Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DI INDONESIA, kanker masih tercatat sebagai penyakit paling mematikan ketiga setelah stroke dan jantung. Angka kematian akibat kanker di Indonesia tercatat masih 234.000 kasus tiap tahun, dengan kasus tertinggi kanker payudara yang menurut Globocan 2020 tercatat 66.000 kasus. Dari jumlah itu, 79 persen di antaranya meninggal. Hal itu terjadi karena kanker baru ditemukan pada stadium akhir sehingga terlambat ditangani.
Memperingati Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada 4 Februari 2026 kemarin, menjadi momentum refleksi atas masih besarnya tantangan penanganan kanker di Indonesia. Kanker masih menjadi salah satu penyebab kematian utama, terutama karena banyak kasus terdeteksi pada stadium lanjut. Kondisi tersebut berdampak langsung pada pilihan terapi serta peluang kesembuhan pasien. Pada fase inilah peran dokter spesialis bedah subspesialis onkologi menjadi krusial, terutama dalam menentukan strategi tindakan yang tepat.
Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B., Subsp.Onk(K), menilai penanganan kanker membutuhkan ketepatan waktu, pendekatan ilmiah, dan kesiapan sistem layanan. Dokter Tomo menjelaskan kasus kanker yang paling sering memerlukan tindakan bedah di Indonesia masih didominasi oleh kanker payudara, kolorektal, tiroid, kanker kepala dan leher, serta kanker ginekologi. Jenis kanker tersebut katanya kerap ditemukan pada kelompok usia produktif sehingga berdampak luas secara sosial.
Ketika pasien datang dengan kondisi penyakit yang sudah berkembang, situasi ini membuat tindakan bedah menjadi lebih kompleks dan berisiko. “Sebagian besar pasien datang pada stadium lanjut, sehingga tindakan bedah yang dilakukan sering kali lebih kompleks,” ujar dr. Tomo, Kamis (5/2).
Ia menegaskan deteksi dini memegang peran sangat penting dalam keberhasilan tindakan bedah kanker. Pada stadium awal, menurutnya, kanker masih terlokalisasi sehingga memungkinkan tindakan bedah kuratif. Kondisi tersebut memberi peluang hasil yang lebih baik dan risiko komplikasi yang lebih rendah. Sebaliknya, keterlambatan diagnosis membatasi pilihan terapi yang tersedia. “Pada stadium awal, kanker memungkinkan tindakan bedah kuratif dengan peluang hidup yang jauh lebih baik,” Tomo berujar.
Namun dalam praktik sehari-hari, tantangan penanganan kanker tidak berhenti pada aspek medis semata. Tomo bercerita pasien sering datang dengan kondisi umum yang sudah menurun sehingga mempersulit proses tindakan dan pemulihan. Faktor psikologis pasien dan keluarga ikut memengaruhi pengambilan keputusan medis. Lebih lanjut, keterbatasan fasilitas penunjang dan koordinasi lintas disiplin masih menjadi pekerjaan rumah. “Tantangan terbesar adalah pasien datang terlambat dengan kondisi umum yang sudah menurun,” tuturnya.
Hingga saat ini, ketakutan masyarakat terhadap operasi kanker masih menjadi hambatan besar. Banyak pasien ragu menjalani tindakan bedah karena terpengaruh informasi yang tidak utuh. Mitos bahwa operasi justru mempercepat penyebaran kanker masih sering ditemui. Menurutnya, edukasi berbasis bukti ilmiah perlu diperkuat sejak awal. “Operasi dengan indikasi dan teknik yang tepat justru menjadi salah satu pilar utama penyembuhan kanker,” kata Tomo.
Menurut dia perkembangan teknologi kedokteran membawa perubahan yang cukup signifikan dalam praktik bedah onkologi. Teknik bedah minimal invasif dan pendekatan multimodal membantu meningkatkan keselamatan pasien. Proses pemulihan pascaoperasi menjadi lebih cepat dengan hasil fungsional yang lebih baik. Tomo menilai tujuan bedah kanker saat ini telah bergeser menuju kualitas hidup pasien. “Tujuan bedah onkologi kini menjaga fungsi dan kualitas hidup pasien,” ia menjelaskan.
Di momen Hari Kanker Sedunia, Tomo mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap kesehatan diri. Kanker, menurutnya, bukan lagi penyakit yang selalu berujung pada kematian jika ditangani sejak dini. Kesadaran untuk mengenali gejala dan melakukan skrining perlu ditingkatkan. Ia menilai konsultasi medis sejak awal memberi peluang hasil yang lebih baik. Ia kembali menegaskan deteksi dini harus dilakukan demi menyelamatkan nyawa, memberi peluang terapi yang lebih efektif, dan membuka harapan hidup yang lebih panjang bagi pasien kanker.
Peneliti Universitas Jenewa mengungkap bagaimana tumor memprogram ulang neutrofil, sel pertahanan utama tubuh, menjadi pemicu pertumbuhan kanker melalui molekul CCL3.
Saat ini, sekitar 30% kasus kanker usus besar di tanah air diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun, sebuah angka yang jauh melampaui statistik di negara-negara maju.
Berbeda dengan herediter, kanker familia terjadi bukan karena mutasi gen, melainkan karena anggota keluarga hidup dalam satu ekosistem yang sama.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
KECANTIKAN sejati bagi seorang wanita sering kali didefinisikan melalui pantulan cermin. Namun, esensi sebenarnya terletak pada pancaran empati dan kekuatan dari dalam hati.
Angka kematian akibat kanker di Indonesia tercatat masih 234.000 kasus tiap tahun, dengan kasus tertinggi kanker payudara yang menurut Globocan 2020 tercatat 66.000 kasus.
Ilmuwan temukan cara baru deteksi kanker serviks lewat darah menstruasi. Metode non-invasif ini tawarkan akurasi tinggi dan kenyamanan skrining dari rumah.
Kemajuan teknologi medis saat ini menawarkan tingkat kesembuhan yang tinggi, asalkan masyarakat memiliki keberanian untuk melakukan deteksi dini kanker.
Ketidakmampuan untuk melakukan diagnosis secara dini atau melakukan deteksi dini, membuat jumlah kasus cukup tinggi.
Kota Bogor menargetkan 2.500 orang/ peserta pemeriksaan HPV-DNA yang akan diselesaikan pada periode 8–15 Desember 2025.
Studi 11 tahun di tujuh pusat layanan kesehatan New York menunjukkan seperempat kasus kanker payudara terjadi pada perempuan usia 18-49 tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved