Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
PEJABAT senior Kerajaan Arab Saudi melancarkan serangan tajam terhadap Israel. Komentar tajamnya mengisyaratkan ketegangan di kerajaan mengenai mereka harus mulai meresmikan hubungan dengan negara Yahudi itu atau tidak.
Mantan Kepala Intelijen Saudi yang dekat dengan Raja Salman, Pangeran Turki al-Faisal, menuduh Israel sebagai kekuatan penjajah barat terakhir di Timur Tengah. Ini ditegaskannya dalam pidato pada konferensi regional di Bahrain saat dia berpartisipasi di panel bersama dengan Menteri Luar Negeri Israel Gabi Ashkenazi.
Komentarnya muncul dua minggu setelah Arab Saudi merasa malu setelah rincian pertemuan rahasia di kerajaan antara Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan perdana menteri Benjamin Netanyahu bocor ke pers Israel.
Baca juga: Keluarga Ceritakan Saat Terakhir Remaja Palestina sebelum Tewas
Dia merupakan pejabat Israel pertama yang berbicara di Manama Dialogue, konferensi keamanan tahunan. Partisipasinya dimungkinkan setelah Bahrain mengikuti Uni Emirat Arab dalam menyetujui untuk menormalisasi hubungan dengan Israel pada September.
Bahrain dan UEA tergolong sekutu dekat Arab Saudi. Karenanya, spekulasi telah tersebar luas tentang kerajaan akan mengikuti langkah sekutu tersebut.
Baca juga: Syarat Saudi jika Israel Ingin Normalisasi Hubungan
Setelah mengkritik Israel karena perlakuannya terhadap Palestina dan menduduki tanah Arab, Pangeran Turki berkata, "Kami telah mendengar dalam banyak kesempatan dari Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman bahwa negara Palestina dengan ibu kotanya di Yerusalem Timur dan solusi adil bagi pengungsi Palestina merupakan satu-satunya pilihan damai bagi kita semua."
Kerajaan itu merupakan arsitek dari inisiatif Arab tahun 2002 yang berkeras bahwa Israel harus menarik diri dari wilayah yang diduduki dalam perang 1967 dan menyetujui pembentukan negara Palestina yang layak sebelum hubungan dinormalisasi.
Inisiatif tetap pada posisi formal Liga Arab. Tapi para analis mengatakan hal itu telah dirusak oleh keputusan UEA dan Bahrain untuk menormalisasi hubungan dengan Israel tanpa negara Yahudi itu menyerahkan kendali atas wilayah yang diduduki.
Beberapa minggu setelah penandatanganan perjanjian dengan kedua negara Teluk tersebut, Israel menyetujui pembangunan 5.000 rumah di permukiman ilegal di wilayah pendudukan.
Baca juga: Pejabat Saudi dan Israel Akui Netanyahu Temui Muhammad bin Salman
Pangeran Turki juga menuduh pemerintah Israel berturut-turut menawarkan persahabatan ke Arab Saudi sambil melepaskan antek politik dan pemburu media dari semua negara untuk merendahkan dan menjelekkan Arab Saudi.
Saat ditanya, Pangeran Turki mengatakan komentarnya bukanlah cerminan dari perbedaan pendapat di kerajaan.
Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan pada konferensi pada Sabtu bahwa Riyadh sepenuhnya terbuka untuk normalisasi penuh dengan Israel. "Tapi agar itu terjadi dan agar berkelanjutan, kami membutuhkan Palestina untuk mendapatkan negara mereka dan kami perlu menyelesaikan situasi itu," katanya.
Pakar Timur Tengah di Institut Internasional untuk Kajian Strategis, yang menyelenggarakan konferensi tersebut, Emile Hokayem, mengatakan kebijakan luar negeri Saudi jauh kurang fleksibel dibandingkan dengan negara-negara Teluk yang lebih kecil. Dia menambahkan bahwa biaya politik dan reputasi dari pembalikan kebijakan jauh lebih tinggi untuk kerajaan.
Mengutip dari Times of Israel, ucapan Pangeran Turki sangat pedas. "Pemerintah Israel telah menangkap ribuan penduduk di tanah mereka yang dijajah negeri Yahudi tersebut dan memenjarakan mereka di kamp konsentrasi di bawah tuduhan keamanan yang sangat lemah. Orang tua dan muda, wanita dan pria membusuk di sana tanpa bantuan atau keadilan," kata Turki.
"Mereka menghancurkan rumah sesuka mereka dan mereka membunuh siapa pun yang mereka inginkan. Namun, Knesset Israel mengeluarkan undang-undang yang mendefinisikan kewarganegaraan Israel secara eksklusif hanya orang Yahudi. Ini menyangkal hak yang sama bagi penduduk non-Yahudi di Israel dalam hukum. Demokrasi macam apa itu?" Dia juga menyesali pembangunan Israel atas tembok keamanan Tepi Barat yang disebutnya tembok apartheid. (OL-14)
Iran bantah serang Kedubes AS di Riyadh. Pangeran Turki al-Faisal sebut konflik Iran-Israel sebagai pengalihan isu atas tindakan kriminal Israel di Palestina.
Mereka juga menegaskan kembali komitmen mereka untuk mencegah wilayah Irak digunakan sebagai titik awal serangan terhadap negara-negara tetangga.
Pejabat Iran klaim Mossad dalangi serangan drone ke kilang minyak Ras Tanura Saudi untuk memicu perang regional. Simak rincian tuduhan Teheran di sini.
Selly pun menekankan agar pemerintah memberikan perhatian serius kepada jemaah umrah mandiri yang berpotensi tidak terdata secara menyeluruh oleh pemerintah.
Tengku Mohd Dzaraif mengatakan sebagian besar jamaah haji yang terlantar dijadwalkan pulang menggunakan penerbangan Malaysia Airlines.
Jemaah yang bisa masuk ke kawasan Timur Tengah dikhawatirkan tidak bisa keluar dari wilayah tersebut sampai waktu yang telah ditentukan.
Serangan Israel di Khan Younis tewaskan satu warga & lukai anak kecil. Pelanggaran gencatan senjata ini menambah daftar korban tewas menjadi 636 jiwa di Jalur Gaza.
Delapan tentara Israel terluka, termasuk putra Menteri Keuangan Smotrich, akibat serangan roket. Israel balas dengan menggempur Beirut secara besar-besaran.
Israel meningkatkan intensitas serangan udara ke wilayah Libanon pada Jumat waktu setempat, termasuk rangkaian serangan besar di distrik Baalbek.
Tiga personel pasukan perdamaian PBB terluka setelah markas mereka di Libanon selatan dihantam serangan yang diduga dilancarkan Israel.
Kementerian Kesehatan Libanon mengatakan serangan Israel di negara itu sejak Senin telah menewaskan total 217 orang, yang sebagian besar adalah warga sipil.
Jika dipadukan dengan serangan terhadap bangunan tempat tinggal, Israel menambah kesengsaraan dan penderitaan pada penduduk sipil yang sudah lelah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved