Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Bahaya Tersembunyi di Balik Wangi Parfum: Benarkah Menyemprot Leher Picu Gangguan Tiroid?

Basuki Eka Purnama
18/3/2026 11:17
Bahaya Tersembunyi di Balik Wangi Parfum: Benarkah Menyemprot Leher Picu Gangguan Tiroid?
Ilustrasi(Freepik)

KEBIASAAN menyemprotkan parfum di area leher sudah menjadi ritual harian bagi banyak orang demi menjaga aroma tubuh tetap segar sepanjang hari. 

Namun, praktik yang tampak lumrah ini mulai memicu kekhawatiran medis. Area leher, yang memiliki kulit cenderung tipis dan merupakan lokasi kelenjar tiroid, dinilai rentan terhadap paparan bahan kimia dalam parfum yang berpotensi mengganggu sistem hormon.

Pakar Multiomics Cancer dari IPB University, dr. Agil Wahyu Wicaksono, MBiomed, menjelaskan bahwa secara ilmiah memang terdapat indikasi hubungan antara penggunaan parfum dengan gangguan kelenjar tiroid. Meski demikian, ia meluruskan anggapan mengenai risiko kanker yang sering beredar di masyarakat.

"Berdasarkan sebuah studi tinjauan sistematis, kebiasaan menyemprotkan parfum, termasuk di area leher, berkaitan dengan risiko gangguan kelenjar tiroid. Adapun hubungan dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara langsung," ujar dr. Agil.

Kandungan Kimia dan Mekanisme Penyerapan

Masalah utama bukan terletak pada aromanya, melainkan pada zat kimia penyusunnya. Parfum atau cologne umumnya mengandung bahan seperti phthalates, parabens, dan triclosan. Bahan-bahan ini dikategorikan sebagai endocrine disruptors atau pengganggu sistem hormonal.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University ini memaparkan bahwa zat-zat tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui pori-pori kulit. 

"Beberapa penelitian menunjukkan bahwa triclosan dapat memengaruhi fungsi hormon tiroid, sementara sejumlah paraben juga berdampak pada keseimbangan sistem endokrin tubuh," terangnya.

Secara anatomis, pemilihan leher sebagai titik semprot utama meningkatkan risiko ini. Kulit leher yang tipis mempermudah penyerapan zat kimia secara berulang, yang secara teoritis dapat meningkatkan efek zat tersebut baik secara lokal pada kelenjar tiroid maupun secara sistemik ke seluruh tubuh.

Dampak Jangka Panjang dan Kelompok Rentan

Agil menegaskan bahwa efek negatif ini tidak terjadi seketika, melainkan bersifat akumulatif dari waktu ke waktu. Ia juga menekankan bahwa tidak semua pengguna parfum akan otomatis mengalami masalah kesehatan.

"Tidak berarti setiap orang yang memakai parfum akan sakit. Namun, pemakaian berlebihan dan terus-menerus selama bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko gangguan hormon, terutama pada ibu hamil, anak-anak dan remaja, serta orang dengan gangguan hormon sebelumnya," tegasnya.

Tips Aman Menggunakan Parfum

Sebagai langkah preventif, Agil menyarankan masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan produk pewangi. Berikut adalah beberapa tips untuk meminimalkan risiko kesehatan tanpa harus meninggalkan hobi memakai parfum:

  • Semprotkan pada Pakaian: Hindari kontak langsung antara cairan parfum dengan kulit, terutama di area sensitif seperti leher atau ketiak.
  • Gunakan Secukupnya: Hindari pemakaian yang berlebihan secara frekuensi maupun volume.
  • Cek Label Produk: Jika memungkinkan, pilihlah produk yang secara eksplisit mencantumkan label phthalate-free atau paraben-free.

"Jika memungkinkan, pilih produk yang mencantumkan label 'phthalate-free' atau 'paraben-free'," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik