Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Mengenal Skizofrenia, Gangguan Mental yang Dapat Mengubah Pola Pikir dan Perilaku

Bimo Aria Seno
11/11/2025 11:10
Mengenal Skizofrenia, Gangguan Mental yang Dapat Mengubah Pola Pikir dan Perilaku
Ilustrasi(freepik)

SKIZOFRENIA merupakan salah satu gangguan mental berat yang dapat memengaruhi perilaku, emosi, dan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi. Penderitanya kerap mengalami halusinasi, delusi, pola pikir yang kacau, serta perubahan perilaku yang signifikan.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat sekitar 24 juta orang di dunia yang hidup dengan skizofrenia. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI pada 2023 mencatat sekitar 6,1% penduduk berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental, termasuk skizofrenia. 

Penderita skizofrenia diketahui memiliki risiko kematian 2-3 kali lebih tinggi pada usia muda. Hal ini umumnya disebabkan penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, atau infeksi. Selain itu, penderita juga lebih rentan melakukan percobaan bunuh diri.

Penyebab skizofrenia

Hingga kini, penyebab pasti skizofrenia masih menjadi fokus penelitian. Namun, sejumlah faktor diduga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan ini, antara lain:

  • Riwayat skizofrenia pada anggota keluarga kandung.
  • Ketidakseimbangan zat kimia di otak, seperti dopamin dan serotonin.
  • Komplikasi selama kehamilan atau persalinan, misalnya kekurangan nutrisi, paparan racun atau virus, preeklamsia, kekurangan oksigen saat lahir (asfiksia), atau kelahiran prematur.
  • Faktor lingkungan, seperti stres akibat perceraian, kehilangan pekerjaan, atau trauma karena kekerasan fisik, emosional, maupun pelecehan seksual.
  • Penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang (NAPZA), termasuk ganja, kokain, dan amfetamin.

Gejala skizofrenia

Skizofrenia biasanya berkembang secara perlahan dan sering kali tidak disadari pada masa remaja. Gejala awal yang muncul dapat berupa menarik diri dari lingkungan sosial, sulit tidur, penurunan prestasi, kehilangan motivasi, serta mudah marah dan tertekan. Secara umum, gejala skizofrenia dibagi menjadi dua kelompok:

  1. Gejala positif, yaitu gejala yang menunjukkan adanya perubahan perilaku atau pola pikir yang tidak normal, seperti halusinasi, delusi, serta kekacauan dalam berpikir atau bertindak.
  2. Gejala negatif, yakni gejala yang menunjukkan hilangnya kemampuan atau minat seseorang, seperti ekspresi wajah datar, tidak peduli terhadap penampilan, atau kehilangan motivasi.

Pengobatan skizofrenia

Tujuan utama pengobatan skizofrenia adalah mengendalikan dan meredakan gejala agar penderita dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik. Pengobatan harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan seumur hidup. Beberapa metode pengobatan yang umum digunakan meliputi:

  • Obat antipsikotik, seperti aripiprazole, clozapine, dan chlorpromazine, untuk membantu mengatasi halusinasi dan delusi.
  • Psikoterapi, guna membantu penderita mengendalikan gejala serta meningkatkan kemampuan sosial dan emosional, biasanya dikombinasikan dengan pengobatan medis.
  • Terapi elektrokonvulsi (ECT), yang diberikan bila pengobatan dengan obat-obatan tidak efektif. Terapi ini dilakukan dengan mengalirkan arus listrik bertegangan rendah untuk menstabilkan aktivitas kimia di otak.
  • Transcranial Magnetic Stimulation (TMS), digunakan untuk mengurangi halusinasi serta gejala negatif skizofrenia.

Pencegahan skizofrenia

Untuk mencegah skizofrenia sepenuhnya sulit dilakukan. Namun, ada beberapa langkah yang dapat membantu menurunkan risikonya, seperti:

  • Menghindari penggunaan NAPZA dan konsumsi alkohol.
  • Berkonsultasi dengan tenaga medis bila pernah mengalami kekerasan fisik, mental, atau trauma masa lalu.
  • Mengelola stres dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan.
  • Menjaga hubungan sosial dan tidak mengisolasi diri.
  • Menerapkan pola hidup sehat, termasuk konsumsi makanan bergizi dan olahraga teratur.
  • Menghindari cedera kepala, misalnya dengan menggunakan helm saat berkendara.
  • Menjaga kesehatan fisik dan mental selama masa kehamilan.

Skizofrenia merupakan gangguan mental berat yang berdampak luas pada perilaku, emosi, dan kemampuan seseorang berinteraksi sosial. Meski penyebab pastinya belum diketahui, kombinasi faktor genetik, biologis, dan lingkungan diyakini berperan dalam kemunculannya.

Gangguan ini memerlukan penanganan jangka panjang melalui pengobatan medis dan terapi psikologis agar gejalanya dapat dikendalikan. Pencegahan total memang sulit dilakukan, namun menjaga kesehatan mental, menghindari penyalahgunaan NAPZA, serta mengelola stres dan trauma dapat membantu menurunkan risikonya. 

Apabila ada anggota keluarga atau orang terdekat yang menunjukkan gejala skizofrenia, segera lakukan konsultasi dengan dokter. Pemeriksaan dan penanganan dini dapat membantu mengendalikan gejala, sehingga penderita dapat beradaptasi dan hidup dengan lebih baik. (alodokter/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya