Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Mengapa Perempuan Nonperokok di Indonesia Kini Rentan Terkena Kanker Paru?

Putri Rosmalia Octaviyani
26/2/2026 23:41
Mengapa Perempuan Nonperokok di Indonesia Kini Rentan Terkena Kanker Paru?
Ilustrasi paru-paru manusia.(Dok. Freepik)

ANGGAPAN bahwa kanker paru hanya menyerang perokok berat kini mulai terpatahkan oleh realita medis di Indonesia. Data terbaru tahun 2026 menunjukkan lonjakan kasus kanker paru pada kelompok perempuan yang tidak pernah merokok (never-smokers), bahkan di usia yang relatif muda.

Dokter Subspesialis Onkologi Toraks, Sita Laksmi Andarini, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh kombinasi antara faktor lingkungan yang memburuk dan kerentanan genetik yang spesifik pada populasi Asia.

1. Mutasi Genetik EGFR: 'Saklar' Kanker pada Perempuan Asia

Salah satu penyebab utama mengapa perempuan nonperokok rentan terkena kanker paru adalah adanya mutasi pada gen Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR). Pada populasi Asia, prevalensi mutasi EGFR pada pasien kanker paru jenis adenokarsinoma mencapai 40-60%, jauh lebih tinggi dibandingkan populasi Eropa yang hanya sekitar 10-15%.

Mutasi ini menyebabkan sel-sel di paru-paru tumbuh secara tidak terkendali meskipun pasien tidak terpapar zat karsinogen dari asap rokok secara langsung. Kondisi ini sering ditemukan pada perempuan, non-perokok, dan pasien usia muda.

2. Polusi Udara PM2,5 sebagai Pemicu (Trigger)

Polusi udara, khususnya partikel halus berukuran 2,5 mikron (PM2,5), berperan sebagai "pematik" yang membangunkan sel-sel dengan mutasi genetik tersebut. Mekanismenya adalah sebagai berikut:

  • Partikel PM2,5 yang terhirup masuk jauh ke dalam jaringan paru.
  • Sel imun (makrofag) mencoba menelan partikel tersebut namun justru melepaskan zat kimia bernama sitokin.
  • Sitokin ini memicu peradangan yang kemudian mengaktifkan sel-sel yang sudah memiliki mutasi EGFR untuk mulai berkembang biak menjadi tumor.

3. Faktor Lingkungan dan Riwayat Kesehatan

Selain polusi udara luar ruang, dr. Sita juga menyoroti beberapa faktor risiko lain yang sering diabaikan oleh perempuan di Indonesia:

Faktor Risiko Penjelasan
Asap Masak Paparan asap dari pembakaran kayu atau minyak goreng dalam ruangan dengan ventilasi buruk.
Perokok Pasif Paparan asap rokok dari pasangan atau lingkungan kerja (Second-hand smoke).
Bekas Luka Paru Riwayat penyakit paru seperti Tuberkulosis (TBC) yang meninggalkan jaringan parut di paru-paru.

Kapan Harus Waspada?

Karena gejala kanker paru sering kali tidak muncul pada stadium awal, dr. Sita menyarankan deteksi dini atau skrining menggunakan Low-Dose CT Scan (LDCT) bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker paru atau tinggal di wilayah dengan polusi tinggi, meskipun mereka tidak merokok.

"Jangan menunggu batuk darah atau sesak napas. Jika Anda berada di kelompok berisiko, lakukan pemeriksaan secara berkala karena stadium dini memiliki peluang kesembuhan yang jauh lebih besar," pungkasnya. (Ant/H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya