Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
MASYARAKAT diimbau untuk lebih waspada terhadap kandungan gula dalam minuman kemasan. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., mengungkapkan bahwa satu botol kecil minuman berpemanis dapat menyumbang hampir setengah dari batas konsumsi gula harian yang dianjurkan.
Nadia memaparkan bahwa satu sajian 250 mililiter minuman berpemanis rata-rata mengandung 22,8 gram gula.
Angka tersebut tergolong tinggi mengingat Kemenkes menetapkan batas konsumsi gula maksimal sebesar 50 gram atau setara empat sendok makan per orang per hari.
“Minum satu botol kecil saja, hampir setengah dari batas gula harian sudah terpenuhi. Padahal kita masih makan dan minum yang lain,” kata Nadia, dikutip Minggu (29/3).
Data Riskesdas 2018 memperkuat urgensi peringatan ini dengan menunjukkan bahwa sekitar 60% penduduk Indonesia mengonsumsi minimal satu jenis minuman manis setiap hari. Jumlah ini belum menjumlahkan asupan gula dari sumber makanan lainnya.
Nadia menjelaskan bahwa konsumsi gula berlebihan berkaitan erat dengan peningkatan risiko obesitas dan diabetes. Faktor kebiasaan menjadi tantangan utama karena lidah yang terbiasa dengan rasa manis cenderung menuntut kadar yang lebih tinggi di kemudian hari.
“Kalau kita terbiasa minum manis, besoknya ingin lebih manis lagi. Jadi harus dilatih untuk mengurangi secara bertahap,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes menyarankan masyarakat untuk mulai menurunkan kadar gula secara perlahan. Hal ini dapat dilakukan dengan memilih opsi less sugar saat membeli minuman di luar atau mengurangi takaran gula saat membuat minuman sendiri di rumah.
“Kalau biasanya satu sendok, coba kurangi sedikit demi sedikit. Nanti lama-lama akan terbiasa,” tambah Nadia.
Upaya pengendalian konsumsi gula ini menjadi bagian krusial dalam strategi nasional untuk menekan angka obesitas dan penyakit tidak menular yang terus meningkat di Indonesia. (Ant/Z-1)
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan prinsip gizi seimbang dalam memilih menu berbuka puasa selama bulan Ramadan 2026.
Terdapat kecenderungan masyarakat memilih makanan dan minuman manis saat berbuka puasa sebagai upaya mengembalikan kadar gula darah yang menurun setelah berpuasa seharian.
Berbagai hidangan takjil yang tinggi kandungan gula justru dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara drastis dalam waktu singkat.
Minuman manis umumnya tinggi kalori tetapi rendah nutrisi, sehingga jika dikonsumsi berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan, seperti diabetes, obesitas, kerusakan gigi
Minuman manis umumnya tinggi kalori tetapi rendah nutrisi, sehingga jika sering dikonsumsi dapat berdampak buruk bagi kesehatan, seperti meningkatkan risiko diabetes
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Makanan manis sederhana dapat memicu fluktuasi gula darah yang tidak stabil. Dampaknya, rasa lapar akan muncul lebih cepat saat sedang menjalankan ibadah puasa di siang hari.
Tubuh membutuhkan gula dalam jumlah cukup, tetapi konsumsi berlebihan bisa meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.
Asupan gula berlebih bukan sekadar masalah kalori, melainkan ancaman bagi metabolisme anak yang masih dalam tahap perkembangan.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved