Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
MUSIM penghujan membawa peningkatan risiko berbagai penyakit infeksi pada anak. Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K), mengingatkan para orangtua untuk memastikan imunisasi anak lengkap dan terjadwal sebagai langkah pencegahan utama.
Menurut Anggraini, kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak. Namun, bagi anak yang jadwal imunisasinya tertunda, ia menegaskan tidak ada kata terlambat untuk melakukan imunisasi kejar.
"Sebetulnya, bila mana imunisasinya dilengkapi sesuai jadwal, sesuai usianya, dipenuhi semua, udah beres. Tetapi, mohon, bila mana belum nih, tidak ada kata terlambat untuk melakukan imunisasi. Istilahnya, dikejar imunisasinya," ujar Anggraini, dikutip Jumat (6/2).
Ia menjelaskan bahwa pemberian imunisasi ganda (multiple injection) dapat menjadi solusi efektif agar berbagai vaksin dapat diberikan dalam satu waktu.
Selain itu, pemberian dosis penguat (booster) dan percepatan imunisasi tahunan sangat dianjurkan saat memasuki musim hujan.
Selain pencegahan, Anggraini meminta masyarakat memberikan perhatian ekstra pada fase kritis beberapa penyakit yang kerap muncul, terutama Dengue (Demam Berdarah).
Fase ini sering mengecoh karena ditandai dengan turunnya demam di bawah 38 derajat Celcius tanpa obat, namun justru menjadi periode yang paling berbahaya.
Anggraini menjelaskan, jika demam turun namun disertai gejala seperti nyeri perut, mual, muntah-muntah, hingga anak tampak sangat lemas, orang tua harus waspada.
“Kok ada perdarahan, ada mimisan, gusi berdarah, atau malah dia ini ngomong ngaco bahkan mungkin kejang itu semua tanda bahaya, maka harus segera dibawa ke rumah sakit,” tegasnya.
Kewaspadaan serupa juga berlaku untuk penyakit flu dan diare. Pada kasus flu, tanda bahaya meliputi napas cepat, tarikan dinding dada, bibir membiru, hingga tanda dehidrasi seperti tidak buang air kecil selama 5-6 jam. Sementara pada diare, kondisi anak yang loyo, kejang, dan sesak napas menjadi indikasi darurat.
Terkait penyakit menular lainnya seperti campak dan cacar air, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ini mengingatkan agar orang tua tidak menganggap remeh. Campak yang tidak tertangani di fase kritis berisiko memicu komplikasi pada telinga, paru-paru, hingga otak.
Khusus untuk cacar air, Anggraini memberikan peringatan keras terkait pemberian obat.
“Jadi jangan menganggap cacar air, campak biasa-biasa saja, tidak demikian. Dia bisa membuat berbagai komplikasi, termasuk juga Reye Sindrom, yaitu anak yang cacar air kemudian kita memberikan golongan aspirin pada anak tersebut, maka hati dan otak akan rusak, anak tidak sadar biasanya sampai memerlukan ventilasi mekanik,” ucapnya.
Menutup penjelasannya, ia juga menyoroti risiko Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau flu singapura dan leptospirosis. Karena leptospirosis belum memiliki vaksin, kunci penanganannya terletak pada pengobatan antibiotik sejak dini.
Kesadaran orangtua untuk segera membawa anak ke rumah sakit saat muncul gejala berat menjadi faktor penentu keselamatan anak di musim hujan ini. (Ant/Z-1)
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) masih akan berlangsung hingga akhir April atau awal Mei 2026.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Mandi air hangat bukan sekadar untuk kenyamanan, melainkan langkah krusial untuk membantu menghilangkan kotoran dari lumpur serta menjaga suhu tubuh agar tidak kedinginan.
Pada 2025, tercatat 161.752 kasus Dengue dengan 673 kematian yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved