Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyerukan agar orangtua lebih jeli dalam mencermati label kandungan pangan pada produk makanan anak. Hal ini dilakukan guna mewaspadai kandungan gula yang kerap kali disamarkan dalam berbagai nama turunan di produk makanan kemasan.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio (K), mengungkapkan bahwa label pada kemasan seharusnya menjadi alat proteksi bagi kesehatan anak.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa komposisi bahan, terutama gula, sering kali sulit dipahami karena memiliki produk turunan yang sangat beragam.
“Label adalah alat untuk proteksi atau melindungi anak-anak kita dari asupan makanan yang tidak sehat atau bikin mereka menjadi sakit secara perlahan-lahan. Kemudian dari sisi komposisi bahan di label itu, biasanya ada banyak tertulis di situ yang harus kita waspadai adalah kandungan gula terutama,” ujar Piprim dalam sebuah webinar di Jakarta, dikutip Kamis (29/1).
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF). Piprim menjelaskan bahwa produk turunan gula yang semakin panjang membuat orangtua sulit menyadari seberapa besar asupan pemanis yang dikonsumsi anak.
Padahal, konsumsi UPF secara berlebihan telah terbukti memicu berbagai penyakit tidak menular di usia muda.
Merujuk pada piramida pangan terbaru di Amerika Serikat (AS), Piprim menekankan bahwa UPF merupakan jenis makanan yang harus diberikan dengan sangat hati-hati.
“Di piramida yang terbaru dari Amerika Serikat, kita sudah melihat bagaimana ultraprocessed food ini menjadi jenis makanan yang perlu diwaspadai dan diberikan dengan hati-hati kepada anak-anak kita,” imbuhnya.
Selain masalah pelabelan, IDAI juga menyoroti pengaruh iklan televisi yang sering kali menampilkan produk makanan seolah-olah sehat, padahal kandungan aslinya tidak sesuai dengan citra yang ditampilkan.
Oleh karena itu, orangtua dituntut memiliki kemampuan untuk mengendalikan asupan nutrisi anak dan tidak mudah tergiur oleh klaim sepihak seperti "tanpa gula tambahan" atau suplemen tertentu.
Dampak dari pengabaian pola makan ini cukup serius. Piprim menyebutkan bahwa tren penyakit seperti obesitas, sindrom metabolik, hipertensi, dislipidemia, hingga gula darah tinggi kini semakin marak dialami anak-anak hingga remaja akibat gaya hidup yang tidak sehat.
Sebagai langkah pencegahan, mencermati label makanan adalah upaya krusial untuk melindungi anak dari penyakit gaya hidup (lifestyle diseases). Piprim menegaskan bahwa kembali ke konsumsi makanan alami adalah solusi terbaik.
"Memilih atau mencermati label makanan anak-anak kita adalah salah satu upaya kita semua, termasuk orang tua untuk melindungi anak-anak dari kemungkinan tertular, terdampak penyakit akibat gaya hidup atau *lifestyle diseases* yang sebetulnya bisa dicegah salah satunya dengan mencermati apa yang dikonsumsi oleh anak-anak kita. Tentu saja real food adalah yang terbaik supaya anak-anak kita tumbuh dengan sehat," tutupnya. (Ant/Z-1)
Makanan yang mudah dicerna tidak hanya bermanfaat saat sakit, tetapi juga dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan sehari-hari.
Pemilihan nutrisi yang memiliki efek antiinflamasi dan antioksidatif menjadi kunci utama dalam menjaga keremajaan tubuh.
Kondisi tubuh yang kuat sangat diperlukan agar anak mampu menghadapi berbagai efek samping akibat kemoterapi.
Istilah "makan terakhir" biasanya merujuk pada hidangan pamungkas yang diinginkan seseorang sebelum menutup usia.
Kunci utama pemenuhan serat terletak pada keberagaman jenis pangan yang dikonsumsi.
Jaga kesehatan si kecil dengan pilihan makanan yang tepat. Simak daftar makanan ampuh untuk mengendalikan gula darah anak secara alami dan lezat.
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved