Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Mengenal PM2,5: Partikel Halus yang 'Membangunkan' Sel Kanker di Paru-Paru Perempuan

Putri Rosmalia Octaviyani
26/2/2026 23:04
Mengenal PM2,5: Partikel Halus yang 'Membangunkan' Sel Kanker di Paru-Paru Perempuan
Warga memakai masker karena peduli kesehatan melewati polusi udara.(Dok. Antara)

SELAMA puluhan tahun, dunia medis meyakini bahwa kanker paru dipicu oleh kerusakan DNA akibat zat kimia dalam rokok. Namun, riset terbaru di tahun 2026 mempertegas fenomena berbeda: polusi udara, khususnya Particulate Matter 2,5 (PM2,5), bertindak sebagai "saklar" yang menghidupkan sel kanker pada orang yang tidak pernah merokok, terutama perempuan.

PM2,5 adalah partikel padat atau cair di udara yang ukurannya lebih kecil dari 2,5 mikrometer—sekitar 30 kali lebih halus dari diameter sehelai rambut manusia. Karena ukurannya yang mikroskopis, partikel ini tidak tersaring oleh bulu hidung dan langsung meluncur ke bagian terdalam paru-paru (alveoli), bahkan menembus aliran darah.

Mekanisme 'Membangunkan' Sel Mutan

Berbeda dengan asap rokok yang langsung merusak gen, PM2,5 bekerja dengan cara yang lebih licik. Berdasarkan studi dari Francis Crick Institute, berikut adalah tahapan bagaimana polusi memicu kanker pada nonperokok:

  1. Keberadaan Sel Mutan Tidur: Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia secara alami memiliki sel-sel dengan mutasi genetik (seperti EGFR atau KRAS) yang bersifat "tidur" atau tidak aktif.
  2. Infiltrasi PM2,5: Saat seseorang menghirup udara polusi, partikel PM2,5 masuk dan memicu reaksi peradangan hebat di jaringan paru.
  3. Pelepasan Interleukin-1-beta (IL-1β): Sebagai respons terhadap iritasi PM2,5, sel imun makrofag melepaskan protein peradangan yang disebut IL-1β.
  4. Aktivasi Kanker: Protein IL-1β inilah yang kemudian "membangunkan" sel-sel mutan yang tadinya diam, memicu mereka untuk membelah diri secara liar hingga menjadi tumor ganas (adenokarsinoma).

Mengapa Perempuan Asia Lebih Rentan?

Data menunjukkan bahwa perempuan keturunan Asia memiliki prevalensi mutasi EGFR yang jauh lebih tinggi (sekitar 50%) dibandingkan populasi Barat. Hal ini menjelaskan mengapa paparan polusi di kota-kota besar Indonesia memberikan dampak yang lebih fatal bagi perempuan nonperokok di tanah air.

Sumber Utama PM2,5 di Indonesia

Mata uang kesehatan kita sedang terancam oleh emisi yang tidak terkendali. Berikut adalah sumber utama PM2,5 yang harus diwaspadai:

Sumber Polusi Dampak Spesifik
Transportasi (Diesel & Bensin) Penyumbang terbesar PM2,5 di area urban seperti Jakarta dan Surabaya.
Industri & PLTU Batu Bara Melepaskan partikel halus yang terbawa angin hingga ratusan kilometer.
Pembakaran Sampah Terbuka Menghasilkan asap pekat dengan konsentrasi PM2,5 yang sangat tinggi di level pemukiman.

Langkah Proteksi Diri

Mengingat kita tidak bisa memilih udara yang kita hirup, para ahli onkologi menyarankan langkah-langkah berikut:

  • Gunakan Masker Standar N95/KN95: Masker kain biasa tidak mampu menyaring partikel PM2,5 yang sangat halus.
  • Pantau AQI (Air Quality Index): Hindari aktivitas luar ruangan saat indeks kualitas udara menunjukkan warna merah atau ungu.
  • Air Purifier dengan Filter HEPA: Gunakan di dalam ruangan untuk memastikan udara di rumah tetap bersih dari partikel halus.
  • Skrining LDCT: Bagi perempuan usia di atas 40 tahun yang tinggal di daerah polusi tinggi, konsultasikan skrining Low-Dose CT Scan untuk deteksi dini.

Kesadaran akan bahaya PM2,5 bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan upaya penyelamatan nyawa dari ancaman kanker yang "tersembunyi" di balik kabut polusi. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya