Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

20 Tahun Penahanan Aung San Suu Kyi: Masihkah Sang Ikon Dibutuhkan Myanmar?

Thalatie K Yani
15/1/2026 07:00
20 Tahun Penahanan Aung San Suu Kyi: Masihkah Sang Ikon Dibutuhkan Myanmar?
Aung San Suu Kyi kini genap 20 tahun dalam tahanan. Di tengah kondisi kesehatan yang misterius, mampukah "The Lady" mengakhiri perang saudara di Myanmar?(AFP)

HARI Rabu (14/1) menandai tonggak sejarah kelam bagi ikon demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi. Ia kini telah menghabiskan total 20 tahun dalam tahanan, dengan lima tahun terakhir dijalaninya sejak pemerintahan sipilnya digulingkan melalui kudeta militer pada Februari 2021.

Hingga saat ini, kondisi kesehatan dan lingkungan tempat tinggal peraih Nobel Perdamaian tersebut masih diselimuti misteri. Ia diyakini mendekam di penjara militer di ibu kota Nay Pyi Taw tanpa akses ke pengacara selama dua tahun terakhir.

"Sepanjang yang saya tahu, dia bisa saja sudah mati," ujar putranya, Kim Aris, bulan lalu. Namun, juru bicara junta militer bersikeras bahwa Suu Kyi dalam keadaan sehat.

Harapan di Tengah Kebuntuan

Meski menghilang dari pandangan publik, pengaruh Suu Kyi, yang akrab disapa "The Lady" atau "Amay Su" (Ibu Su), tetap kuat. Seruan untuk pembebasannya terus bergema di tengah perang saudara yang telah menghancurkan ekonomi dan stabilitas Myanmar selama lima tahun terakhir.

Banyak pihak mulai bertanya, mampukah sosok berusia 80 tahun ini kembali menjadi jembatan perdamaian antara militer dan rakyat? Skenario ini pernah terjadi pada 2010, saat militer membebaskannya setelah 50 tahun berkuasa. Kala itu, Suu Kyi berhasil memimpin transisi demokrasi yang tampak ajaib bagi dunia luar.

Perbedaan Situasi: 2010 vs 2026

Namun, tantangan saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan era reformasi 2010. Jika dulu terdapat faksi perwira junior yang terbuka pada kompromi politik, kini tampaknya tidak ada ruang bagi pemikiran reformis di dalam tubuh junta pimpinan Jenderal Min Aung Hlaing.

Kekerasan ekstrem yang dilakukan militer untuk menumpas protes pasca-kudeta telah mendorong generasi muda Myanmar mengangkat senjata. Keyakinan Suu Kyi pada perjuangan non-kekerasan mulai ditinggalkan oleh perlawanan bersenjata yang bertekad menghapus peran militer sepenuhnya dari politik.

Reputasi yang Ternoda

Citra internasional Suu Kyi juga tidak lagi seharum dulu. Keputusannya membela militer Myanmar atas tuduhan genosida terhadap etnis Rohingya di Mahkamah Internasional (ICJ) pada 2017 telah menodai reputasi "suci"-nya di mata dunia. Meski di dalam negeri ia tetap populer, aktivis muda kini mulai berani mengkritik gaya kepemimpinannya di masa lalu.

Walaupun kekuatan fisiknya mulai meredup di usia senja, sulit dipungkiri bahwa tidak ada tokoh lain di Myanmar yang memiliki kaliber setara dengannya. Sejarah panjang perjuangannya melawan kediktatoran menjadikannya simbol harapan bagi masa depan yang lebih bebas. Bagi banyak pihak, Suu Kyi tetaplah kunci yang dibutuhkan Myanmar untuk memecah kebuntuan konflik yang berkepanjangan ini. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya