Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Dokter Ungkap Kanker Paru Meningkat di Usia 30-40 Tahun, tak hanya karena Rokok

Nadhira Izzati A
26/2/2026 21:57
Dokter Ungkap Kanker Paru Meningkat di Usia 30-40 Tahun, tak hanya karena Rokok
Dr. Tanujaa tengah menjelaskan faktor, gejala, risiko, hingga pengobatan penyakit kanker paru saat media briefing di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026).(MI/Nadhira)

KANKER paru-paru kini tidak lagi identik sebagai penyakit lansia atau dampak eksklusif bagi perokok berat. Paradigma ini bergeser drastis seiring meningkatnya diagnosis pada individu berusia 30 hingga 40 tahun, termasuk mereka yang bukan perokok dan menjalani gaya hidup aktif. Pergeseran demografi ini menandakan adanya ancaman baru yang mengintai populasi usia produktif di Indonesia.

Menurut studi selama 18 tahun (2002-2019) di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, hampir 63 persen kasus kanker justru ditemukan pada rentang usia produktif 30-59 tahun. Fenomena ini menegaskan bahwa kanker semakin banyak menyerang populasi usia produktif.

Di Indonesia, kanker paru merupakan jenis kanker nomor satu yang paling banyak menyerang laki-laki, sementara pada perempuan menempati urutan kelima. Jika data kedua gender digabungkan, kanker paru menjadi kanker paling umum kedua secara keseluruhan.

Namun, hal yang paling mengkhawatirkan adalah statusnya yang memiliki tingkat kematian atau mortalitas tertinggi dibandingkan jenis kanker lainnya. 

Kanker paru terjadi akibat pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali di dalam paru-paru. Dr. Tanujaa Rajasekaran, Senior Consultant Medical Oncologist dari Parkway Cancer Centre (PCC) menjelaskan bahwa sel normal yang mengalami mutasi akan tumbuh terus-menerus tanpa henti, yang pada akhirnya mengganggu fungsi normal paru-paru. Karakteristik sel kanker ini sangat berbahaya karena kemampuannya untuk menyebar  ke organ lain.

"Sel kanker bisa bermula di paru-paru dan akhirnya menyebar ke hati, tulang, otak, atau bagian tubuh lainnya," jelasnya dalam sesi media briefing di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, Kamis (26/2).

Bukan Hanya Rokok, Lingkungan Juga Memicu Kanker Paru

Dr. Tanujaa turut menyoroti profil pasien kanker paru yang terus berubah serta mendesaknya kebutuhan deteksi dini. Ia menekankan bahwa meskipun merokok tetap menjadi pemicu utama, faktor lainnya seperti lingkungan juga memegang peran besar.

“Meskipun merokok masih menjadi faktor risiko utama, kami semakin sering menemukan pasien berusia lebih muda dan pasien yang tidak memiliki riwayat merokok. Faktor risiko seperti perokok pasif, polusi udara, paparan di tempat kerja, serta faktor genetika adalah kontributor penting yang tidak boleh diabaikan,” jelasnya.

Tantangan utama dalam penanganan kanker paru-paru adalah keterlambatan diagnosis. Gejala awal seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, nyeri dada, atau sesak napas sering kali dianggap sebagai penyakit pernapasan biasa. Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium III atau IV, ketika pengobatan menjadi jauh lebih kompleks, sehingga deteksi dini sangat diperlukan.

"Ketika gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, hal tersebut tidak boleh  diabaikan. Evaluasi tepat waktu dan skrining yang sesuai dapat memberikan perbedaan yang bermakna terhadap tingkat kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien," tambahnya.

Harapan Baru Imunoterapi Sebagai Pengobatan Kanker Paru

Selama dua dekade terakhir, pengobatan kanker paru telah bergeser dari pendekatan yang didominasi oleh kemoterapi menuju perawatan yang sangat terpersonalisasi. Saat ini, keputusan pengobatan didasarkan pada jenis, stadium, dan profil genetik kanker sehingga dokter dapat menyesuaikan terapi sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Durasi imunoterapi ini pun juga sangat bergantung pada jenis dan stadium kanker pasien. Untuk stadium awal atau stadium tiga tertentu, imunoterapi mungkin hanya diberikan selama satu tahun. Namun, untuk kasus stadium empat, pengobatan ini bisa bersifat jangka panjang.

"Jika kita berbicara tentang kanker paru stadium empat atau metastatik, umumnya imunoterapi dilakukan (dalam) jangka panjang selama kanker tersebut masih memberikan respons terhadap pengobatan." tutur Dr. Tanujaa. (Z-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya