Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyerukan agar orangtua lebih jeli dalam mencermati label kandungan pangan pada produk makanan anak. Hal ini dilakukan guna mewaspadai kandungan gula yang kerap kali disamarkan dalam berbagai nama turunan di produk makanan kemasan.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio (K), mengungkapkan bahwa label pada kemasan seharusnya menjadi alat proteksi bagi kesehatan anak.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa komposisi bahan, terutama gula, sering kali sulit dipahami karena memiliki produk turunan yang sangat beragam.
“Label adalah alat untuk proteksi atau melindungi anak-anak kita dari asupan makanan yang tidak sehat atau bikin mereka menjadi sakit secara perlahan-lahan. Kemudian dari sisi komposisi bahan di label itu, biasanya ada banyak tertulis di situ yang harus kita waspadai adalah kandungan gula terutama,” ujar Piprim dalam sebuah webinar di Jakarta, dikutip Kamis (29/1).
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF). Piprim menjelaskan bahwa produk turunan gula yang semakin panjang membuat orangtua sulit menyadari seberapa besar asupan pemanis yang dikonsumsi anak.
Padahal, konsumsi UPF secara berlebihan telah terbukti memicu berbagai penyakit tidak menular di usia muda.
Merujuk pada piramida pangan terbaru di Amerika Serikat (AS), Piprim menekankan bahwa UPF merupakan jenis makanan yang harus diberikan dengan sangat hati-hati.
“Di piramida yang terbaru dari Amerika Serikat, kita sudah melihat bagaimana ultraprocessed food ini menjadi jenis makanan yang perlu diwaspadai dan diberikan dengan hati-hati kepada anak-anak kita,” imbuhnya.
Selain masalah pelabelan, IDAI juga menyoroti pengaruh iklan televisi yang sering kali menampilkan produk makanan seolah-olah sehat, padahal kandungan aslinya tidak sesuai dengan citra yang ditampilkan.
Oleh karena itu, orangtua dituntut memiliki kemampuan untuk mengendalikan asupan nutrisi anak dan tidak mudah tergiur oleh klaim sepihak seperti "tanpa gula tambahan" atau suplemen tertentu.
Dampak dari pengabaian pola makan ini cukup serius. Piprim menyebutkan bahwa tren penyakit seperti obesitas, sindrom metabolik, hipertensi, dislipidemia, hingga gula darah tinggi kini semakin marak dialami anak-anak hingga remaja akibat gaya hidup yang tidak sehat.
Sebagai langkah pencegahan, mencermati label makanan adalah upaya krusial untuk melindungi anak dari penyakit gaya hidup (lifestyle diseases). Piprim menegaskan bahwa kembali ke konsumsi makanan alami adalah solusi terbaik.
"Memilih atau mencermati label makanan anak-anak kita adalah salah satu upaya kita semua, termasuk orang tua untuk melindungi anak-anak dari kemungkinan tertular, terdampak penyakit akibat gaya hidup atau *lifestyle diseases* yang sebetulnya bisa dicegah salah satunya dengan mencermati apa yang dikonsumsi oleh anak-anak kita. Tentu saja real food adalah yang terbaik supaya anak-anak kita tumbuh dengan sehat," tutupnya. (Ant/Z-1)
Orangtua juga diminta mewaspadai Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pewarna atau penyedap rasa yang sering ditambahkan ke dalam makanan.
Pemeriksaan ini dilakukan karena ada laporan pada Sabtu (24/1) yang menduga makanan tersebut terbuat dari bahan Polyurethane Foam (PU Foam) atau material busa kasur maupun spon cuci.
Kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.
Makanan yang sejak awal sudah diolah dengan suhu tinggi, seperti digoreng atau dibakar, sangat rentan mengalami degradasi nutrisi jika kembali terkena panas.
Sejumlah jenis makanan tidak dianjurkan untuk dipanaskan berulang kali karena dapat merusak zat gizi dan bahkan memicu pembentukan senyawa berbahaya bagi kesehatan.
Pada fase krusial saat mengonsumsi MPASI, anak perlu diperkenalkan dengan berbagai spektrum rasa agar mereka lebih terbuka terhadap variasi pangan di kemudian hari.
Kondisi emosional adalah faktor penentu utama kemampuan anak dalam menyerap pelajaran.
Pengenalan puasa yang dilakukan dengan paksaan berisiko menimbulkan tekanan emosional yang berdampak negatif pada kesehatan mental anak.
Orangtua juga diminta mewaspadai Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pewarna atau penyedap rasa yang sering ditambahkan ke dalam makanan.
Anak-anak harus dibekali dengan kemampuan untuk bersikap asertif. Hal ini bertujuan agar anak mampu menjaga batasan dirinya dalam relasi sosial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved