Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Surat Al-Haqqah: Asbabun Nuzul, Keutamaan, dan Gambaran Dahsyatnya Kiamat

Wisnu Arto Subari
26/1/2026 23:00
Surat Al-Haqqah: Asbabun Nuzul, Keutamaan, dan Gambaran Dahsyatnya Kiamat
Ilustrasi.(Freepik)

DI tengah hiruk-pikuk dunia modern tahun 2026 yang serba materialistis, manusia sering kali lupa tentang kepastian yang tidak bisa ditawar: Hari Akhir. Al-Qur'an memiliki satu surat yang secara spesifik dinamai dengan Hari Kiamat atau Kebenaran yang Pasti, yaitu Surat Al-Haqqah.

Surat ke-69 dalam juz 29 ini bukan sekadar rangkaian ayat. Surat ini menjadi peringatan keras yang menghentak kesadaran manusia tentang kefanaan dunia dan kekekalan akhirat.

Surat Al-Haqqah tergolong dalam surat Makkiyah, terdiri dari 52 ayat, dan memiliki nada bahasa yang tegas serta penuh ancaman bagi mereka yang mendustakan kebenaran. Bagi umat Islam, memahami surat ini bukan hanya sekadar membacanya, tetapi menyelami peringatan sejarah di dalamnya agar tidak mengulangi kesalahan umat-umat terdahulu.

Artikel ini akan mengupas tuntas latar belakang turunnya ayat (asbabun nuzul), pokok kandungan, hingga keutamaan mempelajarinya.

Intisari Pembahasan:

  • Makna nama Al-Haqqah sebagai realitas yang tak terelakkan.
  • Konteks sejarah (Asbabun Nuzul) dan bantahan terhadap tuduhan penyair.
  • Pola kehancuran kaum Ad, Tsamud, dan Firaun.
  • Visualisasi detik-detik kiamat dan pembagian rapor amal.
  • Penegasan autentisitas Al-Qur'an sebagai wahyu, bukan syair.

Asbabun Nuzul: Konteks Turunnya Surat Al-Haqqah

Secara umum, para ulama tafsir tidak mencatat satu peristiwa tunggal yang menjadi sebab turunnya seluruh surat ini secara sekaligus. Namun, konteks penurunan surat ini sangat erat kaitannya dengan kondisi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah saat menghadapi penolakan keras dari kaum Quraisy.

Kaum kafir Quraisy saat itu gencar menuduh Nabi Muhammad SAW sebagai seorang penyair (sya'ir) atau tukang tenung (kahin) yang mengarang Al-Qur'an. Bagian akhir dari Surat Al-Haqqah (ayat 38-52) turun sebagai bantahan telak (counter-narrative) langsung dari Allah terhadap tuduhan tersebut. Allah bersumpah bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), bukan perkataan penyair ataupun tukang tenung.

Salah satu riwayat menarik yang sering dikutip dalam tafsir--meskipun lebih kepada dampak surat ini daripada sebab turunnya--ialah kisah Umar bin Khattab sebelum masuk Islam. Dikisahkan bahwa Umar pernah bersembunyi di balik kain penutup Kakbah untuk mendengarkan Nabi shalat.

Saat Nabi membaca Al-Haqqah, Umar tertegun dengan keindahan susunan katanya dan membatin, "Ini pasti syair." Seketika itu Nabi membaca ayat, "Dan Al-Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair..."

Umar terkejut dan membatin lagi, "Kalau begitu dia tukang tenung." Nabi melanjutkan bacaan, "Dan bukan pula perkataan tukang tenung..." Peristiwa ini menjadi salah satu benih hidayah yang masuk ke hati Umar.

Tiga Segmen Utama dalam Surat Al-Haqqah

Untuk memahami surat ini dengan baik, kita bisa membaginya menjadi tiga segmen narasi besar yang saling berkaitan.

1. Retrospeksi Sejarah: Kehancuran Kaum Pendusta

Allah membuka surat ini dengan pertanyaan retoris, "Al-Haqqah, apakah Al-Haqqah itu?" Kemudian langsung disambung dengan fakta sejarah tentang kaum-kaum super power di masa lalu yang hancur karena kesombongan mereka.

Kaum / Tokoh Bentuk Kedurhakaan Jenis Azab (Sesuai Al-Haqqah)
Kaum Tsamud Melampaui batas (Taghiyah) dan sombong. Dibinasakan dengan suara petir yang sangat keras mengguntur.
Kaum 'Ad Mengingkari rasul dan merasa paling kuat. Angin topan yang sangat dingin dan kencang selama 7 malam 8 hari.
Firaun & Umat Nuh Berbuat kesalahan besar dan mendurhakai Rasul. Siksaan yang sangat keras dan banjir besar (Nuh).

2. Visualisasi Kiamat dan Penyerahan Rapor

Segmen kedua menggambarkan detik-detik kehancuran alam semesta. Dimulai dengan tiupan Sangkakala (Sangkakala pertama), diangkatnya bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan sekali benturan hingga hancur lebur. Langit digambarkan terbelah dan menjadi lemah.

Di sinilah disebutkan tentang Arsy Allah yang pada hari itu dipikul oleh delapan malaikat (Ayat 17). Manusia kemudian dihadapkan pada pengadilan (Yaumul Hisab) dan terbagi menjadi dua golongan:

  • Golongan Kanan: Mereka yang menerima kitab amal dengan tangan kanan. Mereka berkata dengan bangga, "Ambillah, bacalah kitabku ini." Mereka hidup dalam keridhaan.
  • Golongan Kiri: Mereka yang menerima kitab amal dengan tangan kiri. Mereka penuh penyesalan dan berkata, "Wahai kiranya kitabku tidak diberikan kepadaku." Harta dan kekuasaan mereka tidak lagi berguna.

3. Konfirmasi Kebenaran Al-Qur'an

Segmen penutup menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang serius, bukan main-main. Bahkan ada ancaman teologis yang sangat mengerikan dalam ayat 44-46, "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya."

Ayat ini menjadi dalil terkuat bahwa Nabi Muhammad tidak mungkin memalsukan Al-Qur'an. Ini karena taruhannya ialah nyawanya sendiri di hadapan Allah.

Keutamaan dan Pelajaran dari Surat Al-Haqqah

Membaca dan mentadabburi Surat Al-Haqqah memberikan dampak spiritual yang mendalam. Berikut keutamaan dan pelajaran intinya:

Pertama, Membangun Sense of Urgency (Kesadaran Mendesak).

Surat ini mengajarkan bahwa kiamat adalah Al-Haqqah (Pasti Terjadi). Kesadaran ini mencegah manusia dari sifat menunda tobat.

Kedua, Membersihkan Akidah.

Surat ini membersihkan keraguan tentang sumber Al-Qur'an. Bagi seorang Muslim, meyakini autentisitas Al-Qur'an adalah fondasi iman. Surat ini menepis segala teori orientalis atau keraguan kaum liberal yang menganggap Al-Qur'an hanyalah produk budaya atau karya sastra Nabi.

Ketiga, Peringatan bagi Penguasa.

Kisah Kaum Ad, Tsamud, dan Firaun adalah peringatan abadi bagi siapa saja yang memegang kekuasaan di dunia. Kekuatan militer, teknologi, atau infrastruktur (seperti kaum Ad yang membangun pilar-pilar tinggi) bisa hancur dalam sekejap jika melawan hukum Tuhan.

Pertanyaan Seputar Surat Al-Haqqah

Apa arti kata Al-Haqqah?

Al-Haqqah berasal dari kata Al-Haqq yang berarti kebenaran. Dalam konteks surat ini, Al-Haqqah diartikan sebagai Hari Kiamat karena kejadiannya adalah sebuah kebenaran yang pasti dan tidak dapat dihindari oleh siapa pun.

Berapa jumlah malaikat yang memikul Arsy menurut Surat Al-Haqqah?

Berdasarkan ayat 17, disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti, Arsy (Singgasana) Tuhan akan dipikul di atas mereka oleh delapan malaikat (atau delapan golongan malaikat).

Mengapa Surat Al-Haqqah disebut sebagai peringatan bagi kaum yang ingkar?

Karena sebagian besar isi surat ini menceritakan detail azab yang menimpa kaum-kaum terdahulu yang mengingkari nabi mereka. Ini menjadi yurisprudensi sejarah bahwa pola yang sama akan berulang bagi mereka yang ingkar di masa kini.

Checklist: Refleksi Diri Setelah Membaca Al-Haqqah

Agar bacaan tidak sekadar di lisan, lakukan pengecekan berikut:

  • Audit Sumber Harta: Pastikan tidak ada harta haram yang masuk, karena di ayat 28 disebutkan "Hartaku sama sekali tidak memberi manfaat kepadaku" bagi golongan kiri.
  • Persiapan Rapor: Bayangkan jika hari ini adalah hari pembagian kitab amal, tangan mana yang kira-kira akan menerima buku catatan kita?
  • Validasi Iman: Yakinkan diri bahwa Al-Qur'an adalah pedoman hidup mutlak, bukan sekadar bacaan seremonial.
  • Sedekah Makan: Di ayat 34, salah satu penyebab masuk neraka adalah tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Rutinkan berbagi makanan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya