Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Hidup Sehat tak Selalu Menjamin Bebas Kanker Ginjal, Dokter Jelaskan Peran Faktor Genetik

N Apuan Iskandar
11/3/2026 18:00
Hidup Sehat tak Selalu Menjamin Bebas Kanker Ginjal, Dokter Jelaskan Peran Faktor Genetik
Ilustrasi(Freepik.com)

MENERAPKAN pola hidup sehat seperti tidak merokok, menjaga berat badan ideal, rajin berolahraga, dan mengonsumsi makanan bergizi memang penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Namun, gaya hidup sehat tidak selalu menjamin seseorang terbebas dari risiko kanker, termasuk kanker ginjal.

Dokter spesialis anak konsultan hematologi-onkologi, Nur Melani Sari, menjelaskan bahwa kanker merupakan penyakit yang memiliki penyebab sangat kompleks. Tidak hanya dipengaruhi oleh gaya hidup, tetapi juga oleh faktor genetik dan berbagai proses biologis yang terjadi di dalam tubuh.

“Sering kali ada pertanyaan, kenapa seseorang yang sudah menjaga pola hidup sehat tetap bisa terkena kanker. Sebenarnya kita semua memiliki potensi untuk mengalami kanker, karena setiap sel dalam tubuh terus membelah dan berkembang,” kata Dr. Nur Melani Sari, Sp.A, Subsp.HO(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hemato Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Menurutnya, dalam proses pembelahan sel tersebut terdapat banyak mekanisme yang bekerja untuk memastikan sel berkembang secara normal. Namun dalam beberapa kondisi, proses tersebut dapat mengalami gangguan sehingga sel berkembang secara tidak normal dan berpotensi menjadi kanker.

“Proses dari sel normal menjadi sel yang tidak normal itu algoritmenya sangat kompleks. Banyak sekali faktor yang berperan, mulai dari faktor genetik di dalam DNA hingga faktor lingkungan yang memengaruhi ekspresi gen,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa faktor genetik memiliki peran penting dalam pembentukan kanker. Genetik yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan struktur DNA yang diwariskan dari orang tua, tetapi juga kondisi lingkungan di sekitar DNA yang dikenal sebagai epigenetik.

“Genetiknya bisa berkaitan langsung dengan cetakan sel atau DNA, tetapi ada juga yang dipengaruhi oleh lingkungan DNA atau epigenetik. Jadi penyebab kanker itu tidak hanya satu faktor saja,” kata Dr. Melani.

Kompleksitas faktor tersebut membuat para ilmuwan hingga kini masih terus melakukan penelitian untuk memahami secara lebih mendalam mekanisme terbentuknya kanker.

“Walaupun penelitian terus berkembang, tetap ada faktor-faktor yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan. Jadi memang ada semacam ‘X factor’ dalam proses terbentuknya kanker,” ujarnya.

Dalam konteks kanker ginjal pada anak, Dr. Melani menambahkan bahwa penyebabnya juga berbeda dengan kanker pada orang dewasa. Pada anak, kanker lebih sering berkaitan dengan gangguan perkembangan sel saat organ sedang tumbuh.

Salah satu jenis kanker ginjal yang paling sering terjadi pada anak adalah tumor Wilms atau nephroblastoma. Penyakit ini biasanya muncul pada usia balita hingga anak usia sekolah awal dan berkaitan dengan proses perkembangan sel ginjal yang tidak berjalan normal.

Karena sifatnya yang berkaitan dengan perkembangan sel, kanker pada anak umumnya tidak bisa dicegah secara langsung seperti penyakit lain yang dipicu oleh gaya hidup.

“Untuk kanker pada anak, sampai saat ini belum ada pencegahan primer yang benar-benar bisa dilakukan. Artinya kita tidak bisa memastikan seorang anak tidak akan terkena kanker,” jelasnya.

Meski demikian, deteksi dini tetap menjadi kunci penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan. Menurut Dr. Melani, kanker pada anak sebenarnya memiliki tingkat kesembuhan yang cukup tinggi apabila ditemukan sejak tahap awal.

“Jika ditemukan lebih dini, pengobatan bisa dilakukan lebih cepat dan peluang sembuhnya juga lebih besar,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan orang tua terhadap perubahan kondisi tubuh anak, termasuk jika muncul gejala yang tidak biasa seperti perut membesar, demam berkepanjangan, atau perubahan warna urin.

Selain itu, pemeriksaan kesehatan rutin tetap dianjurkan terutama pada anak yang memiliki kondisi tertentu atau sindrom genetik yang meningkatkan risiko kanker.

“Pada beberapa sindrom genetik tertentu, anak memang perlu menjalani pemeriksaan berkala, misalnya melalui USG secara rutin, untuk memastikan jika ada perubahan dapat diketahui lebih awal,” ujarnya.

Meski gaya hidup sehat tidak sepenuhnya dapat mencegah kanker, Dr. Melani menegaskan bahwa kebiasaan tersebut tetap penting diterapkan sejak dini. Pola makan sehat, aktivitas fisik yang cukup, serta lingkungan yang sehat tetap memberikan manfaat besar bagi kesehatan anak secara keseluruhan.

“Pola hidup sehat tetap penting karena membantu menjaga kesehatan tubuh secara umum. Namun kita juga harus memahami bahwa kanker adalah penyakit yang kompleks dan tidak selalu bisa dijelaskan hanya oleh satu faktor saja,” katanya. (H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya