SURAT Al-Qalam terdiri dari 52 ayat dan termasuk dalam golongan surat Makkiyah. Surat ini sering juga disebut sebagai Surat Nun karena diawali dengan huruf hijaiyah tersebut. Surat ini terdapat dalam juz 29 Al-Quran.
Turunnya surat ini menjadi momen krusial dalam sejarah dakwah Islam. Allah SWT secara langsung memberikan testimoni atas kemuliaan akhlak Rasulullah SAW.
Asbabun Nuzul: Pembelaan Allah Terhadap Tuduhan Gila
Secara historis, asbabun nuzul atau sebab turunnya ayat-ayat awal Surat Al-Qalam berkaitan erat dengan tekanan mental yang dialami Nabi Muhammad SAW. Saat itu, kaum kafir Quraisy, termasuk tokoh seperti Walid bin Mughirah dan Abu Jahal, menyebarkan fitnah bahwa Nabi adalah seorang yang gila (majnun) karena membawa ajaran yang dianggap asing.
Allah SWT kemudian menurunkan ayat 1-2, "Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila." Ayat ini berfungsi sebagai penenang bagi jiwa Nabi dan penegasan bahwa kecerdasan serta kewarasan beliau adalah karunia langsung dari Allah.
Kandungan Ayat 4: Standar Akhlak Tertinggi
Puncak dari pembelaan Allah terdapat pada ayat ke-4, "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Khuluqin Azhim). Ayat ini menjadi landasan utama bagi umat Islam bahwa inti dari ajaran agama adalah pembentukan karakter atau akhlak yang mulia, sebagaimana Nabi Muhammad SAW adalah Al-Qur'an yang berjalan.
Kisah Pemilik Kebun (Ashabul Jannah) dan Bahaya Kekikiran
Salah satu bagian paling populer dalam Surat Al-Qalam adalah kisah para pemilik kebun yang terdapat pada ayat 17 hingga 33. Kisah ini merupakan perumpamaan bagi kaum musyrik Mekah yang diberi nikmat namun justru kufur.
- Niat Buruk: Para pemilik kebun bersumpah untuk memanen hasil kebun mereka di pagi buta agar orang-orang miskin tidak datang meminta bagian.
- Azab yang Cepat: Karena niat jahat dan kekikiran mereka, Allah mengirimkan bencana di malam hari yang menghanguskan seluruh kebun hingga hitam legam seperti malam yang gelap.
- Pelajaran: Kisah ini mengajarkan bahwa harta hanyalah titipan. Memutus hak orang fakir dan miskin dalam harta kita justru akan mengundang kehancuran pada sumber rezeki tersebut.
Baca juga: 11 Surat dalam Juz 29 dari Al-Mulk sampai Al-Mursalat
Keutamaan Membaca Surat Al-Qalam
Membaca dan merenungi Surat Al-Qalam memiliki berbagai fadhilah atau keutamaan yang disebutkan dalam berbagai riwayat, di antaranya:
1. Terhindar dari Kemiskinan
Dalam beberapa literatur tafsir dan riwayat, disebutkan bahwa orang yang istiqamah membaca Surat Al-Qalam, baik dalam salat fardu maupun sunnah, akan diberikan kelapangan rezeki dan dijauhkan dari kemiskinan yang menyengsarakan seumur hidupnya.
2. Perlindungan di Alam Kubur
Keutamaan lain yang sering dibahas adalah perlindungan dari himpitan kubur. Surat ini menjadi pembela bagi pembacanya saat memasuki fase awal kehidupan akhirat tersebut.
Baca juga: Al-Mulk Penuntun Menuju Ketentraman Jiwa
3. Bagian dari Al-Mufashshal
Surat Al-Qalam merupakan bagian dari Al-Mufashshal, yaitu kelompok surat-surat pendek yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai keistimewaan yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya.
Pertanyaan Seputar Surat Al-Qalam
Apa makna huruf Nun di awal surat?
Para ulama tafsir umumnya mengategorikan Nun sebagai fawatihussuwar (huruf pembuka surat) yang maknanya hanya diketahui oleh Allah. Namun, ada yang berpendapat itu merujuk pada ikan paus (seperti dalam kisah Nabi Yunus/Dzun Nun) atau sebagai simbol tinta untuk pena.
Baca juga: Surat Al-Mulk Arab, Latin, Arti, dan Keutamaan
Siapa sosok yang dicela pada ayat 10-13?
Banyak mufassir menyebutkan bahwa ayat-ayat tersebut merujuk pada Walid bin Mughirah, seorang tokoh Quraisy yang memiliki sembilan sifat buruk, termasuk suka mencela, menghamburkan fitnah, dan sangat kikir terhadap kebaikan.
Apa pesan utama surat ini untuk kehidupan modern?
Pesan utamanya adalah pentingnya menjaga kesehatan mental dari bullying atau opini negatif orang lain (sebagaimana Nabi dibela dari tuduhan gila) serta etika dalam mengelola kekayaan agar selalu berbagi kepada yang membutuhkan.
Baca juga: Surat An-Naziat Asbabun Nuzul, Kandungan, Keutamaan, Teks, dan Artinya
Kesimpulan
Surat Al-Qalam mengajarkan kita untuk tetap teguh pada kebenaran meskipun dunia menuduh kita dengan berbagai label negatif. Dengan meneladani akhlak agung Rasulullah dan menjauhi sifat kikir seperti para pemilik kebun, kita dapat meraih keberkahan hidup yang sejati. Surat ini adalah pengingat bahwa 'pena' takdir Allah lebih berkuasa daripada kata-kata manusia.
Berikut isi Surat Al-Qalam.
1
نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ
nūn, wal-qalami wa mā yasṭurūn(a).
Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan,
2
مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ
mā anta bini‘mati rabbika bimajnūn(in).
dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila.
3
وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍۚ
wa inna laka la'ajran gaira mamnūn(in).
Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
4
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
wa innaka la‘alā khuluqin ‘aẓīm(in).
Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.
5
فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَۙ
fasatubṣiru wa yubṣirūn(a).
Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,
6
بِاَيِّىكُمُ الْمَفْتُوْنُ
bi'ayyikumul-maftūn(u).
siapa di antara kamu yang gila?
7
اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
inna rabbaka huwa a‘lamu biman ḍalla ‘an sabīlih(ī), wa huwa a‘lamu bil-muhtadīn(a).
Sungguh, Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk.
8
فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِيْنَ
falā tuṭi‘il-mukażżibīn(a).
Maka janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).
9
وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَۚ
waddū lau tudhinu fayudhinūn(a).
Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak maka mereka bersikap lunak (pula).
10
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍۙ
wa lā tuṭi‘ kulla ḥallāfim mahīn(in).
Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina,
11
هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍۙ
hammāzim masysyā'im binamīm(in).
suka mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah,
12
مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ
mannā‘il lil-khairi mu‘tadin aṡīm(in).
yang merintangi segala yang baik, yang melampaui batas dan banyak dosa,
13
عُتُلٍّۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍۙ
‘utullim ba‘da żālika zanīm(in).
yang bertabiat kasar, selain itu juga terkenal kejahatannya,
14
اَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَّبَنِيْنَۗ
an kāna żā māliw wa banīn(a).
karena dia kaya dan banyak anak.
15
اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ
iżā tutlā ‘alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn(a).
Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata, “(Ini adalah) dongeng-dongeng orang dahulu.”
16
سَنَسِمُهٗ عَلَى الْخُرْطُوْمِ
sanasimuhū ‘alal-khurṭūm(i).
Kelak dia akan Kami beri tanda pada belalai(nya).
17
اِنَّا بَلَوْنٰهُمْ كَمَا بَلَوْنَآ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِۚ اِذْ اَقْسَمُوْا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِيْنَۙ
innā balaunāhum kamā balaunā aṣḥābal-jannah(ti), iż aqsamū layaṣrimunnahā muṣbiḥīn(a).
Sungguh, Kami telah menguji mereka (orang musyrik Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah pasti akan memetik (hasil)nya pada pagi hari,
18
وَلَا يَسْتَثْنُوْنَ
wa lā yastaṡnūn(a).
tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, “Insya Allah”).
19
فَطَافَ عَلَيْهَا طَاۤىِٕفٌ مِّنْ رَّبِّكَ وَهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَ
fa ṭāfa ‘alaihā ṭā'ifum mir rabbika wa hum nā'imūn(a).
Lalu kebun itu ditimpa bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur.
20
فَاَصْبَحَتْ كَالصَّرِيْمِۙ
fa aṣbaḥat kaṣ-ṣarīm(i).
Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita,
21
فَتَنَادَوْا مُصْبِحِيْنَۙ
fa tanādau muṣbiḥīn(a).
lalu pada pagi hari mereka saling memanggil.
22
اَنِ اغْدُوْا عَلٰى حَرْثِكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰرِمِيْنَ
anigdū ‘alā ḥarṡikum in kuntum ṣārimīn(a).
”Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik hasil.”
23
فَانْطَلَقُوْا وَهُمْ يَتَخَافَتُوْنَۙ
fanṭalaqū wa hum yatakhāfatūn(a).
Maka mereka pun berangkat sambil berbisik-bisik.
24
اَنْ لَّا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِّسْكِيْنٌۙ
allā yadkhulannahal-yauma ‘alaikum miskīn(un).
”Pada hari ini jangan sampai ada orang miskin masuk ke dalam kebunmu.”
25
وَّغَدَوْا عَلٰى حَرْدٍ قٰدِرِيْنَ
wa gadau ‘alā ḥardin qādirīn(a).
Dan berangkatlah mereka pada pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya).
26
فَلَمَّا رَاَوْهَا قَالُوْٓا اِنَّا لَضَاۤلُّوْنَۙ
falammā ra'auhā qālū innā laḍāllūn(a).
Maka ketika mereka melihat kebun itu, mereka berkata, “Sungguh, kita ini benar-benar orang-orang yang sesat,
27
بَلْ نَحْنُ مَحْرُوْمُوْنَ
bal naḥnu maḥrūmūn(a).
bahkan kita tidak memperoleh apa pun,”
28
قَالَ اَوْسَطُهُمْ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُوْنَ
qāla ausaṭuhum alam aqul lakum lau lā tusabbiḥūn(a).
berkatalah seorang yang paling bijak di antara mereka, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak bertasbih (kepada Tuhanmu).”
29
قَالُوْا سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنَّا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ
qālū subḥāna rabbinā innā kunnā ẓālimīn(a).
Mereka mengucapkan, “Mahasuci Tuhan kami, sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim.”
30
فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَلَاوَمُوْنَ
fa'aqbala ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍiy yatalāwamūn(a).
Lalu mereka saling berhadapan dan saling menyalahkan.
31
قَالُوْا يٰوَيْلَنَآ اِنَّا كُنَّا طٰغِيْنَ
qālū yā wailanā innā kunnā ṭāgīn(a).
Mereka berkata, “Celaka kita! Sesungguhnya kita orang-orang yang melampaui batas.
32
عَسٰى رَبُّنَآ اَنْ يُّبْدِلَنَا خَيْرًا مِّنْهَآ اِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا رٰغِبُوْنَ
‘asā rabbunā ay yubdilanā khairam minhā innā ilā rabbinā rāgibūn(a).
Mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada yang ini, sungguh, kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.”
33
كَذٰلِكَ الْعَذَابُۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ ࣖ
każālikal-‘ażāb(u), wa la‘ażābul-ākhirati akbar(u), lau kānū ya‘lamūn(a).
Seperti itulah azab (di dunia). Dan sungguh, azab akhirat lebih besar se-kiranya mereka mengetahui.
34
اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ
inna lil-muttaqīna ‘inda rabbihim jannātin-na‘īm(i).
Sungguh, bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.
35
اَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِيْنَ كَالْمُجْرِمِيْنَۗ
afanaj‘alul-muslimīna kal-mujrimīn(a).
Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)?
36
مَا لَكُمْۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَۚ
mā lakum, kaifa taḥkumūn(a).
Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?
37
اَمْ لَكُمْ كِتٰبٌ فِيْهِ تَدْرُسُوْنَۙ
am lakum kitābun fīhi tadrusūn(a).
Atau apakah kamu mempunyai kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu pelajari?
38
اِنَّ لَكُمْ فِيْهِ لَمَا تَخَيَّرُوْنَۚ
inna lakum fīhi lamā takhayyarūn(a).
sesungguhnya kamu dapat memilih apa saja yang ada di dalamnya.
39
اَمْ لَكُمْ اَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ اِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُوْنَۚ
am lakum aimānun ‘alainā bāligatun ilā yaumil-qiyāmah(ti), inna lakum lamā taḥkumūn(a).
Atau apakah kamu memperoleh (janji-janji yang diperkuat dengan) sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari Kiamat; bahwa kamu dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)?
40
سَلْهُمْ اَيُّهُمْ بِذٰلِكَ زَعِيْمٌۚ
salhum ayyuhum biżālika za‘īm(un).
Tanyakanlah kepada mereka, “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap (keputusan yang diambil itu)?”
41
اَمْ لَهُمْ شُرَكَاۤءُۚ فَلْيَأْتُوْا بِشُرَكَاۤىِٕهِمْ اِنْ كَانُوْا صٰدِقِيْنَ
am lahum syurakā'(u), falya'tū bisyurakā'ihim in kānū ṣādiqīn(a).
Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Kalau begitu hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka orang-orang yang benar.
42
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَۙ
yauma yuksyafu ‘an sāqiw wa yud‘auna ilas-sujūdi falā yastaṭī‘ūn(a).
(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu,
43
خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗوَقَدْ كَانُوْا يُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ وَهُمْ سٰلِمُوْنَ
khāsyi‘atan abṣāruhum tarhaquhum żillah(tun), wa qad kānū yud‘auna ilas-sujūdi wa hum sālimun(a).
pandangan mereka tertunduk ke bawah, diliputi kehinaan. Dan sungguh, dahulu (di dunia) mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat (tetapi mereka tidak melakukan).
44
فَذَرْنِيْ وَمَنْ يُّكَذِّبُ بِهٰذَا الْحَدِيْثِۗ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
fażarnī wa may yukażżibu bihāżal-ḥadīṡi sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya‘lamūn(a).
Maka serahkanlah kepada-Ku (urusannya) dan orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur'an). Kelak akan Kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui,
45
وَاُمْلِيْ لَهُمْۗ اِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ
wa umlī lahum, inna kaidī matīn(un).
dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.
46
اَمْ تَسْـَٔلُهُمْ اَجْرًا فَهُمْ مِّنْ مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُوْنَۚ
am tas'aluhum ajran fahum mim magramim muṡqalūn(a).
Ataukah engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka, sehingga mereka dibebani dengan utang?
47
اَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُوْنَ
am ‘indahumul-gaibu fahum yaktubūn(a).
Ataukah mereka mengetahui yang gaib, lalu mereka menuliskannya?
48
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِۘ اِذْ نَادٰى وَهُوَ مَكْظُوْمٌۗ
faṣbir liḥukmi rabbika wa lā takun kaṣāḥibil-ḥūt(i), iż nādā wa huwa makẓūm(un).
Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih.
49
لَوْلَآ اَنْ تَدٰرَكَهٗ نِعْمَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ لَنُبِذَ بِالْعَرَاۤءِ وَهُوَ مَذْمُوْمٌ
lau lā an tadārakahū ni‘matum mir rabbihī lanubiża bil-‘arā'i wa huwa mażmūm(un).
Sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.
50
فَاجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَجَعَلَهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
fajtabāhu rabbuhū faja‘alahū minaṣ-ṣāliḥīn(a).
Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang yang saleh.
51
وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْلِقُوْنَكَ بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهٗ لَمَجْنُوْنٌ ۘ
wa iy yakādul-lażīna kafarū layuzliqūnaka bi'abṣārihim lammā sami‘uż żikra wa yaqūlūna innahū lamajnūn(un).
Dan sungguh, orang-orang kafir itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mata mereka, ketika mereka mendengar Al-Qur'an dan mereka berkata, “Dia (Muhammad) itu benar-benar orang gila.”
52
وَمَا هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ ࣖ
wa mā huwa illā żikrul lil-‘ālamīn(a).
Padahal (Al-Qur'an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam.
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
