Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Kanker Paru-Paru: Ancaman Serius yang Mengintai Nonperokok di Usia Produktif

Basuki Eka Purnama
27/2/2026 09:07
Kanker Paru-Paru: Ancaman Serius yang Mengintai Nonperokok di Usia Produktif
Ilustrasi(Freepik)

ANGGAPAN bahwa kanker paru-paru hanya menyerang perokok aktif kini terpatahkan oleh realitas medis terbaru. Dr. Tanujaa Rajasekaran, Konsultan Senior Onkologi Medis dari Parkway Cancer Centre (PCC), mengungkapkan bahwa kanker paru-paru merupakan jenis kanker paling umum kedua yang ditemukan pada pria maupun wanita, termasuk mereka yang tidak merokok.

Dalam media briefing bertajuk “Pergeseran Demografi Kanker di Indonesia: Kanker Paru pada Usia Produktif” di Jakarta, Kamis (26/2), Tanujaa memaparkan data persebaran kasus ini di masyarakat.

“Jadi di antara laki-laki, kanker paru-paru jadi kasus nomor satu, tapi pada wanita, itu ranking terbanyak nomor lima. Dan kalau disatukan antara laki-laki dan perempuan, kanker paru ada di nomor dua, jadi di semua populasi kejadian paling umum kanker paru-paru,” ujar Tanujaa.

Perbedaan Jenis Kanker pada Perokok dan Nonperokok

Secara medis, terdapat perbedaan jenis kanker yang menjangkiti pasien berdasarkan kebiasaan merokok mereka. 

Tanujaa menjelaskan bahwa sekitar 10% pasien perokok dapat mengidap kanker paru-paru sel kecil. Sebaliknya, 90% pasien lainnya, yang didominasi oleh kelompok nonperokok, terkena jenis kanker paru-paru nonsel kecil.

Hingga saat ini, para peneliti masih mendalami penyebab pasti munculnya kanker paru pada nonperokok. Dugaan kuat mengarah pada abnormalitas mutasi sel yang berkembang menjadi mutasi gen kanker tanpa terkendali. 

Faktor usia yang memicu penurunan fungsi sel, ditambah paparan faktor lingkungan, turut memperbesar risiko seseorang terkena penyakit ini.

Tantangan Deteksi dan Angka Kematian

Salah satu tantangan terbesar kanker paru dibandingkan dengan kanker prostat, payudara, atau usus besar adalah tingginya angka kematian. Hal ini disebabkan oleh minimnya gejala awal, sehingga banyak pasien baru terdiagnosis saat sudah memasuki stadium akhir.

“Berbeda dengan kanker paru-paru, itu biasanya terjadi di stadium yang sudah akhir, yang sudah lanjut begitu gejala timbul dan banyak yang sudah metastasis artinya sudah menyebar di organ tubuh lainnya, dan semakin lama kanker paru terdeteksi semakin rendah harapan hidupnya,” jelasnya.

Gejala umum yang patut diwaspadai meliputi rasa mudah lelah, nyeri dada, batuk berkepanjangan yang tidak kunjung berhenti, serta penurunan berat badan secara drastis tanpa alasan yang jelas. 

Sering kali, gejala ini baru terasa signifikan ketika penyakit sudah mencapai stadium tiga atau empat.

Pentingnya Skrining Dini

Tanujaa menekankan bahwa deteksi dini adalah kunci untuk meningkatkan peluang kesembuhan. 

Bagi individu yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker paru atau merasakan gejala kelelahan kronis, sangat disarankan untuk melakukan CT Scan dosis rendah. Prosedur ini terbukti mampu menekan angka kematian akibat kanker paru hingga 20%.

“Ketika kita screening untuk deteksi dini, ketika di deteksi di kita punya kanker stadium 1, itu harapan hidupnya bisa sampai 90% lebih. Bandingkan ketika kita sudah mencapai di stadium 4, itu turun jauh menjadi hanya sekitar 20%,” tutupnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya