Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Fenomena War Takjil: Ketika Berburu Menu Buka Puasa Jadi Ajang Sosial

Basuki Eka Purnama
26/2/2026 09:49
Fenomena War Takjil: Ketika Berburu Menu Buka Puasa Jadi Ajang Sosial
Pedagang melayani pembeli menu takjil untuk berbuka puasa di Bazaar Takjil Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, Jumat (20/2/2026).(MI/Usman Iskandar)

SETIAP bulan Ramadan, masyarakat Indonesia disuguhkan fenomena unik yang dikenal dengan istilah war takjil. Sore hari menjelang waktu berbuka, berbagai penjual makanan musiman bermunculan di sepanjang jalan, pasar, hingga kawasan permukiman. 

Keseruan ini melibatkan masyarakat luas, bahkan mereka yang tidak berpuasa pun turut berpartisipasi, menjadikan aktivitas ini sebagai pengalaman sosial khas Ramadan di Indonesia.

Dosen IPB University yang aktif membina pelaku UMKM, Dr. Tjahja Muhandri, menilai fenomena ini sebagai dinamika sosial yang menarik. 

Menurutnya, antusiasme masyarakat dalam war takjil dipicu oleh hadirnya beragam makanan atau minuman yang memang jarang dijumpai di luar bulan Ramadan.

MI/HO--Dosen IPB University yang aktif membina pelaku UMKM, Dr. Tjahja Muhandri

"Silakan dicek, akan banyak makanan atau minuman yang pada hari biasa tidak ada, tapi muncul saat Ramadan. Tersaji menarik, harganya murah. Maka rebutan akan makanan atau minuman takjil itu bisa jadi adalah rebutan 'kenangan'," ujarnya sambil bergurau.

Ia menjelaskan bahwa tren ini menunjukkan tarikan pasar yang sangat kuat. Ketika kebutuhan muncul, pasar merespons dengan cepat. 

Bagi UMKM, momentum ini menjadi peluang emas untuk meningkatkan pendapatan, karena produk yang dijajakan cenderung laku keras. Namun, Tjahja menekankan agar pelaku usaha tetap kreatif mengikuti tren dan menghindari produk yang monoton.

"Asalkan UMKM mau ikut tren produk dan tidak monoton dengan produk yang kurang disukai konsumen," tambahnya.

Meski membawa dampak positif secara ekonomi, Tjahja memberikan catatan penting terkait aspek kebersihan dan keamanan pangan. Mengingat siapa saja kini bisa membuka lapak, pengawasan terhadap kualitas produk menjadi krusial untuk mencegah risiko kesehatan seperti keracunan.

"Para UMKM perlu menjaga kebersihan produk, wadah, penyajian, bahkan penjualnya. Gunakan perlengkapan standar, minimal masker dan sarung tangan bersih saat melayani konsumen," ungkapnya.

Ia juga menyarankan para pelaku usaha untuk bersikap transparan dengan mencantumkan harga secara jelas. Hal ini dilakukan agar konsumen merasa nyaman dan tidak khawatir akan praktik getok harga. 

Dengan menjaga kualitas, kreativitas, dan standar kebersihan, fenomena war takjil tidak hanya menjadi ajang mencari keuntungan ekonomi bagi UMKM, tetapi juga tetap memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan berbuka puasa.

"Semua bisa jualan dan gelar lapak. Karena itu, aspek kebersihan sangat penting untuk mencegah risiko keracunan atau penyakit," pungkasnya. (Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya