Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Surat Al-Ma'arij: Asbabun Nuzul, Pesan Pokok, dan Keutamaannya

Wisnu Arto Subari
27/1/2026 23:38
Surat Al-Ma'arij: Asbabun Nuzul, Pesan Pokok, dan Keutamaannya
Ilustrasi.(Freepik)

SURAT Al-Ma'arij adalah salah satu surat dalam Al-Qur'an yang memiliki muatan psikologis dan eskatologis (ilmu akhirat) yang sangat kuat. Surat ke-70 ini tidak hanya berbicara tentang dahsyatnya hari kiamat, tetapi juga membedah karakter dasar manusia yang rapuh dan cara memperbaikinya.

Bagi umat Muslim yang ingin mendalami makna di balik ayat-ayat Sa'ala Sa'ilun, berikut ulasan komprehensif mengenai identitas, latar belakang sejarah (Asbabun Nuzul), pesan pokok, serta keutamaannya.

Identitas Surat Keterangan
Nama Surat Al-Ma'arij (Tempat-Tempat Naik)
Nama Lain Sa'ala Sa'ilun, Al-Waqi'
Klasifikasi Makkiyah (Turun di Mekkah)
Jumlah Ayat 44 Ayat

1. Asbabun Nuzul: Tantangan yang Menjadi Bencana

Memahami konteks turunnya ayat (Asbabun Nuzul) adalah kunci untuk menangkap emosi dan peringatan yang terkandung dalam surat ini. Para ulama tafsir sepakat bahwa awal surat ini turun sebagai respons terhadap kesombongan kaum musyrikin Mekkah.

Kisah Nadr bin Al-Harith

Imam An-Nasa'i dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa ayat pertama "Sa'ala sa'ilun bi'adzabin waqi'" (Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa) berkaitan erat dengan doa menantang yang diucapkan oleh Nadr bin Al-Harith (sebagian riwayat menyebut Abu Jahal).

Alih-alih memohon petunjuk, Nadr bin Al-Harith justru menantang Allah dengan doa yang diabadikan dalam QS. Al-Anfal ayat 32:

"Ya Allah, jika benar (Al-Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih."

Surat Al-Ma'arij turun untuk menegaskan bahwa azab yang mereka minta itu pasti akan terjadi dan tidak ada yang bisa menolaknya. Dalam sejarah, Nadr bin Al-Harith akhirnya tewas dalam Perang Badar sebagai bentuk realisasi azab duniawi, sebelum azab akhirat menantinya.

2. Pesan Pokok dan Kandungan Utama

Surat Al-Ma'arij membagi fokusnya pada tiga narasi besar yang saling berkaitan:

A. Dahsyatnya Hari Kiamat (Ayat 1-18)

Allah menggambarkan hari kiamat dengan visualisasi yang mengerikan:

  • Waktu yang Panjang: Sehari di akhirat digambarkan setara dengan 50.000 tahun di dunia, menunjukkan betapa lamanya proses hisab bagi orang-orang kafir.
  • Kehancuran Alam: Langit akan hancur meleleh seperti cairan tembaga/perak, dan gunung-gunung akan berhamburan seperti bulu.
  • Egoisme Mutlak: Pada hari itu, setiap pendosa rela mengorbankan anak, istri, saudara, bahkan seluruh manusia di bumi hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari api neraka.

Baca juga: Surat Al-Mulk Arab, Latin, Arti, dan Keutamaan

B. Psikologi Manusia: Sifat Halu'a (Ayat 19-21)

Ini adalah salah satu analisis psikologis terdalam dalam Al-Qur'an. Allah menyebutkan bahwa manusia diciptakan dengan sifat Halu'a (berkeluh kesah lagi kikir).

  • Jika ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah dan putus asa.
  • Jika mendapat kebaikan (harta), ia menjadi amat kikir dan enggan berbagi.

Baca juga: Surat Al-Qalam Asbabun Nuzul, Keutamaan, dan Kandungan Ayat

C. Solusi: Karakter Al-Mushallin (Ayat 22-35)

Al-Qur'an memberikan 'obat' untuk menghilangkan sifat Halu'a tersebut. Pengecualian diberikan kepada orang-orang yang shalat (Al-Mushallin) yang memiliki ciri-ciri khusus:

  1. Daimun: Mereka yang tetap/konsisten mengerjakan shalatnya.
  2. Dermawan: Menyadari ada hak orang miskin dalam hartanya.
  3. Visioner: Mempercayai hari pembalasan.
  4. Takut: Merasa takut terhadap azab Tuhannya.
  5. Menjaga Kehormatan: Menjaga kemaluan dari yang haram.
  6. Amanah: Memelihara amanat dan janji.
  7. Jujur: Memberikan kesaksian dengan adil.
  8. Yuhafizun: Memelihara pelaksanaan shalat (syarat & rukun).

Baca juga: 11 Surat dalam Juz 29 dari Al-Mulk sampai Al-Mursalat

3. Keutamaan Surat Al-Ma'arij

Membaca dan mentadabburi Surat Al-Ma'arij memberikan dampak spiritual yang signifikan:

1. Terapi Mental (Healing)

Surat ini adalah terapi bagi jiwa yang labil. Dengan memahami sifat Halu'a, seorang mukmin diajarkan untuk tidak terlalu sedih saat susah dan tidak sombong saat kaya.

2. Pengingat Visi Akhirat

Mengingatkan kita bahwa kesulitan dunia (yang hanya sebentar) tidak sebanding dengan satu hari di akhirat (50.000 tahun), sehingga melahirkan kesabaran yang indah (Sabran Jamila).

Berikut sejumlah keutamaan sering membaca Surat Al-Ma'arij yang dilansir dari Abu Syuja.

1. Surat Al-Ma’arij termasuk Al-Mufashal yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai tambahan, sehingga beliau memiliki keutamaan dibandingkan nabi-nabi pendahulunya.

Baca juga: Surat Al-Haqqah Asbabun Nuzul, Keutamaan, dan Gambaran Dahsyatnya Kiamat

2. Ia kelak terbebas dari pertanyaan dosa serta Allah SWT akan menetapkannya di surga bersama Nabi Muhammd SAW.

Abu Abdullah berkata, "Perbanyaklah membaca sa’ala sa’ilun (Surat Al-Ma’arij), karena sesungguhnya seseorang yang banyak membacanya, di hari kiamat Allah tidak akan menanyakan dosa yang telah dilakukannya. Dan Allah juga menempatkannya di surga bersama Nabi Muhammad SAW insya Allah." (Tsawabul A’mal, halaman 149).

Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti

3. Ia termasuk orang-orang beriman yang menerima dakwah Nabi Nuh dan doa bagi orang yang dipenjara agar segera terbebas.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang membaca surat ini (Surat Al-Ma’arij), ia termasuk kaum beriman yang menerima dakwah Nabi Nuh. Barangsiapa yang membacanya, sedangkan ia ditawan, dipenjara, diikat, Allah akan melepaskannya, dan melindunginya hingga ia dapat terbebas." (Tafsirul Burhan, Juz 8, halaman 112).

4. Surat Al-Ma’arij dapat dijadikan wasilah agar terhindar dari mimpi buruk. Adapun caranya yaitu membaca Surat Al-Ma’arij ayat 4-7 sebelum tidur secara istikamah.

Baca juga: Apa saja Persamaan dan Perbedaan Juz 30 dengan Juz 29

Kesimpulan: Surat Al-Ma'arij bukan sekadar ancaman tentang neraka, melainkan panduan psikologis untuk membentuk kepribadian Muslim yang tangguh, stabil secara emosional, dan peduli secara sosial.

Surat Al-Ma'arij dalam tulisan Arab, Latin, terjemahan

Berikut tulisan Arab, Latin, dan arti dari Surat Al-Ma'arij.

1

سَاَلَ سَاۤىِٕلٌۢ بِعَذَابٍ وَّاقِعٍۙ

sa'ala sā'ilum bi‘ażābiw wāqi‘(in).

Seseorang bertanya tentang azab yang pasti terjadi,

2

لِّلْكٰفِرِيْنَ لَيْسَ لَهٗ دَافِعٌۙ

lil-kāfirīna laisa lahū dāfi‘(un).

bagi orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya,

3

مِّنَ اللّٰهِ ذِى الْمَعَارِجِۗ

minallāhi żil-ma‘ārij(i).

(Azab) dari Allah, yang memiliki tempat-tempat naik.

4

تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ

ta'rujul-malā'ikatu war-rūḥu ilaihi fī yaumin kāna miqdāruhū khamsīna alfa sanah(tin).

Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.


5

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا

faṣbir ṣabran jamīlā(n).

Maka bersabarlah engkau (Muhammad) dengan kesabaran yang baik.

6

اِنَّهُمْ يَرَوْنَهٗ بَعِيْدًاۙ

innahum yaraunahū ba‘īdā(n).

Mereka memandang (azab) itu jauh (mustahil).

7

وَّنَرٰىهُ قَرِيْبًاۗ

wa narāhu qarībā(n).

Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi).

8

يَوْمَ تَكُوْنُ السَّمَاۤءُ كَالْمُهْلِۙ

yauma takūnus-samā'u kal-muhl(i).

(Ingatlah) pada hari ketika langit men-jadi bagaikan cairan tembaga,

9

وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ

wa takūnul-jibālu kal-‘ihn(i).

dan gunung-gunung bagaikan bulu (yang beterbangan),

10

وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ

wa lā yas'alu ḥamīmun ḥamīmā(n).

dan tidak ada seorang teman karib pun menanyakan temannya,

11

يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍۢ بِبَنِيْهِۙ

yubaṣṣarūnahum, yawaddul-mujrimu lau yaftadī min ‘ażābi yaumi'iżim bibanīh(i).

sedang mereka saling melihat. Pada hari itu, orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab dengan anak-anaknya,

12

وَصَاحِبَتِهٖ وَاَخِيْهِۙ

wa ṣāḥibatihī wa akhīh(i).

dan istrinya dan saudaranya,

13

وَفَصِيْلَتِهِ الَّتِيْ تُـْٔوِيْهِۙ

wa faṣīlatihil-latī tu'wīh(i).

dan keluarga yang melindunginya (di dunia),

14

وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاۙ ثُمَّ يُنْجِيْهِۙ

wa man fil-arḍi jamī'ā(n), ṡumma yunjīh(i).

dan orang-orang di bumi seluruhnya, kemudian mengharapkan (tebusan) itu dapat menyelamatkannya.

15

كَلَّاۗ اِنَّهَا لَظٰىۙ

kallā, innahā laẓā.

Sama sekali tidak! Sungguh, neraka itu api yang bergejolak,

16

نَزَّاعَةً لِّلشَّوٰىۚ

nazzā‘atal lisy-syawā.

yang mengelupaskan kulit kepala.

17

تَدْعُوْا مَنْ اَدْبَرَ وَتَوَلّٰىۙ

tad‘ū man adbara wa tawallā.

Yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama),

18

وَجَمَعَ فَاَوْعٰى

wa jama‘a fa'au‘ā.

dan orang yang mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya.

19

۞ اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ

innal-insāna khuliqa halu‘ā(n).

Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.

20

اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ

iżā massahusy-syarru jazū'ā(n).

Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah,

21

وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ

wa iżā massahul-khairu manū‘ā(n).

dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir,

22

اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ

illal-muṣallīn(a).

kecuali orang-orang yang melaksanakan salat,

23

الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ

allażīna hum ‘alā ṣalātihim dā'imūn(a).

mereka yang tetap setia melaksanakan salatnya,

24

وَالَّذِيْنَ فِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌۖ

wal-lażīna fī amwālihim ḥaqqum ma‘lūm(un).

dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu,

25

لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِۖ

lis-sā'ili wal-maḥrūm(i).

bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta,

26

وَالَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۖ

wal-lażīna yuṣaddiqūna biyaumid-dīn(i).

dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,

27

وَالَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَۚ

wal-lażīna hum min ‘ażābi rabbihim musyfiqūn(a).

dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya,

28

اِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍۖ

inna 'ażāba rabbihim gairu ma'mūn(in).

sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya),

29

وَّالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَۙ

wal-lażīna hum lifurūjihim ḥāfiẓūn(a).

dan orang-orang yang memelihara kemaluannya,

30

اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ

illā ‘alā azwājihim au mā malakat aimānuhum fa innahum gairu malūmīn(a).

kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela.

31

فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَۚ

fa manibtagā warā'a żālika fa ulā'ika humul-‘ādūn(a).

Maka barangsiapa mencari di luar itu (seperti zina, homoseks dan lesbian), mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

32

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رٰعُوْنَۖ

wal-lażīna hum li'amānātihim wa ‘ahdihim rā'ūn(a).

Dan orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya,

33

وَالَّذِيْنَ هُمْ بِشَهٰدٰتِهِمْ قَاۤىِٕمُوْنَۖ

wal-lażīna hum bisyahādātihim qā'imūn(a).

dan orang-orang yang berpegang teguh pada kesaksiannya,

34

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُوْنَۖ

wal-lażīna hum ‘alā ṣalātihim yuḥāfiẓūn(a).

dan orang-orang yang memelihara salatnya.

35

اُولٰۤىِٕكَ فِيْ جَنّٰتٍ مُّكْرَمُوْنَ ۗ ࣖ

ulā'ika fī jannātim mukramūn(a).

Mereka itu dimuliakan di dalam surga.

36

فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَۙ

famālil-lażīna kafarū qibalaka muhṭi‘īn(a).

Maka mengapa orang-orang kafir itu datang bergegas ke hadapanmu (Muhammad),

37

عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ

'anil-yamīni wa ‘anisy-syimāli ‘izīn(a).

dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok?

38

اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍۙ

ayaṭma'u kullumri'im minhum ay yudkhala jannata na‘īm(in).

Apakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk surga yang penuh kenikmatan?

39

كَلَّاۗ اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ

kallā, innā khalaqnāhum mimmā ya‘malūn(a).

Tidak mungkin! Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui.

40

فَلَآ اُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشٰرِقِ وَالْمَغٰرِبِ اِنَّا لَقٰدِرُوْنَۙ

falā uqsimu birabbil-masyāriqi wal-magāribi innā laqādirūn(a).

Maka Aku bersumpah demi Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya (matahari, bulan dan bintang), sungguh, Kami pasti mampu,

41

عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْۙ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَ

'alā an nubaddila khairam minhum, wa mā naḥnu bimasbūqīn(a).

untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami tidak dapat dikalahkan.

42

فَذَرْهُمْ يَخُوْضُوْا وَيَلْعَبُوْا حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَۙ

fa żarhum yakhūḍū wa yal‘abū ḥattā yulāqū yaumahumul-lażī yū‘adūn(a)

Maka biarkanlah mereka tenggelam dan bermain-main (dalam kesesatan) sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka,

43

يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ سِرَاعًا كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَۙ

yauma yakhrujūna minal-ajdāṡi sirā‘an ka'annahum ilā nuṣubiy yūfiḍūn(a).

(yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia),

44 

خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ ࣖ

khāsyi‘atan abṣāruhum tarhaquhum żillah(tun), żālikal-yaumul-lażī kānū yū‘adūn(a).

pandangan mereka tertunduk ke bawah diliputi kehinaan. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya