Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis gigi umum Rumah Sakit Universitas Indonesia Deasy Rosalina mengingatkan bahwa perokok aktif rentan mengalami masalah pada gigi dan gusi karena paparan zat karsinogenik pada rokok.
"Pada kasus-kasus rokok, bisa terjadi. Tiba-tiba giginya goyang, padahal tidak ada lubang. Karena sudah sampai pada periodontitis tingkat
lanjut yang tidak diobati, sehingga pelekatan antara gigi dengan tulang itu menjadi sangat jauh," kata Deasy, dikutip Kamis (5/6).
Peradangan gusi dan kehilangan gigi menjadi masalah yang paling sering ditemui pada perokok aktif. Rokok dapat berefek pada lemahnya jaringan penyangga gigi atau jaringan periodontal.
Mulanya, perokok akan mengalami gingivitis atau peradangan gusi dengan ciri gusi bengkak dan mudah berdarah.
Jika gingivitis tidak diatasi, akan berkembang menjadi periodontitis atau infeksi jaringan penyangga gigi.
Pada tahap infeksi penyangga gigi, tulang gigi akan rusak parah kemudian gigi akan goyang dan lepas, bahkan sebelum karies gigi terjadi.
Selain itu, perokok juga rentan terhadap kalkulus gigi atau karang gigi dan resesi gingiva atau sering dikenal dengan turun gusi.
Karang gigi akan mengeras karena air liur yang mengering yang akan menyebabkan gusi menyusut dan leher hingga akar gigi terekspos.
"Ini yang meningkatkan sensitivitas gigi. Jadi, kadang orang perokok itu akan merasa, kok giginya jadi lebih panjang ya? Padahal bukan
memanjang sebetulnya, tapi memang akar giginya itu terekspos atau terbuka karena adanya resesi gingiva," kata Deasy.
Asap rokok bisa menyebabkan gigi berubah menjadi lebih kuning, bahkan pada perokok pasif.
Deasy juga mengingatkan dampak merokok juga bisa terlihat pada lidah dan gusi yang berwarna kehitaman atau dikenal sebagai smoker's melanosis.
Tanda lesi prakanker juga bisa terjadi di sekitar pipi atau lokasi lainnya pada mulut, yang terkena rokok. Lesi ini berupa bercak putih di dalam rangka mulut yang sangat erat hubungannya dengan penggunaan rokok.
Kanker yang dapat terjadi karena merokok yakni kanker bibir, kanker lidah, kanker langit-langit dan kanker gusi dengan ciri sariawan di beberapa tempat area mulut dan rasa nyeri serta susah menelan. (Ant/Z-1)
Ketiga masalah itu adalah ketidakharmonisan susunan gigi (maloklusi), gigi berlubang, serta masih rendahnya kesadaran akan perawatan gigi preventif secara rutin.
Saat ini tantangan CKG masih sama untuk di daerah yakni keterjangkauan, meski begitu ada beberapa daerah yang sudah mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Jumlah perokok di Inggris turun ke level terendah sepanjang sejarah, namun pengguna vape meningkat tajam, terutama di kalangan anak muda.
Sensasi mentol yang dicampur dengan tembakau ternyata dapat menurunkan kepekaan reseptor di saluran pernapasan yang berfungsi mendeteksi iritasi akibat nikotin.
Tinggi badan anak dari keluarga perokok lebih pendek 0,34 cm dibanding anak dari keluarga tidak merokok.
Sebanyak 12% remaja laki-laki usia 12–19 tahun merupakan perokok aktif, sementara 24% menggunakan rokok elektronik.
Baru-baru ini terjadi perdebatan antara ustaz yang merokok dan yang mengharamkan rokok. Untuk lebih jelasnya berikut paparan pendapat ulama tentang hukum rokok.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved