Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Waspada Musim Hujan, Pakar Tekankan Pentingnya Imunisasi dan Deteksi Fase Kritis

Basuki Eka Purnama
06/2/2026 07:34
Waspada Musim Hujan, Pakar Tekankan Pentingnya Imunisasi dan Deteksi Fase Kritis
Ilustrasi--Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin Japanese Encephalitis (JE) kepada seorang anak saat peluncuran pemberian imunisasi JE di Koramil Pontianak Barat, Kalimantan Barat, Rabu (12/11/2025).(ANTARA/Jessica Wuysang)

MUSIM penghujan membawa peningkatan risiko berbagai penyakit infeksi pada anak. Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K), mengingatkan para orangtua untuk memastikan imunisasi anak lengkap dan terjadwal sebagai langkah pencegahan utama.

Menurut Anggraini, kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak. Namun, bagi anak yang jadwal imunisasinya tertunda, ia menegaskan tidak ada kata terlambat untuk melakukan imunisasi kejar.

"Sebetulnya, bila mana imunisasinya dilengkapi sesuai jadwal, sesuai usianya, dipenuhi semua, udah beres. Tetapi, mohon, bila mana belum nih, tidak ada kata terlambat untuk melakukan imunisasi. Istilahnya, dikejar imunisasinya," ujar Anggraini, dikutip Jumat (6/2).

Ia menjelaskan bahwa pemberian imunisasi ganda (multiple injection) dapat menjadi solusi efektif agar berbagai vaksin dapat diberikan dalam satu waktu. 

Selain itu, pemberian dosis penguat (booster) dan percepatan imunisasi tahunan sangat dianjurkan saat memasuki musim hujan.

Mengenali Fase Kritis Penyakit

Selain pencegahan, Anggraini meminta masyarakat memberikan perhatian ekstra pada fase kritis beberapa penyakit yang kerap muncul, terutama Dengue (Demam Berdarah). 

Fase ini sering mengecoh karena ditandai dengan turunnya demam di bawah 38 derajat Celcius tanpa obat, namun justru menjadi periode yang paling berbahaya.

Anggraini menjelaskan, jika demam turun namun disertai gejala seperti nyeri perut, mual, muntah-muntah, hingga anak tampak sangat lemas, orang tua harus waspada.

“Kok ada perdarahan, ada mimisan, gusi berdarah, atau malah dia ini ngomong ngaco bahkan mungkin kejang itu semua tanda bahaya, maka harus segera dibawa ke rumah sakit,” tegasnya.

Bahaya Komplikasi dan Penyakit Lainnya

Kewaspadaan serupa juga berlaku untuk penyakit flu dan diare. Pada kasus flu, tanda bahaya meliputi napas cepat, tarikan dinding dada, bibir membiru, hingga tanda dehidrasi seperti tidak buang air kecil selama 5-6 jam. Sementara pada diare, kondisi anak yang loyo, kejang, dan sesak napas menjadi indikasi darurat.

Terkait penyakit menular lainnya seperti campak dan cacar air, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ini mengingatkan agar orang tua tidak menganggap remeh. Campak yang tidak tertangani di fase kritis berisiko memicu komplikasi pada telinga, paru-paru, hingga otak.

Khusus untuk cacar air, Anggraini memberikan peringatan keras terkait pemberian obat.

“Jadi jangan menganggap cacar air, campak biasa-biasa saja, tidak demikian. Dia bisa membuat berbagai komplikasi, termasuk juga Reye Sindrom, yaitu anak yang cacar air kemudian kita memberikan golongan aspirin pada anak tersebut, maka hati dan otak akan rusak, anak tidak sadar biasanya sampai memerlukan ventilasi mekanik,” ucapnya.

Menutup penjelasannya, ia juga menyoroti risiko Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau flu singapura dan leptospirosis. Karena leptospirosis belum memiliki vaksin, kunci penanganannya terletak pada pengobatan antibiotik sejak dini. 

Kesadaran orangtua untuk segera membawa anak ke rumah sakit saat muncul gejala berat menjadi faktor penentu keselamatan anak di musim hujan ini. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya