Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kasus Kanker Tiroid Melonjak Cepat, Ini Faktor Pemicunya

Muhammad Ghifari A
16/11/2025 09:35
Kasus Kanker Tiroid Melonjak Cepat, Ini Faktor Pemicunya
Ilustrasi(freepik)

ANGKA kanker tiroid meningkat lebih cepat di Amerika Serikat  dibandingkan kanker lainnya. Jumlahnya melonjak lebih dari tiga kali lipat di AS antara tahun 1980 dan 2016, telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan ahli kesehatan.

"Kanker tiroid tetap menjadi salah satu dari sedikit kanker yang terus meningkat seiring waktu, meskipun ada kemajuan dalam bidang kedokteran," kata Sanziana Roman, seorang ahli bedah endokrin di University of California San Francisco (UCSF).

Penyebab Awal Peningkatan

Awalnya, para ahli menduga peningkatan tajam kasus ini akibat  peningkatan diagnosis yang lebih baik. Sebuah fenomena yang dikenal sebagai overdiagnosis.

Sejak 1980-an, penggunaan ultrasonografi tiroid dan biopsi aspirasi jarum halus tahun 1990-an memungkinkan dokter mendeteksi tumor tiroid papiler berukuran sangat kecil. Di mana sebelumnya tidak terdeteksi melalui pemeriksaan fisik (palpasi).

"Dulu, dokter akan meraba kelenjar tiroid untuk mencari nodul," kata Cari Kitahara, seorang ahli epidemiologi di Institut Kanker Nasional di Maryland, AS. "Namun, dengan teknik seperti ultrasonografi, dokter dapat mengambil nodul berukuran lebih kecil... Hal ini meningkatkan deteksi kanker tiroid papiler berukuran kecil yang sebelumnya tidak dapat dirasakan melalui palpasi."

"Secara keseluruhan, pola-pola ini konsisten dengan diagnosis berlebihan, atau meningkatnya deteksi penyakit yang kemungkinan besar tidak akan pernah menyebabkan gejala atau kematian pada individu tersebut jika tidak terdeteksi," jelas Kitahara.

Perubahan praktik klinis kini telah terjadi, dengan dokter memilih pendekatan "menunggu dan mengamati" atau operasi parsial. Hal itu mengurangi penggunaan yodium radioaktif, yang mengurangi intervensi medis yang tidak perlu.

Faktor Lain yang Berkontribusi

Beberapa studi menunjukkan adanya peningkatan insiden penyakit yang sebenarnya yang didorong oleh faktor-faktor lain:

1. Obesitas dan IMT Tinggi

Peningkatan prevalensi obesitas secara signifikan dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker tiroid. "Orang dengan IMT tinggi memiliki kemungkinan lebih dari 50% lebih besar untuk didiagnosis kanker tiroid selama hidup mereka dan dikaitkan dengan risiko kematian akibat kanker tiroid yang lebih tinggi," jelas Kitahara.

Hubungan ini menunjukkan obesitas memengaruhi perkembangan dan progresi kanker, bukan hanya bias deteksi. Mekanisme yang mungkin meliputi peradangan, resistensi insulin, dan perubahan fungsi tiroid.

2. Paparan Radiasi Medis

Peningkatan signifikan dalam penggunaan pemindaian CT dan sinar-X sejak 1980-an, terutama pada anak-anak, dapat menjadi kontributor. Pemindaian CT memberikan dosis radiasi yang relatif tinggi pada kelenjar tiroid yang rentan.

"Kelenjar tiroid muda lebih rentan terhadap efek paparan radiasi dibandingkan kelenjar tiroid pada orang tua," kata Kitahara. Sebuah studi memperkirakan sekitar 3.500 kasus kanker tiroid per tahun di AS di masa depan akan disebabkan oleh tingkat pemindaian CT saat ini.

3. Peningkatan Kasus di Negara Berpenghasilan Menengah

Jika diagnosis berlebihan adalah satu-satunya penjelasan, kasus akan meningkat paling banyak di negara-negara berpenghasilan tinggi. Namun, Riccardo Vigneri, profesor emeritus endokrinologi di Universitas Catania, Italia, berpendapat bahwa negara-negara berpenghasilan menengah juga mengalami peningkatan.

"Angka kanker tiroid meningkat bahkan di lingkungan dan wilayah di dunia tanpa skrining yang kuat," tambah Roman.

Penemuan tumor yang lebih besar dan lebih agresif, serta peningkatan angka kematian di beberapa wilayah, semakin mendukung adanya faktor pemicu lain selain diagnosis tumor kecil.

Fenomena Multifaktorial

Para ahli menyimpulkan peningkatan kasus kanker tiroid kemungkinan besar merupakan hasil dari kombinasi beberapa faktor. "Kita mungkin mengamati fenomena multifaktorial yang mencakup pengaruh lingkungan, metabolisme, pola makan, dan hormonal, yang mungkin berinteraksi dengan kerentanan genetik yang mendasarinya," tutup Roman. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik