Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Studi Ungkap Diagnosis Kanker Berisiko Picu Perilaku Kriminal, Ini Faktornya

Putri Rosmalia Octaviyani
24/2/2026 23:01
Studi Ungkap Diagnosis Kanker Berisiko Picu Perilaku Kriminal, Ini Faktornya
Ilustrasi, seseorang mengalami depresi usai vonis kanker.(Dok. Freepik)

SEBUAH studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan internasional mengungkap temuan krusial mengenai dampak psikososial dari vonis penyakit kronis. Penelitian tersebut menunjukkan adanya korelasi antara diagnosis kanker dengan peningkatan risiko perilaku kriminal pada pasien, terutama dalam fase awal setelah terdeteksi.

Studi ini menyoroti bahwa tekanan mental yang ekstrem akibat vonis medis dapat memicu perubahan perilaku yang signifikan. Risiko ini ditemukan paling tinggi pada kurun waktu satu tahun pertama setelah pasien menerima hasil diagnosis dari dokter.

Faktor Pemicu: Stres Pasca-Trauma dan Tekanan Finansial

Para peneliti menekankan bahwa korelasi ini tidak bersifat biologis, melainkan situasional. Terdapat beberapa faktor utama yang diidentifikasi sebagai pemicu munculnya perilaku kriminal pada pasien kanker, di antaranya:

  • Gangguan Mental Akut: Syok hebat, depresi, dan kecemasan tinggi yang mengganggu fungsi kognitif dan kontrol diri.
  • Beban Finansial: Biaya pengobatan yang tinggi sering kali menciptakan tekanan ekonomi luar biasa bagi pasien dan keluarga.
  • Perubahan Neurologis: Pada jenis kanker tertentu yang menyerang otak, perubahan perilaku dapat terjadi akibat kerusakan jaringan saraf secara langsung.

Pentingnya Pendampingan Psiko-Onkologi

Merespons temuan ini, para ahli kesehatan di Indonesia mengingatkan pentingnya integrasi layanan kesehatan mental dalam paket pengobatan kanker. Dukungan psikologis atau psiko-onkologi dinilai sama pentingnya dengan tindakan medis seperti kemoterapi.

Studi ini tidak bertujuan untuk menstigma pasien kanker sebagai pelaku kriminal, melainkan sebagai peringatan bagi penyedia layanan kesehatan untuk memberikan dukungan mental yang lebih intensif guna mencegah keputusasaan pasien.

Hingga saat ini, komunitas medis terus mendorong adanya skrining kesehatan mental rutin bagi setiap pasien yang baru didiagnosis kanker. Langkah ini diharapkan dapat membantu pasien beradaptasi dengan kondisi mereka secara lebih sehat dan mencegah terjadinya tindakan yang merugikan diri sendiri maupun masyarakat luas.

Fase Diagnosis Tingkat Risiko Psikososial
0 - 6 Bulan Pertama Sangat Tinggi (Fase Syok)
6 - 12 Bulan Tinggi (Fase Adaptasi/Depresi)
Di atas 1 Tahun Moderat (Tergantung Dukungan Sosial)

Dengan adanya data ini, diharapkan kebijakan kesehatan nasional ke depan dapat lebih inklusif dalam menangani aspek emosional pasien kronis guna menjaga stabilitas sosial di tengah masyarakat. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya