Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Surat Nuh: Asbabun Nuzul, Pesan Pokok, dan Keutamaan Membacanya

Wisnu Arto Subari
27/1/2026 23:48
Surat Nuh: Asbabun Nuzul, Pesan Pokok, dan Keutamaan Membacanya
Ilustrasi.(Freepik)

DALAM Al-Qur'an, kisah para nabi sering kali tersebar di berbagai surat. Namun, Nabi Nuh AS memiliki keistimewaan tersendiri dengan adanya satu surat utuh yang didedikasikan khusus untuk menceritakan perjuangan dakwahnya, yakni Surat Nuh (Surat ke-71).

Bagi umat Islam di tahun ini, mentadabburi Surat Nuh bukan sekadar membaca sejarah masa lalu, melainkan menemukan kunci pembuka rezeki dan manajemen kesabaran dalam menghadapi tantangan zaman. Berikut ulasan mendalam mengenai Asbabun Nuzul, pesan pokok, dan keutamaannya.

Identitas Surat Nuh

Arti Nama Nabi Nuh AS
Klasifikasi Makkiyah (Turun di Mekah)
Jumlah Ayat 28 Ayat
Urutan Pewahyuan Surat ke-71 (setelah An-Nahl)

1. Asbabun Nuzul: Hiburan bagi Rasulullah SAW

Berbeda dengan beberapa surat yang turun karena pertanyaan spesifik atau kejadian insidental (seperti Al-Ma'arij atau Al-Mujadilah), para ulama tafsir menjelaskan bahwa Surat Nuh tidak memiliki sabab nuzul mikro untuk per ayatnya. Namun, ada konteks makro yang sangat penting dipahami.

Surat ini tergolong Makkiyah, yang berarti turun saat Nabi Muhammad SAW masih berada di Mekah. Pada fase ini, Rasulullah SAW menghadapi penolakan, cemoohan, dan siksaan berat dari kaum Quraisy. Allah SWT menurunkan surat ini sebagai tasliyah (penghibur hati) dan penguat mental bagi Nabi Muhammad SAW.

Melalui kisah Nabi Nuh yang berdakwah selama 950 tahun. Namun ia hanya mendapatkan sedikit pengikut. 

Allah ingin menegaskan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa penolakan kaumnya bukanlah tanda kegagalan, melainkan sunnatullah yang juga dialami rasul-rasul Ulul Azmi sebelumnya.

2. Pesan Pokok dan Kandungan Utama

Surat Nuh unik karena dari awal hingga akhir hanya fokus pada satu tema: Perjuangan Dakwah Nabi Nuh. Berikut poin-poin krusialnya:

A. Totalitas dalam Berdakwah (Ayat 5-9)

Nabi Nuh mengadu kepada Allah tentang kegigihannya. Ia berdakwah siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Ini mengajarkan kita tentang etos kerja dan kegigihan dalam menyeru kebaikan tanpa mengenal waktu.

Baca juga: Surat An-Naziat Asbabun Nuzul, Kandungan, Keutamaan, Teks, dan Artinya

B. The Power of Istighfar (Ayat 10-12)

Ini adalah bagian paling fenomenal dari Surat Nuh. Nabi Nuh menawarkan solusi konkret bagi masalah duniawi kaumnya melalui Istighfar. Allah berfirman:

"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.'" (QS. Nuh: 10-12)

Ayat ini menegaskan korelasi spiritual antara taubat dengan kesejahteraan ekonomi (harta, anak, kesuburan alam).

C. Argumentasi Logis (Ayat 15-20)

Nabi Nuh tidak hanya mendoktrin, tetapi mengajak berpikir (Burhan Aqli). Beliau mengajak kaumnya memperhatikan alam semesta: tujuh langit yang berlapis, bulan sebagai cahaya, matahari sebagai pelita, dan bumi yang dihamparkan.

Baca juga: Surat Al-Mulk Arab, Latin, Arti, dan Keutamaan

D. Doa Kehancuran (Ayat 26-27)

Setelah ratusan tahun tanpa hasil dan justru mendapat perlawanan yang membahayakan generasi mendatang, Nabi Nuh memanjatkan doa agar orang-orang kafir tidak disisakan di muka bumi. Ini menunjukkan ketegasan sikap terhadap kekufuran yang sudah mendarah daging.

3. Keutamaan Membaca dan Mengamalkan Surat Nuh

Mengapa kita perlu rutin membaca atau mentadabburi surat ini? Berikut keutamaannya:

  • Kunci Pembuka Rezeki: Berdasarkan ayat 10-12, para ulama sering menyarankan memperbanyak membaca Istighfar yang termaktub dalam surat ini bagi mereka yang sedang kesulitan ekonomi atau merindukan keturunan.
  • Pelajaran Kesabaran Tingkat Tinggi: Membaca surat ini memberikan perspektif bahwa ujian yang kita hadapi belum sebanding dengan 950 tahun penolakan yang dialami Nabi Nuh, sehingga menumbuhkan mental baja.
  • Pendidikan Parenting: Surat ini secara tersirat mengajarkan betapa pentingnya lingkungan bagi anak. Kekhawatiran Nabi Nuh bahwa orang kafir hanya akan melahirkan anak-anak yang durhaka lagi kafir (Ayat 27) menunjukkan pentingnya memutus mata rantai lingkungan yang buruk.
  • Doa untuk Orangtua: Di akhir surat (Ayat 28), terdapat doa indah yang dianjurkan untuk dibaca: "Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman..."

Baca juga: Surat Al-Qalam Asbabun Nuzul, Keutamaan, dan Kandungan Ayat

  • Surat Nuh termasuk Al-Mufashal yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai tambahan, sehingga beliau memiliki keistimewaan dibandingkan dengan nabi-nabi pendahulunya. Ini dlansir dari abusyuja.com.

  • Surat Nuh dapat dijadikan wasilah doa agar Allah memudahkan hajat-hajat kita. Rasulullah SAW pernah bersabda:

    “Barangsiapa yang membaca (Surat Nuh) dan ia memiliki suatu hajat, Allah akan memudahkan ia mewujudkan keinginannya itu.” (Tafsirul Burhan, Juz 8: 126). 

Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti

  • Orang yang membaca Surat Nuh tidak akan meninggal sebelum melihat tempat duduknya di surga. Ash-Shidiq berkata, “Barangsiapa yang membacanya secara istikamah di malam hari atau siang hari, ia tidak akan meninggal dunia hingga melihat tempat duduknya di dalam surga dan ketika dibaca di saat memiliki hajat, ia dapat mewujudkannya dengan izin Allah.” (Tafsirul Burhan, Juz 8, halaman 126)

  • Keutamaan keempat, Surat Nuh dapat dijadikan wasilah doa untuk menghadapi orang yang berbuat zalim. Adapun caranya yaitu dengan membaca Surat Nuh ayat 1-4 secara istikamah.

Kesimpulan Editor:
Surat Nuh adalah panduan strategi dakwah dan manajemen krisis kehidupan. Bagi Anda yang sedang merasa lelah berjuang atau sempit rezeki, bacalah dan renungkan ayat 10-12 surat ini. Janji Allah itu pasti: Istighfar adalah kunci dari segala kebuntuan.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.

Surat Nuh dalam Bahasa Arab, Latin, dan Terjemahan

1

اِنَّآ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖٓ اَنْ اَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

innā arsalnā nūḥan ilā qaumihī an anżir qaumaka min qabli ay ya'tiyahum ‘ażābun alīm(un).

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.”

2

قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ لَكُمْ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌۙ

qāla yā qaumi innī lakum nażīrum mubīn(un).

Dia (Nuh) berkata, “Wahai kaumku! Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,

3

اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاتَّقُوْهُ وَاَطِيْعُوْنِۙ

ani‘budullāha wattaqūhu wa aṭī‘ūn(i).

(yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku,

4

يَغْفِرْ لَكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ اَجَلَ اللّٰهِ اِذَا جَاۤءَ لَا يُؤَخَّرُۘ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

yagfir lakum min żunūbikum wa yu'akhkhirkum ilā ajalim musammā(n), inna ajalallāhi iżā jā'a lā yu'akhkhar(u), lau kuntum ta‘lamūn(a).

niscaya Dia mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai pada batas waktu yang ditentukan. Sungguh, ketetapan Allah itu apabila telah datang tidak dapat ditunda, seandainya kamu mengetahui.”

5

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلًا وَّنَهَارًاۙ

qāla rabbi innī da‘atu qaumī lailaw wa nahārā(n).

Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam,

6

فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَاۤءِيْٓ اِلَّا فِرَارًا

falam yazidhum du‘ā'ī illā firārā(n).

tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran).

7

وَاِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْٓا اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَاَصَرُّوْا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًاۚ

wa innī kullamā da‘autuhum litagfira lahum ja‘alū aṣābi‘ahum fī āżānihim wastagsyau ṡiyābahum wa aṣarrū wastakbarustikbārā(n).

Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri.

8

ثُمَّ اِنِّيْ دَعَوْتُهُمْ جِهَارًاۙ

Ṡumma innī da‘autuhum jihārā(n).

Lalu sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara terang-terangan.

9

ثُمَّ اِنِّيْٓ اَعْلَنْتُ لَهُمْ وَاَسْرَرْتُ لَهُمْ اِسْرَارًاۙ

Ṡumma innī a‘lantu lahum wa asrartu lahum isrārā(n).

Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam-diam,

10

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ

faqultustagfirū rabbakum innahū kāna gaffārā(n).

maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun,

11

يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ

yursilis-samā'a ‘alaikum midrārā(n).

niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,

12

وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ

wa yumdidkum bi'amwāliw wa banīna wa yaj'al lakum jannātiw wa yaj‘al lakum anhārā(n).

dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”

13

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ لِلّٰهِ وَقَارًاۚ

mā lakum lā tarjūna lillāhi waqārā(n).

Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?

14

وَقَدْ خَلَقَكُمْ اَطْوَارًا

wa qad khalaqakum aṭwārā(n).

Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian).

15

اَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللّٰهُ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۙ

alam tara kaifa khalaqallāhu sab‘a samāwātin ṭibāqā(n).

Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis?

16

وَّجَعَلَ الْقَمَرَ فِيْهِنَّ نُوْرًا وَّجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

wa ja'alal-qamara fīhinna nūraw wa ja‘alasy-syamsa sirājā(n).

Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)?

17

وَاللّٰهُ اَنْۢبَتَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ نَبَاتًاۙ

wallāhu ambatakum minal-arḍi nabātā(n).

Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur),

18

ثُمَّ يُعِيْدُكُمْ فِيْهَا وَيُخْرِجُكُمْ اِخْرَاجًا

Ṡumma yu'īdukum fīhā wa yukhrijukum ikhrājā(n).

kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan pasti.

19

وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ بِسَاطًاۙ

wallāhu ja'ala lakumul-arḍa bisāṭā(n).

Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan,

20

لِّتَسْلُكُوْا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا ࣖ

litaslukū minhā subulan fijājā(n).

agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang luas.

21

قَالَ نُوْحٌ رَّبِّ اِنَّهُمْ عَصَوْنِيْ وَاتَّبَعُوْا مَنْ لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهٗ وَوَلَدُهٗٓ اِلَّا خَسَارًاۚ

qāla nūḥur rabbi innahum 'aṣaunī wattaba‘ū mal lam yazidhu māluhū wa waladuhū illā khasārā(n).

Nuh berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya,

22

وَمَكَرُوْا مَكْرًا كُبَّارًاۚ

wa makarū makran kubbārā(n).

dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar."

23

وَقَالُوْا لَا تَذَرُنَّ اٰلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّلَا سُوَاعًا ەۙ وَّلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسْرًاۚ

wa qālū lā tażarunna ālihatakum wa lā tażarunna waddaw wa lā suwā'ā(n), wa lā yagūṡa wa ya'ūqa wa nasrā(n).

Dan mereka berkata, "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa', Yagus, Ya'uq dan Nasr."

24

وَقَدْ اَضَلُّوْا كَثِيْرًا ەۚ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا ضَلٰلًا

wa qad aḍallū kaṡīrā(n), wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā ḍalālā(n).

Dan sungguh, mereka telah menyesatkan banyak orang; dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.

25

مِمَّا خَطِيْۤـٰٔتِهِمْ اُغْرِقُوْا فَاُدْخِلُوْا نَارًا ەۙ فَلَمْ يَجِدُوْا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْصَارًا

mimmā khaṭī'ātihim ugriqū fa'udkhilū nārā(n), falam yajidū lahum min dūnillāhi anṣārā(n).

Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong selain Allah.

26

وَقَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَرْضِ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ دَيَّارًا

wa qāla nūḥur rabbi lā tażar ‘alal-arḍi minal-kāfirīna dayyārā(n).

Dan Nuh berkata, "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.

27

اِنَّكَ اِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوْا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوْٓا اِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

innaka in tażarhum yuḍillū ‘ibādaka wa lā yalidū illā fājiran kaffārā(n).

Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur.

28

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَّلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۗ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا تَبَارًا ࣖ

rabbigfir lī wa liwālidayya wa liman dakhala baitiya mu'minaw wa lil-mu'minīna wal-mu'mināt(i), wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā tabārā(n).

Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya