SURAT Al-Ma'arij adalah salah satu surat dalam Al-Qur'an yang memiliki muatan psikologis dan eskatologis (ilmu akhirat) yang sangat kuat. Surat ke-70 ini tidak hanya berbicara tentang dahsyatnya hari kiamat, tetapi juga membedah karakter dasar manusia yang rapuh dan bagaimana cara memperbaikinya.
Bagi umat Muslim yang ingin mendalami makna di balik ayat-ayat Sa'ala Sa'ilun, berikut ulasan komprehensif mengenai identitas, latar belakang sejarah (Asbabun Nuzul), pesan pokok, serta keutamaannya.
| Identitas Surat | Keterangan |
|---|---|
| Nama Surat | Al-Ma'arij (Tempat-Tempat Naik) |
| Nama Lain | Sa'ala Sa'ilun, Al-Waqi' |
| Klasifikasi | Makkiyah (Turun di Mekkah) |
| Jumlah Ayat | 44 Ayat |
1. Asbabun Nuzul: Tantangan yang Menjadi Bencana
Memahami konteks turunnya ayat (Asbabun Nuzul) adalah kunci untuk menangkap emosi dan peringatan yang terkandung dalam surat ini. Para ulama tafsir sepakat bahwa awal surat ini turun sebagai respons terhadap kesombongan kaum musyrikin Mekkah.
Kisah Nadr bin Al-Harith
Imam An-Nasa'i dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa ayat pertama "Sa'ala sa'ilun bi'adzabin waqi'" (Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa) berkaitan erat dengan doa menantang yang diucapkan oleh Nadr bin Al-Harith (sebagian riwayat menyebut Abu Jahal).
Alih-alih memohon petunjuk, Nadr bin Al-Harith justru menantang Allah dengan doa yang diabadikan dalam QS. Al-Anfal ayat 32:
"Ya Allah, jika benar (Al-Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih."
Surat Al-Ma'arij turun untuk menegaskan bahwa azab yang mereka minta itu pasti akan terjadi dan tidak ada yang bisa menolaknya. Dalam sejarah, Nadr bin Al-Harith akhirnya tewas dalam Perang Badar sebagai bentuk realisasi azab duniawi, sebelum azab akhirat menantinya.
2. Pesan Pokok dan Kandungan Utama
Surat Al-Ma'arij membagi fokusnya pada tiga narasi besar yang saling berkaitan:
A. Dahsyatnya Hari Kiamat (Ayat 1-18)
Allah menggambarkan hari kiamat dengan visualisasi yang mengerikan:
- Waktu yang Panjang: Sehari di akhirat digambarkan setara dengan 50.000 tahun di dunia, menunjukkan betapa lamanya proses hisab bagi orang-orang kafir.
- Kehancuran Alam: Langit akan hancur meleleh seperti cairan tembaga/perak, dan gunung-gunung akan berhamburan seperti bulu.
- Egoisme Mutlak: Pada hari itu, setiap pendosa rela mengorbankan anak, istri, saudara, bahkan seluruh manusia di bumi hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari api neraka.
B. Psikologi Manusia: Sifat Halu'a (Ayat 19-21)
Ini adalah salah satu analisis psikologis terdalam dalam Al-Qur'an. Allah menyebutkan bahwa manusia diciptakan dengan sifat Halu'a (berkeluh kesah lagi kikir).
- Jika ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah dan putus asa.
- Jika mendapat kebaikan (harta), ia menjadi amat kikir dan enggan berbagi.
C. Solusi: Karakter Al-Mushallin (Ayat 22-35)
Al-Qur'an memberikan "obat" untuk menghilangkan sifat Halu'a tersebut. Pengecualian diberikan kepada orang-orang yang shalat (Al-Mushallin) yang memiliki ciri-ciri khusus:
- Daimun: Mereka yang tetap/konsisten mengerjakan shalatnya.
- Dermawan: Menyadari ada hak orang miskin dalam hartanya.
- Visioner: Mempercayai hari pembalasan.
- Takut: Merasa takut terhadap azab Tuhannya.
- Menjaga Kehormatan: Menjaga kemaluan dari yang haram.
- Amanah: Memelihara amanat dan janji.
- Jujur: Memberikan kesaksian dengan adil.
- Yuhafizun: Memelihara pelaksanaan shalat (syarat & rukun).
3. Keutamaan Surat Al-Ma'arij
Membaca dan mentadabburi Surat Al-Ma'arij memberikan dampak spiritual yang signifikan:
1. Terapi Mental (Healing)
Surat ini adalah terapi bagi jiwa yang labil. Dengan memahami sifat Halu'a, seorang mukmin diajarkan untuk tidak terlalu sedih saat susah dan tidak sombong saat kaya.
2. Pengingat Visi Akhirat
Mengingatkan kita bahwa kesulitan dunia (yang hanya sebentar) tidak sebanding dengan satu hari di akhirat (50.000 tahun), sehingga melahirkan kesabaran yang indah (Sabran Jamila).
Berikut sejumlah keutamaan sering membaca Surat Al-Ma'arij yang dilansir dari Abu Syuja.
1. Surat Al-Ma’arij termasuk Al-Mufashal yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai tambahan, sehingga beliau memiliki keutamaan dibandingkan nabi-nabi pendahulunya.
2. Ia kelak terbebas dari pertanyaan dosa serta Allah SWT akan menetapkannya di surga bersama Nabi Muhammd SAW.
Abu Abdullah berkata, "Perbanyaklah membaca sa’ala sa’ilun (Surat Al-Ma’arij), karena sesungguhnya seseorang yang banyak membacanya, di hari kiamat Allah tidak akan menanyakan dosa yang telah dilakukannya. Dan Allah juga menempatkannya di surga bersama Nabi Muhammad SAW insya Allah." (Tsawabul A’mal, halaman 149).
3. Ia termasuk orang-orang beriman yang menerima dakwah Nabi Nuh dan doa bagi orang yang dipenjara agar segera terbebas.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang membaca surat ini (Surat Al-Ma’arij), ia termasuk kaum beriman yang menerima dakwah Nabi Nuh. Barangsiapa yang membacanya, sedangkan ia ditawan, dipenjara, diikat, Allah akan melepaskannya, dan melindunginya hingga ia dapat terbebas." (Tafsirul Burhan, Juz 8, halaman 112).
4. Surat Al-Ma’arij dapat dijadikan wasilah agar terhindar dari mimpi buruk. Adapun caranya yaitu membaca Surat Al-Ma’arij ayat 4-7 sebelum tidur secara istikamah.
Kesimpulan: Surat Al-Ma'arij bukan sekadar ancaman tentang neraka, melainkan panduan psikologis untuk membentuk kepribadian Muslim yang tangguh, stabil secara emosional, dan peduli secara sosial.
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
