Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
BELAKANGAN ini, jajanan dengan tampilan mencolok dan krim berwarna cerah merajai lini masa media sosial. Daya tarik visual yang dipadukan dengan rasa manis yang kuat membuat jenis makanan ini mudah sekali viral dan menjadi buruan masyarakat, terutama anak-anak. Namun, di balik tampilannya yang menggoda, tersimpan risiko kesehatan yang serius.
Dokter Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran IPB University, dr. Yusuf Ryadi, SKed, MKM, memperingatkan bahwa tren konsumsi makanan tinggi gula dan pewarna buatan secara rutin dapat berdampak buruk pada tumbuh kembang anak.
Menurut Yusuf, asupan gula berlebih bukan sekadar masalah kalori, melainkan ancaman bagi metabolisme anak yang masih dalam tahap perkembangan.
"Dampaknya cukup serius, terutama jika dikonsumsi rutin. Asupan gula berlebih terbukti meningkatkan risiko obesitas, gigi berlubang, gangguan metabolik, dan pada beberapa anak dapat memicu gangguan perilaku serta gangguan konsentrasi," ujarnya.
Meskipun banyak produsen menggunakan bahan food grade yang secara regulasi diperbolehkan, Yusuf menekankan bahwa risiko tetap mengintai jika konsumsi berlangsung dalam jangka panjang atau melebihi batas wajar.
Selain itu, fenomena jajanan viral ini berkontribusi langsung pada pergeseran masalah gizi di Indonesia.
"Jajanan viral umumnya tinggi gula, lemak, dan kalori, namun rendah serat serta zat gizi. Jika pola konsumsi ini menjadi kebiasaan sejak dini, risiko obesitas anak meningkat dan dapat berlanjut menjadi diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia lebih muda," jelas Yusuf.
Satu dampak yang jarang disadari orangtua adalah terbentuknya preferensi rasa. Anak yang terbiasa dengan rangsangan rasa manis yang kuat cenderung akan menolak makanan sehat di kemudian hari.
"Preferensi rasa terbentuk sejak kecil. Jika terbiasa dengan rasa manis dan warna mencolok, anak akan kesulitan membiasakan diri dengan makanan sehat yang secara visual dan rasa cenderung kalah menarik," ungkapnya.
Di sisi lain, pengawasan terhadap keamanan pangan ini masih menemui jalan buntu. Banyak produk jajanan musiman, industri rumahan, serta produk yang dijual secara daring luput dari pemantauan pihak berwenang.
Yusuf menilai, pengawasan takaran gula dan jenis bahan tambahan pada produk-produk tersebut masih menjadi celah besar dalam sistem keamanan pangan kita.
Langkah Mendesak bagi Pemerintah
Sebagai penutup, Yusuf mendesak pemerintah untuk memperkuat pengawasan di lapangan, memperjelas label kandungan nutrisi, dan melakukan edukasi masif kepada orang tua serta sekolah.
Langkah ini diperlukan untuk menciptakan lingkungan pangan yang lebih aman bagi generasi mendatang.
"Perlu kebijakan yang mendorong terciptanya lingkungan pangan sehat, agar anak-anak memiliki akses yang mudah terhadap makanan bergizi, enak, dan aman," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Makanan yang menjadi tren dan digemari anak muda biasanya tinggi gula dan gorengan dengan tepung mengandung advanced glycation end products (AGEs) yang merusak kolagen.
KETUA Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Provinsi Lampung Josi Harnos mengatakan bahwa pemeriksaan jajanan anak harus dilakukan dengan lebih ketat.
BADAN POM mendapat laporan adanya kasus keracunan yang diduga disebabkan oleh produk olahan pangan olahan impor yang dikenal dengan nama latio di 7 daerah.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Gula dapat merangsang pelepasan serotonin dan endorfin di otak, yaitu zat kimia yang membuat perasaan lebih nyaman dan bahagia.
Serangan jantung kerap dikaitkan dengan kebiasaan merokok, jarang berolahraga, atau pola makan yang buruk.
Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, pemerintah memastikan pasokan gula konsumsi berada pada level aman.
Gula dapat ditemukan secara alami pada makanan seperti buah, sayur, dan susu, maupun ditambahkan ke berbagai produk olahan sebagai gula tambahan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved