang jelas.

PBB menegaskan bahwa penahanan anak merupakan kejahatan kedua junta militer, setelah kudeta. Junta militer juga telah menenbar teror kepada masyarakat yang pro terhadap demokrasi di Myanmar.(Guardian/OL-11)

Baca Juga

AFP/Mihai Barbu

Antisipasi Ancaman Rusia, NATO Bangun Kekuatan Baru

👤Cahya Mulyana 🕔Kamis 30 Juni 2022, 09:57 WIB
Pasukan tempur di bagian timur aliansi hingga tingkat brigade ditingkatkan. Sebuah brigade memiliki sekitar 3.000 hingga 5.000...
AFP/EVARISTO SA

Pengadilan Banding Naikan Denda Kompensasi yang Harus Dibayarkan Bolsonaro ke Wartawati

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 30 Juni 2022, 09:15 WIB
Kasus itu berawal pada Februari 2020 ketika Bolsonaro menuding Campos Melo menawarkan imbalan seks kepada sejumlah narasumber untuk...
AFP/GRIGORY SYSOYE

Putin Tuduh NATO Ambil Untung dari Konflik di Ukraina

👤Cahya Mulyana 🕔Kamis 30 Juni 2022, 09:09 WIB
Putin mengatakan hubungan Moskow dengan Helsinki dan Stockholm dipastikan akan memburuk karena status baru kedua negara di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya