Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Surat Adz-Dzariyat: Makna, Asbabun Nuzul, Kandungan, dan Keutamaan Membacanya

Media Indonesia
25/2/2026 21:24
Surat Adz-Dzariyat: Makna, Asbabun Nuzul, Kandungan, dan Keutamaan Membacanya
Ilustrasi.(Freepik)

SURAT Adz-Dzariyat adalah surat ke-51 dalam Al-Qur'an yang menyimpan pesan mendalam tentang sistem rezeki Allah dan hakikat keberadaan manusia. Terdiri dari 60 ayat, surat Makkiyah ini menjadi panduan spiritual bagi umat Islam dalam menghadapi dinamika kehidupan, terutama dalam urusan ekonomi dan pengabdian kepada Sang Pencipta.

Ayat 1 sampai dengan 30 Surat Adz-Dzariyat termasuk dalam juz 26. Sedangkan ayat 31 sampai dengan 60 Surat Adz-Dzariyat tergolong dalam juz 27. Simak penjelasan surat ini lebih lanjut. 

Makna Nama Adz-Dzariyat

Secara bahasa, Adz-Dzariyat berarti Angin yang Menerbangkan. Allah SWT memulai surat ini dengan sumpah demi fenomena alam yaitu angin, awan pembawa hujan, kapal yang berlayar, dan malaikat pengatur urusan. Sumpah ini bukan sekadar kiasan, melainkan penegasan bahwa semua unsur alam semesta bekerja secara harmonis untuk mendistribusikan rahmat dan rezeki-Nya di muka bumi.

Sejarah Asbabun Nuzul

Memahami konteks turunnya ayat sangat penting untuk menangkap pesan aslinya. Berikut beberapa momen penting di balik turunnya Surat Adz-Dzariyat:

  • Keadilan Sosial (Ayat 19): Ayat ini turun sebagai respons saat kaum miskin meminta bagian dari harta rampasan perang (ghanimah). Allah menegaskan bahwa kepedulian sosial bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban karena ada hak orang lain dalam harta kita.
  • Ketenangan Sahabat (Ayat 54-55): Para sahabat Nabi Muhammad SAW sempat merasa resah ketika diperintahkan untuk berpaling dari kaum musyrik. Mereka khawatir bimbingan wahyu akan berhenti. Allah kemudian menurunkan ayat 55 sebagai jaminan bahwa dakwah dan peringatan tetap akan memberikan manfaat bagi orang-orang mukmin.

Kandungan Inti: Tujuan Hidup dan Rezeki

Surat ini mengandung salah satu ayat yang paling sering dikutip dalam khazanah Islam, yaitu ayat 56:

"Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun" (Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku).

Pilar Konten Penjelasan Singkat
Tauhid & Ibadah Menegaskan bahwa orientasi utama hidup manusia adalah menyembah Allah SWT.
Kepastian Rezeki Rezeki telah ditetapkan di langit (Lauhul Mahfudz) dan Allah adalah Al-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki).
Kisah Para Nabi Menceritakan kisah Nabi Ibrahim, Musa, Nuh, serta kaum 'Ad dan Tsamud sebagai pelajaran sejarah.

Baca juga: Asmaul Husna Al-Awwal Mengapa Dia Disebut Yang Maha Awal tanpa Permulaan

Keutamaan Membaca Surat Adz-Dzariyat

Para ulama menyebutkan beberapa keutamaan bagi mereka yang rutin membaca dan mengamalkan isi surat ini:

  1. Melapangkan Rezeki: Dengan memahami bahwa rezeki diatur oleh Allah, seseorang akan lebih tenang dalam bekerja dan dijauhkan dari sifat tamak.
  2. Cahaya di Alam Kubur: Sebagaimana disebutkan dalam beberapa literatur tafsir, istiqamah membaca surat ini dapat menjadi wasilah mendapatkan penerangan di alam barzakh.
  3. Kemudahan Urusan: Mengingat kandungannya yang diawali dengan sumpah atas kemudahan (kapal yang berlayar dengan mudah), surat ini sering dibaca untuk memohon kelancaran dalam berbagai urusan, termasuk persalinan.

Baca juga: Asmaul Husna Al-Muakhir Rahasia Allah Menunda Sesuatu demi Kebaikan Hamba

Melansir dari abusyuja.com, terdapat fadhilah dan khasiat membaca Surat Adz-Dzariyat. Berikut penjelasannya.

1. Surat Adz-Dzariyat termasuk dalam Al-Mufashshal yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai tambahan, sehingga beliau diberi keutamaan dibanding nabi-nabi yang lain.

Watsilah bin Al-Asqa’ berkata Rasulullah SAW bersabda, "Telah diturunkan kepadaku As-Sab’uth-Thiwal sebagai ganti Taurat, diturunkan kepadaku Al-Ma’in sebagai ganti Zabur, diturunkan kepadaku Al-Matsani sebagai pengganti Injil, dan aku diberi tambahan dengan Al-Mufashshal." (HR. Ahmad:IV/107)

2. Surat Adz-Dzariyat menjadi wasilah agar memperoleh rezeki yang luas dan penerangan di alam kubur.

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa membaca Surat Adz-Dzariyat di dalam harinya atau malamnya, Allah akan memberikan kebaikan (ma’isyah), mendatangkan rezeki yang luas kepadanya, dan menerangi alam kuburnya dengan lentera yang tidak akan pernah padam sehingga hari kiamat.“(Tsawabul A’mal: 145)

Baca juga: Prediksi Lailatul Qadar dari Imam Al-Ghazali, Asy-Syadzili, dan Al-Bajuri

3. Pembaca Surat Adz-Dzariyat memperoleh sepuluh kebaikan sejumlah angin yang berhembus di dalam dunia.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang membaca surat ini (Adz-Dzariyat), Allah akan memberinya sepuluh kebaikan sejumlah angin yang berhembus dan bertiup di dunia ini." (Tafsirul Burhan, Juz 7: 307)

4. Surat Adz-Dzariyat dapat dijadikan wasilah atau doa untuk obat sakit perut dan dimudahkan dalam melahirkan.

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang menulisnya (Surat Adz-Dzariyat) di dalam suatu wadah, lalu meminum airnya, sakit perutnya akan sembuh,dan jika dikalungkan kepada seorang yang hamil, ia dapat melahirkan dengan mudah lagi cepat." (Tafsirul Burhan, Juz: 307)

Baca juga: Rumus Imam Al-Ghazali Puasa Ramadan Mulai Kamis, Kapan Lailatul Qadar

Kesimpulan: Surat Adz-Dzariyat mengajarkan kita untuk menyeimbangkan antara ikhtiar di dunia (mencari rezeki) dengan tujuan akhirat (ibadah). Ketika kita fokus pada tujuan penciptaan, Allah akan menjamin segala keperluan hidup kita di dunia.

FAQ - Pertanyaan Sering Diajukan

Apa arti Adz-Dzariyat?
Adz-Dzariyat berarti angin yang menerbangkan debu.

Surat Adz-Dzariyat juz berapa?
Surat ini berada di dalam Juz 26 dan Juz 27.

Baca juga: Prediksi Lailatul Qadar Menurut Imam As-Syadzili saat Puasa Mulai Kamis

Mengapa ayat 56 sangat penting?
Karena ayat tersebut menjelaskan satu-satunya alasan mengapa manusia dan jin diciptakan di alam semesta ini, yaitu untuk beribadah.

Apa tujuan penciptaan manusia menurut Surat Adz-Dzariyat?
Hal ini dijawab secara lugas pada ayat 56, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." Ibadah di sini bermakna luas, mencakup ketundukan total dan pengenalan (ma'rifat) kepada Sang Pencipta.

Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti

Bagaimana konsep rezeki dalam surat ini?
Ayat 22 menegaskan, "Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu." Ini mengajarkan kita untuk tidak khawatir berlebihan terhadap urusan duniawi karena sumber rezeki bersifat transendental. (I-2)

Surat Adz-Dzariyat dalam Bahasa Arab, Latin, dan Terjemahan

وَالذّٰرِيٰتِ ذَرْوًاۙ ۝١

wadz-dzâriyâti dzarwâ
Demi (angin) yang menerbangkan debu,

فَالْحٰمِلٰتِ وِقْرًاۙ ۝٢

fal-ḫâmilâti wiqrâ
demi (awan) yang mengandung muatan (hujan),

فَالْجٰرِيٰتِ يُسْرًاۙ ۝٣

fal-jâriyâti yusrâ
demi (kapal-kapal) yang melaju (di atas air) dengan mudah,

فَالْمُقَسِّمٰتِ اَمْرًاۙ ۝٤

fal-muqassimâti amrâ
dan demi (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi segala urusan,

اِنَّمَا تُوْعَدُوْنَ لَصَادِقٌۙ ۝٥

innamâ tû‘adûna lashâdiq
sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar

وَّاِنَّ الدِّيْنَ لَوَاقِعٌۗ ۝٦

wa innad-dîna lawâqi‘
dan sesungguhnya pembalasan pasti terjadi.

وَالسَّمَاۤءِ ذَاتِ الْحُبُكِۙ ۝٧

was-samâ'i dzâtil-ḫubuk
Demi langit yang mempunyai jalan-jalan yang kukuh,

اِنَّكُمْ لَفِيْ قَوْلٍ مُّخْتَلِفٍۙ ۝٨

innakum lafî qaulim mukhtalif
sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berselisih.

يُّؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ اُفِكَۗ ۝٩

yu'faku ‘an-hu man ufik
Telah dijauhkan darinya (Al-Qur’an dan Rasul) orang yang dipalingkan.

قُتِلَ الْخَرَّاصُوْنَۙ ۝١٠

qutilal-kharrâshûn
Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta,

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ غَمْرَةٍ سَاهُوْنَۙ ۝١١

alladzîna hum fî ghamratin sâhûn
(yaitu) orang-orang yang terbenam (dalam kebodohan) lagi lalai (dari urusan akhirat)!

يَسْـَٔلُوْنَ اَيَّانَ يَوْمُ الدِّيْنِۗ ۝١٢

yas'alûna ayyâna yaumud-dîn
Mereka bertanya, “Kapankah hari Pembalasan itu?”

يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُوْنَ ۝١٣

yauma hum ‘alan-nâri yuftanûn
(Hari Pembalasan terjadi) pada hari (ketika) mereka diazab dalam api neraka.

ذُوْقُوْا فِتْنَتَكُمْۗ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تَسْتَعْجِلُوْنَ ۝١٤

dzûqû fitnatakum, hâdzalladzî kuntum bihî tasta‘jilûn
(Dikatakan kepada mereka,) “Rasakanlah azabmu! Inilah azab yang dahulu kamu minta agar disegerakan.”

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ ۝١٥

innal-muttaqîna fî jannâtiw wa ‘uyûn
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam (surga yang penuh) taman-taman dan mata air.

اٰخِذِيْنَ مَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُحْسِنِيْنَۗ ۝١٦

âkhidzîna mâ âtâhum rabbuhum, innahum kânû qabla dzâlika muḫsinîn
(Di surga) mereka dapat mengambil apa saja yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.

كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ ۝١٧

kânû qalîlam minal-laili mâ yahja‘ûn
Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam;

وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ ۝١٨

wa bil-as-ḫâri hum yastaghfirûn
dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).

وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ ۝١٩

wa fî amwâlihim ḫaqqul lis-sâ'ili wal-maḫrûm
Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta.

وَفِى الْاَرْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَۙ ۝٢٠

wa fil-ardli âyâtul lil-mûqinîn
Di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin.

وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ ۝٢١

wa fî anfusikum, a fa lâ tubshirûn
(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?

وَفِى السَّمَاۤءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ ۝٢٢

wa fis-samâ'i rizqukum wa mâ tû‘adûn
Di langit terdapat pula (hujan yang menjadi sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.

فَوَرَبِّ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اِنَّهٗ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَآ اَنَّكُمْ تَنْطِقُوْنَࣖ ۝٢٣

fa wa rabbis-samâ'i wal-ardli innahû laḫaqqum mitsla mâ annakum tanthiqûn
Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya (apa yang dijanjikan kepadamu itu) pasti akan nyata seperti (halnya) kamu berucap.

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ ضَيْفِ اِبْرٰهِيْمَ الْمُكْرَمِيْنَۘ ۝٢٤

hal atâka ḫadîtsu dlaifi ibrâhîmal-mukramîn
Sudahkah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan?

اِذْ دَخَلُوْا عَلَيْهِ فَقَالُوْا سَلٰمًاۗ قَالَ سَلٰمٌۚ قَوْمٌ مُّنْكَرُوْنَ ۝٢٥

idz dakhalû ‘alaihi fa qâlû salâmâ, qâla salâm, qaumum mungkarûn
(Cerita itu bermula) ketika mereka masuk (bertamu) kepadanya, lalu mengucapkan, “Salam.” Ibrahim menjawab, “Salam.” (Mereka) adalah orang-orang yang belum dikenal.

فَرَاغَ اِلٰٓى اَهْلِهٖ فَجَاۤءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍۙ ۝٢٦

fa râgha ilâ ahlihî fa jâ'a bi‘ijlin samîn
Kemudian, dia (Ibrahim) pergi diam-diam menemui keluarganya, lalu datang (kembali) membawa (daging) anak sapi gemuk (yang dibakar).

فَقَرَّبَهٗٓ اِلَيْهِمْۚ قَالَ اَلَا تَأْكُلُوْنَ ۝٢٧

fa qarrabahû ilaihim, qâla alâ ta'kulûn
Dia lalu menghidangkannya kepada mereka, (tetapi mereka tidak mau makan). Ibrahim berkata, “Mengapa kamu tidak makan?”

فَاَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيْفَةًۗ قَالُوْا لَا تَخَفْۗ وَبَشَّرُوْهُ بِغُلٰمٍ عَلِيْمٍ ۝٢٨

fa aujasa min-hum khîfah, qâlû lâ takhaf, wa basysyarûhu bighulâmin ‘alîm
Dia (Ibrahim) menyimpan rasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut!” Mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (akan kelahiran) seorang anak yang sangat berilmu (Ishaq).

فَاَقْبَلَتِ امْرَاَتُهٗ فِيْ صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوْزٌ عَقِيْمٌ ۝٢٩

fa aqbalatimra'atuhû fî sharratin fa shakkat waj-hahâ wa qâlat ‘ajûzun ‘aqîm
Istrinya datang sambil berteriak (terperanjat) lalu menepuk-nepuk wajahnya sendiri dan berkata, “(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul.”

قَالُوْا كَذٰلِكِۙ قَالَ رَبُّكِۗ اِنَّهٗ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ ۝٣٠

qâlû kadzâliki qâla rabbuk, innahû huwal-ḫakîmul-‘alîm
Mereka berkata, “Demikianlah Tuhanmu berfirman. Sesungguhnya Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.”

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ اَيُّهَا الْمُرْسَلُوْنَۚ ۝٣١

qâla fa mâ khathbukum ayyuhal-mursalûn
Dia (Ibrahim) bertanya, “Apa urusan pentingmu, wahai para utusan?”

قَالُوْٓ اِنَّآ اُرْسِلْنَآ اِلٰى قَوْمٍ مُّجْرِمِيْنَۙ ۝٣٢

qâlû innâ ursilnâ ilâ qaumim mujrimîn
Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Lut untuk menyiksanya)

لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّنْ طِيْنٍۙ ۝٣٣ 

linursila ‘alaihim ḫijâratam min thîn
agar kami menimpa mereka dengan batu-batu yang berasal dari tanah liat

مُّسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِيْنَ ۝٣٤ 

musawwamatan ‘inda rabbika lil-musrifîn
yang ditandai oleh Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas.”

فَاَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيْهَا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَۚ ۝٣٥ 

fa akhrajnâ mang kâna fîhâ minal-mu'minîn
Kami mengeluarkan orang-orang mukmin yang berada di dalamnya (negeri kaum Lut).

فَمَا وَجَدْنَا فِيْهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ الْمُسْلِمِيْنَۚ ۝٣٦ 

fa mâ wajadnâ fîhâ ghaira baitim minal-muslimîn
Kami tidak mendapati di dalamnya, kecuali sebuah rumah dari orang-orang muslim (Lut dan keluarganya).

وَتَرَكْنَا فِيْهَآ اٰيَةً لِّلَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ الْعَذَابَ الْاَلِيْمَۗ ۝٣٧

wa taraknâ fîhâ âyatal lilladzîna yakhâfûnal-‘adzâbal-alîm
Kami meninggalkan suatu tanda (kebesaran-Nya) di (negeri) itu bagi orang-orang yang takut pada azab yang pedih.

وَفِيْ مُوْسٰىٓ اِذْ اَرْسَلْنٰهُ اِلٰى فِرْعَوْنَ بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍ ۝٣٨

wa fî mûsâ idz arsalnâhu ilâ fir‘auna bisulthânim mubîn
(Begitu pula Kami meninggalkan) pada Musa (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir'aun dengan membawa mukjizat yang nyata.

فَتَوَلّٰى بِرُكْنِهٖ وَقَالَ سٰحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ ۝٣٩

fa tawallâ biruknihî wa qâla sâḫirun au majnûn
Kemudian, dia (Fir‘aun) bersama bala tentaranya berpaling dan (Fir‘aun) berkata, “(Dia adalah) seorang penyihir atau orang gila.”

فَاَخَذْنٰهُ وَجُنُوْدَهٗ فَنَبَذْنٰهُمْ فِى الْيَمِّ وَهُوَ مُلِيْمٌۗ ۝٤٠

fa akhadznâhu wa junûdahû fa nabadznâhum fil-yammi wa huwa mulîm
Maka, Kami menghukumnya beserta bala tentaranya, lalu Kami menenggelamkan mereka ke dalam laut dalam keadaan melakukan perbuatan yang tercela.

وَفِيْ عَادٍ اِذْ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيْحَ الْعَقِيْمَۚ ۝٤١

wa fî ‘âdin idz arsalnâ ‘alaihimur-rîḫal-‘aqîm
(Begitu pula Kami meninggalkan) pada (kaum) ‘Ad (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengirim kepada mereka angin yang membinasakan.

مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ اَتَتْ عَلَيْهِ اِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيْمِۗ ۝٤٢

mâ tadzaru min syai'in atat ‘alaihi illâ ja‘alat-hu kar-ramîm
(Angin) itu tidak meninggalkan apa pun pada semua yang dilandanya, kecuali menjadikannya bagai tulang yang hancur.

وَفِيْ ثَمُوْدَ اِذْ قِيْلَ لَهُمْ تَمَتَّعُوْا حَتّٰى حِيْنٍ ۝٤٣

wa fî tsamûda idz qîla lahum tamatta‘û ḫattâ ḫîn
(Begitu pula Kami meninggalkan) pada (kaum) Samud (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika dikatakan kepada mereka, “Bersenang-senanglah kamu sampai waktu yang ditentukan!”

فَعَتَوْا عَنْ اَمْرِ رَبِّهِمْ فَاَخَذَتْهُمُ الصّٰعِقَةُ وَهُمْ يَنْظُرُوْنَ ۝٤٤ 

fa 'atau 'an amri rabbihim fa akhadzat-humush-shâ‘iqatu wa hum yandhurûn
Lalu, mereka bersikap angkuh terhadap perintah Tuhannya. Maka, mereka disambar petir sementara mereka menyaksikan(-nya).

فَمَا اسْتَطَاعُوْا مِنْ قِيَامٍ وَّمَا كَانُوْا مُنْتَصِرِيْنَۙ ۝٤٥ 

fa mastathâ‘û ming qiyâmiw wa mâ kânû muntashirîn
Mereka sama sekali tidak mampu bangun dan tidak pula mendapat pertolongan.

وَقَوْمَ نُوْحٍ مِّنْ قَبْلُۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا فٰسِقِيْنَࣖ ۝٤٦ 

wa qauma nûḫim ming qabl, innahum kânû qauman fâsiqîn
Sebelum itu (Kami telah membinasakan) kaum Nuh. Sesungguhnya mereka adalah kaum fasik.

وَالسَّمَاۤءَ بَنَيْنٰهَا بِاَيْىدٍ وَّاِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ ۝٤٧ 

was-samâ'a banainâhâ bi'aidiw wa innâ lamûsi‘ûn
Langit Kami bangun dengan tangan (kekuatan Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan(-nya).

وَالْاَرْضَ فَرَشْنٰهَا فَنِعْمَ الْمٰهِدُوْنَ ۝٤٨ 

wal-ardla farasynâhâ fa ni‘mal-mâhidûn
Bumi Kami hamparkan. (Kami adalah) sebaik-baik Zat yang menghamparkan.

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ۝٤٩ 

wa ming kulli syai'in khalaqnâ zaujaini la‘allakum tadzakkarûn
Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).

فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِۗ اِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌۚ ۝٥٠ 

fa firrû ilallâh, innî lakum min-hu nadzîrum mubîn
Maka, (katakanlah kepada mereka, wahai Nabi Muhammad,) “Bersegeralah kembali (taat) kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari-Nya untukmu.

وَلَا تَجْعَلُوْا مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۗ اِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ ۝٥١ 

wa lâ taj‘alû ma‘allâhi ilâhan âkhar, innî lakum min-hu nadzîrum mubîn
Janganlah kamu mengadakan tuhan lain bersama Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”

كَذٰلِكَ مَآ اَتَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا قَالُوْا سَاحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ ۝٥٢

kadzâlika mâ atalladzîna ming qablihim mir rasûlin illâ qâlû sâḫirun au majnûn
Demikianlah setiap kali seorang rasul datang kepada orang-orang sebelumnya, mereka pasti mengatakan, "(Dia itu adalah) penyihir atau orang gila."

اَتَوَاصَوْا بِهٖۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُوْنَۚ ۝٥٣

a tawâshau bih, bal hum qaumun thâghûn
Apakah mereka saling menasihati tentang (apa yang dikatakan) itu? (Tidak!) Sebaliknya, mereka adalah kaum yang melampaui batas.

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ فَمَآ اَنْتَ بِمَلُوْمٍ ۝٥٤

fa tawalla ‘an-hum fa mâ anta bimalûm
Berpalinglah dari mereka, maka engkau sama sekali bukan orang yang tercela.

وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ ۝٥٥

wa dzakkir fa innadz-dzikrâ tanfa‘ul-mu'minîn
Teruslah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ۝٥٦

wa mâ khalaqtul-jinna wal-insa illâ liya‘budûn
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

مَآ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ ۝٥٧

mâ urîdu min-hum mir rizqiw wa mâ urîdu ay yuth‘imûn
Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ ۝٥٨

innallâha huwar-razzâqu dzul-quwwatil-matîn
Sesungguhnya Allahlah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.

فَاِنَّ لِلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ذَنُوْبًا مِّثْلَ ذَنُوْبِ اَصْحٰبِهِمْ فَلَا يَسْتَعْجِلُوْنِ ۝٥٩

fa inna lilladzîna dhalamû dzanûbam mitsla dzanûbi ash-ḫâbihim fa lâ yasta‘jilûn
Sesungguhnya orang-orang yang zalim mendapatkan bagian (azab) seperti bagian teman-teman mereka (dahulu). Maka, janganlah mereka meminta kepada-Ku untuk menyegerakan(-nya).

فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ يَّوْمِهِمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَࣖ ۝٦٠

fa wailul lilladzîna kafarû miy yaumihimulladzî yû‘adûn
Celakalah orang-orang yang kufur pada hari yang telah dijanjikan kepada mereka (hari Kiamat).

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik