Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
MENAMBAHKAN kayu ke dalam perapian di malam musim dingin yang dingin mungkin terasa nyaman. Namun, penelitian terbaru dari Northwestern University mengungkapkan aktivitas ini memiliki dampak buruk yang jauh lebih besar terhadap polusi udara dibandingkan yang disadari banyak orang.
Studi yang diterbitkan pada 23 Januari di jurnal Science Advances ini menemukan meskipun hanya 2% rumah tangga di Amerika Serikat yang menggunakan kayu sebagai sumber panas utama, pembakaran kayu bertanggung jawab atas lebih dari seperlima paparan partikel halus berbahaya (PM2.5) selama musim dingin.
Partikel mikroskopis PM2.5 sangat berbahaya karena ukurannya yang cukup kecil untuk masuk ke dalam paru-paru dan aliran darah. Paparan jangka panjang telah dikaitkan dengan penyakit jantung, paru-paru, hingga kematian dini. Berdasarkan analisis tim peneliti, polusi dari pembakaran kayu rumah tangga diperkirakan berkaitan dengan sekitar 8.600 kematian dini setiap tahunnya.
"Paparan jangka panjang terhadap partikel halus dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular," ujar Kyan Shlipak, pemimpin studi dari Northwestern. "Studi kami menyarankan bahwa salah satu cara untuk mengurangi polusi ini secara substansial adalah dengan mengurangi pembakaran kayu di rumah."
Salah satu temuan paling mengejutkan adalah dampak kesehatan terbesar justru dialami penduduk di perkotaan, bukan di pedesaan. Asap yang dihasilkan di pinggiran kota sering kali tertiup angin menuju pusat kota yang lebih padat penduduknya.
Data menunjukkan kelompok masyarakat kulit berwarna menanggung risiko kesehatan yang jauh lebih tinggi, meskipun mereka secara kolektif membakar lebih sedikit kayu. Di wilayah metropolitan Chicago, misalnya, komunitas kulit hitam menghadapi efek kesehatan negatif 30% lebih tinggi dibandingkan rata-rata kota.
"Banyak emisi pembakaran kayu berasal dari pinggiran kota, tetapi polutan di udara biasanya tidak tetap di tempatnya," jelas Daniel Horton, penulis senior studi tersebut. "Ketika polusi ini berpindah ke kota-kota yang padat penduduk, lebih banyak orang terpapar."
Berbeda dengan asap kebakaran hutan yang sering mendominasi pemberitaan, polusi dari pemanas rumah harian jarang mendapat pengawasan serupa. Padahal, beralih ke alat pemanas yang lebih bersih dapat memberikan dampak yang luar biasa terhadap kualitas udara secara keseluruhan.
Tim peneliti menggunakan model atmosfer beresolusi tinggi untuk memetakan bagaimana polusi berpindah, mencakup setiap blok 4 kilometer persegi di seluruh Amerika Serikat. Hasilnya mengonfirmasi pembakaran kayu adalah salah satu sumber tunggal terbesar polusi partikel halus selama bulan-bulan terdingin.
Temuan ini menjadi peringatan bagi pembuat kebijakan untuk mulai memfasilitasi transisi pemanas rumah ke sumber energi yang tidak menghasilkan asap, demi menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahunnya. (Science Daily/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved