Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Surat Al-Haqqah: Asbabun Nuzul, Keutamaan, dan Gambaran Dahsyatnya Kiamat

Wisnu Arto Subari
26/1/2026 23:00
Surat Al-Haqqah: Asbabun Nuzul, Keutamaan, dan Gambaran Dahsyatnya Kiamat
Ilustrasi.(Freepik)

DI tengah hiruk-pikuk dunia modern tahun 2026 yang serba materialistis, manusia sering kali lupa tentang kepastian yang tidak bisa ditawar: Hari Akhir. Al-Qur'an memiliki satu surat yang secara spesifik dinamai dengan Hari Kiamat atau Kebenaran yang Pasti, yaitu Surat Al-Haqqah.

Surat ke-69 dalam juz 29 ini bukan sekadar rangkaian ayat. Surat ini menjadi peringatan keras yang menghentak kesadaran manusia tentang kefanaan dunia dan kekekalan akhirat.

Surat Al-Haqqah tergolong dalam surat Makkiyah, terdiri dari 52 ayat, dan memiliki nada bahasa yang tegas serta penuh ancaman bagi mereka yang mendustakan kebenaran. Bagi umat Islam, memahami surat ini bukan hanya sekadar membacanya, tetapi menyelami peringatan sejarah di dalamnya agar tidak mengulangi kesalahan umat-umat terdahulu.

Baca juga : 11 Surat dalam Juz 29 dari Al-Mulk sampai Al-Mursalat

Artikel ini akan mengupas tuntas latar belakang turunnya ayat (asbabun nuzul), pokok kandungan, hingga keutamaan mempelajarinya.

Intisari Pembahasan:

  • Makna nama Al-Haqqah sebagai realitas yang tak terelakkan.
  • Konteks sejarah (Asbabun Nuzul) dan bantahan terhadap tuduhan penyair.
  • Pola kehancuran kaum Ad, Tsamud, dan Firaun.
  • Visualisasi detik-detik kiamat dan pembagian rapor amal.
  • Penegasan autentisitas Al-Qur'an sebagai wahyu, bukan syair.

Asbabun Nuzul: Konteks Turunnya Surat Al-Haqqah

Secara umum, para ulama tafsir tidak mencatat satu peristiwa tunggal yang menjadi sebab turunnya seluruh surat ini secara sekaligus. Namun, konteks penurunan surat ini sangat erat kaitannya dengan kondisi dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah saat menghadapi penolakan keras dari kaum Quraisy.

Baca juga : Apa saja Persamaan dan Perbedaan Juz 30 dengan Juz 29

Kaum kafir Quraisy saat itu gencar menuduh Nabi Muhammad SAW sebagai seorang penyair (sya'ir) atau tukang tenung (kahin) yang mengarang Al-Qur'an. Bagian akhir dari Surat Al-Haqqah (ayat 38-52) turun sebagai bantahan telak (counter-narrative) langsung dari Allah terhadap tuduhan tersebut. Allah bersumpah bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), bukan perkataan penyair ataupun tukang tenung.

Salah satu riwayat menarik yang sering dikutip dalam tafsir--meskipun lebih kepada dampak surat ini daripada sebab turunnya--ialah kisah Umar bin Khattab sebelum masuk Islam. Dikisahkan bahwa Umar pernah bersembunyi di balik kain penutup Kakbah untuk mendengarkan Nabi shalat.

Baca juga: Surat Al-Muthaffifin Asbabun Nuzul, Kandungan, Keutamaan, Teks, dan Artinya

Saat Nabi membaca Al-Haqqah, Umar tertegun dengan keindahan susunan katanya dan membatin, "Ini pasti syair." Seketika itu Nabi membaca ayat, "Dan Al-Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair..."

Umar terkejut dan membatin lagi, "Kalau begitu dia tukang tenung." Nabi melanjutkan bacaan, "Dan bukan pula perkataan tukang tenung..." Peristiwa ini menjadi salah satu benih hidayah yang masuk ke hati Umar.

Baca juga: Surat Al-Mulk Arab, Latin, Arti, dan Keutamaan

Tiga Segmen Utama dalam Surat Al-Haqqah

Untuk memahami surat ini dengan baik, kita bisa membaginya menjadi tiga segmen narasi besar yang saling berkaitan.

1. Retrospeksi Sejarah: Kehancuran Kaum Pendusta

Allah membuka surat ini dengan pertanyaan retoris, "Al-Haqqah, apakah Al-Haqqah itu?" Kemudian langsung disambung dengan fakta sejarah tentang kaum-kaum super power di masa lalu yang hancur karena kesombongan mereka.

Baca juga: Surat Al-Qalam Asbabun Nuzul, Keutamaan, dan Kandungan Ayat

Kaum / Tokoh Bentuk Kedurhakaan Jenis Azab (Sesuai Al-Haqqah)
Kaum Tsamud Melampaui batas (Taghiyah) dan sombong. Dibinasakan dengan suara petir yang sangat keras mengguntur.
Kaum 'Ad Mengingkari rasul dan merasa paling kuat. Angin topan yang sangat dingin dan kencang selama 7 malam 8 hari.
Firaun & Umat Nuh Berbuat kesalahan besar dan mendurhakai Rasul. Siksaan yang sangat keras dan banjir besar (Nuh).

2. Visualisasi Kiamat dan Penyerahan Rapor

Segmen kedua menggambarkan detik-detik kehancuran alam semesta. Dimulai dengan tiupan Sangkakala (Sangkakala pertama), diangkatnya bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan sekali benturan hingga hancur lebur. Langit digambarkan terbelah dan menjadi lemah.

Baca juga: Surat Yasin Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahan (Mudah Dibaca)

Di sinilah disebutkan tentang Arsy Allah yang pada hari itu dipikul oleh delapan malaikat (Ayat 17). Manusia kemudian dihadapkan pada pengadilan (Yaumul Hisab) dan terbagi menjadi dua golongan:

  • Golongan Kanan: Mereka yang menerima kitab amal dengan tangan kanan. Mereka berkata dengan bangga, "Ambillah, bacalah kitabku ini." Mereka hidup dalam keridhaan.
  • Golongan Kiri: Mereka yang menerima kitab amal dengan tangan kiri. Mereka penuh penyesalan dan berkata, "Wahai kiranya kitabku tidak diberikan kepadaku." Harta dan kekuasaan mereka tidak lagi berguna.

Baca juga: Al Waqiah Surat ke Berapa Teks Arab, Latin, dan Artinya Ayat 1-96

3. Konfirmasi Kebenaran Al-Qur'an

Segmen penutup menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang serius, bukan main-main. Bahkan ada ancaman teologis yang sangat mengerikan dalam ayat 44-46, "Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya."

Ayat ini menjadi dalil terkuat bahwa Nabi Muhammad tidak mungkin memalsukan Al-Qur'an. Ini karena taruhannya ialah nyawanya sendiri di hadapan Allah.

Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti

Keutamaan Surat Al-Haqqah

Ada sejumlah keutamaan Surat Al-Haqqah sebagaimana dilansir dari Abu Syuja.

1. Surat Al-Haqqah termasuk dalam Al-Mufashshal.

Surat ini diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai tambahan. Dengan demikian, beliau memiliki keutamaan dan keistimewaan dibandingkan dengan nabi-nabi pendahulunya.

Baca juga: 37 Surat dalam Juz Amma dengan Bahasa Arab, Latin, dan Terjemahan

2. Orang yang membacanya akan dimudahkan dalam hisab dan dapat dijadikan sebagai wasilah atau doa agar janin yang ada di dalam perut dilindungi oleh Allah.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat ini (Surat Al-Haqqah), Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah. Barangsiapa yang menulisnya dan mengalungkannya kepada wanita yang sedang hamil, janin yang dalam perutnya dilindungi dengan izin Allah. Dan jika ditulis dan dimasukkan ke air lalu airnya diminumkan kepada anak kecil yang masih menyusu air susu ibu sebelum sempurna disapih, ia akan tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas lagi penghafal.” (Tafsirul Burhan, Juz 8: 98).

Baca juga: Surat AbasaAsbabun Nuzul, Kandungan, Keutamaan, Teks, dan Terjemah

Pertanyaan Seputar Surat Al-Haqqah

Apa arti kata Al-Haqqah?

Al-Haqqah berasal dari kata Al-Haqq yang berarti kebenaran. Dalam konteks surat ini, Al-Haqqah diartikan sebagai Hari Kiamat karena kejadiannya adalah sebuah kebenaran yang pasti dan tidak dapat dihindari oleh siapa pun.

Berapa jumlah malaikat yang memikul Arsy menurut Surat Al-Haqqah?

Berdasarkan ayat 17, disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti, Arsy (Singgasana) Tuhan akan dipikul di atas mereka oleh delapan malaikat (atau delapan golongan malaikat).

Baca juga: Surat Al-Infithar Asbabun Nuzul, Kandungan, Keutamaan, Teks, Terjemahan

Mengapa Surat Al-Haqqah disebut sebagai peringatan bagi kaum yang ingkar?

Karena sebagian besar isi surat ini menceritakan detail azab yang menimpa kaum-kaum terdahulu yang mengingkari nabi mereka. Ini menjadi yurisprudensi sejarah bahwa pola yang sama akan berulang bagi mereka yang ingkar di masa kini.

Checklist: Refleksi Diri Setelah Membaca Al-Haqqah

Agar bacaan tidak sekadar di lisan, lakukan pengecekan berikut:

  • Audit Sumber Harta: Pastikan tidak ada harta haram yang masuk, karena di ayat 28 disebutkan "Hartaku sama sekali tidak memberi manfaat kepadaku" bagi golongan kiri.
  • Persiapan Rapor: Bayangkan jika hari ini adalah hari pembagian kitab amal, tangan mana yang kira-kira akan menerima buku catatan kita?
  • Validasi Iman: Yakinkan diri bahwa Al-Qur'an adalah pedoman hidup mutlak, bukan sekadar bacaan seremonial.
  • Sedekah Makan: Di ayat 34, salah satu penyebab masuk neraka adalah tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Rutinkan berbagi makanan.

1

اَلْحَاۤقَّةُۙ

al-ḥāqqah(tu).

Hari Kiamat,

مَا الْحَاۤقَّةُ ۚ 

mal-ḥāqqah(tu).

apakah hari Kiamat itu?

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحَاۤقَّةُ ۗ 

wa mā adrāka mal-ḥāqqah(tu).

Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?

كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ وَعَادٌ ۢبِالْقَارِعَةِ 

każżabat ṡamūdu wa ‘ādum bil-qāri‘ah(ti).

Kaum Samud, dan ‘Ad telah mendustakan hari Kiamat.

فَاَمَّا ثَمُوْدُ فَاُهْلِكُوْا بِالطَّاغِيَةِ 

fa'ammā ṡamūdu fa uhlikū biṭ-ṭāgiyah(ti).

Maka adapun kaum Samud, mereka telah dibinasakan dengan suara yang sangat keras,

وَاَمَّا عَادٌ فَاُهْلِكُوْا بِرِيْحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍۙ 

wa ammā ‘ādun fa'uhlikū birīḥin ṣarṣarin ‘ātiyah(tin).

sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin,

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَّثَمٰنِيَةَ اَيَّامٍۙ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰىۙ كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍۚ 

sakhkharahā ‘alaihim sab‘a layāliw wa ṡamāniyata ayyām(in), ḥusūman fataral-qauma fīhā ṣar‘ā, ka'annahum a‘jāzu nakhlin khāwiyah(tin).

Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus; maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).

فَهَلْ تَرٰى لَهُمْ مِّنْۢ بَاقِيَةٍ 

fahal tarā lahum mim bāqiyah(tin).

Maka adakah kamu melihat seorang pun yang masih tersisa di antara mereka?

وَجَاۤءَ فِرْعَوْنُ وَمَنْ قَبْلَهٗ وَالْمُؤْتَفِكٰتُ بِالْخَاطِئَةِۚ 

wa jā'a fir‘aunu wa man qablahū wal-mu'tafikātu bil-khāṭi'ah(ti).

Kemudian datang Fir‘aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkirbalikkan karena kesalahan yang besar.

10 

فَعَصَوْا رَسُوْلَ رَبِّهِمْ فَاَخَذَهُمْ اَخْذَةً رَّابِيَةً 

fa ‘aṣau rasūla rabbihim fa akhażahum akhżatar rābiyah(tan).

Maka mereka mendurhakai utusan Tuhannya, Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras.

11 

اِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَاۤءُ حَمَلْنٰكُمْ فِى الْجَارِيَةِۙ 

innā lammā ṭagal-mā'u ḥamalnākum fil-jāriyah(ti).

Sesungguhnya ketika air naik (sampai ke gunung), Kami membawa (nenek moyang) kamu ke dalam kapal,

12 

لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَّتَعِيَهَآ اُذُنٌ وَّاعِيَةٌ 

linaj‘alahā lakum tażkirataw wa ta‘iyahā użunuw wā‘iyah(tun).

agar Kami jadikan (peristiwa itu) sebagai peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.

13 

فَاِذَا نُفِخَ فِى الصُّوْرِ نَفْخَةٌ وَّاحِدَةٌ ۙ 

fa iżā nufikha fiṣ-ṣūri nafkhatuw wāḥidah(tun).

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup,

14 

وَّحُمِلَتِ الْاَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَّاحِدَةًۙ 

wa ḥumilatil-arḍu wal-jibālu fa dukkatā dakkataw wāḥidah(tan).

dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan.

15 

فَيَوْمَىِٕذٍ وَّقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ 

fayauma'iżiw waqa‘atil-wāqi‘ah(tu).

Maka pada hari itu terjadilah hari Kiamat,

16 

وَانْشَقَّتِ السَّمَاۤءُ فَهِيَ يَوْمَىِٕذٍ وَّاهِيَةٌۙ 

wansyaqqatis-samā'u fahiya yauma'iżiw wāhiyah(tun).

dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh.

17 

وَّالْمَلَكُ عَلٰٓى اَرْجَاۤىِٕهَاۗ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ ثَمٰنِيَةٌ ۗ 

wal-malaku ‘alā arjā'ihā, wa yaḥmilu ‘arsya rabbika fauqahum yauma'iżin ṡamāniyah(tun).

Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy (singgasana) Tuhanmu di atas (kepala) mereka.

18 

يَوْمَىِٕذٍ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفٰى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ 

yauma'iżin tu‘raḍūna lā takhfā minkum khāfiyah(tun).

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah).

19 

فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖ فَيَقُوْلُ هَاۤؤُمُ اقْرَءُوْا كِتٰبِيَهْۚ 

fa ammā man ūtiya kitābahū biyamīnihī fa yaqūlu hā'umuqra'ū kitābiyah.

Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah kitabku (ini).”

20

اِنِّيْ ظَنَنْتُ اَنِّيْ مُلٰقٍ حِسَابِيَهْۚ

innī ẓanantu annī mulāqin ḥisābiyah.

Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku.

21

فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۚ

fa huwa fī ‘īsyatir rāḍiyah(tin).

Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai,

22

فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ

fī jannatin ‘āliyah(tin).

dalam surga yang tinggi,

23

قُطُوْفُهَا دَانِيَةٌ

quṭūfuhā dāniyah(tun).

buah-buahannya dekat,

24

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَآ اَسْلَفْتُمْ فِى الْاَيَّامِ الْخَالِيَةِ

kulū wasyrabū hanī'am bimā aslaftum fil-ayyāmil-khāliyah(ti).

(kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”

25

وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِشِمَالِهٖ ەۙ فَيَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ لَمْ اُوْتَ كِتٰبِيَهْۚ

wa ammā man ūtiya kitābahū bisyimālih(ī), fa yaqūlu yā laitanī lam ūta kitābiyah.

Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku.

26

وَلَمْ اَدْرِ مَا حِسَابِيَهْۚ

wa lam adri mā ḥisābiyah.

Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku.

27

يٰلَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَۚ

yā laitahā kānatil-qāḍiyah(ta).

Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu.

28

مَآ اَغْنٰى عَنِّيْ مَالِيَهْۚ

mā agnā ‘annī māliyah.

Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku.

29

هَلَكَ عَنِّيْ سُلْطٰنِيَهْۚ

halaka ‘annī sulṭāniyah.

Kekuasaanku telah hilang dariku.”

30

خُذُوْهُ فَغُلُّوْهُۙ

khużūhu fagullūh(u).

(Allah berfirman), “Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.”

31

ثُمَّ الْجَحِيْمَ صَلُّوْهُۙ

Ṡummal-jaḥīma ṣallūh(u).

Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.

32

ثُمَّ فِيْ سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوْهُۗ

Ṡumma fī silsilatin żar‘uhā sab‘ūna żirā‘an faslukūh(u).

Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.

33

اِنَّهٗ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ الْعَظِيْمِۙ

innahū kāna lā yu'minu billāhil-‘aẓīm(i).

Sesungguhnya dialah orang yang tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar.

34

وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ

wa lā yaḥuḍḍu ‘alā ṭa‘āmil-miskīn(i).

Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.

35

فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هٰهُنَا حَمِيْمٌۙ

fa laisa lahul-yauma hāhunā ḥamīm(un).

Maka pada hari ini di sini tidak ada seorang teman pun baginya.

36

وَّلَا طَعَامٌ اِلَّا مِنْ غِسْلِيْنٍۙ

wa lā ṭa‘āmun illā min gislīn(in).

Dan tidak ada makanan (baginya) kecuali dari darah dan nanah.

37

لَّا يَأْكُلُهٗٓ اِلَّا الْخٰطِـُٔوْنَ ࣖ

lā ya'kuluhū illal-khāṭi'ūn(a).

Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.

38

فَلَآ اُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُوْنَۙ

falā uqsimu bimā tubṣirūn(a).

Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat,

39

وَمَا لَا تُبْصِرُوْنَۙ

wa mā lā tubṣirūn(a).

dan demi apa yang tidak kamu lihat.

40

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ

innahū laqaulu rasūlin karīm(in).

Sesungguhnya ia (Al-Qur'an) itu benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,

41

وَّمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍۗ قَلِيْلًا مَّا تُؤْمِنُوْنَۙ

wa mā huwa biqauli syā‘ir(in), qalīlam mā tu'minūn(a).

dan ia (Al-Qur'an) bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.

42

وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ

wa lā biqauli kāhin(in), qalīlam mā tażakkarūn(a).

Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya.

43

تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ

tanzīlum mir rabbil-‘ālamīn(a).

Ia (Al-Qur'an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam.

44

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْاَقَاوِيْلِۙ

wa lau taqawwala ‘alainā ba‘ḍal-aqāwīl(i).

Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,

45 

لَاَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِيْنِۙ 

la'akhażnā minhu bil-yamīn(i).

pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya.

46

ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِيْنَۖ

Ṡumma laqaṭa‘nā minhul-watīn(a).

Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya.

47

فَمَا مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ عَنْهُ حٰجِزِيْنَۙ

famā minkum min aḥadin ‘anhu ḥājizīn(a).

Maka tidak seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya).

48 

وَاِنَّهٗ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ 

wa innahū latażkiratul lil-muttaqīn(a).

Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

49 

وَاِنَّا لَنَعْلَمُ اَنَّ مِنْكُمْ مُّكَذِّبِيْنَۗ 

wa innā lana‘lamu anna minkum mukażżibīn(a).

Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan.

50

وَاِنَّهٗ لَحَسْرَةٌ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۚ

wa innahū laḥasratun ‘alal-kāfirīn(a).

Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu akan menimbulkan penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat).

51

وَاِنَّهٗ لَحَقُّ الْيَقِيْنِ

wa innahū laḥaqqul-yaqīn(i).

Dan Sungguh, (Al-Qur'an) itu kebenaran yang meyakinkan.

52

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ ࣖ

fa sabbiḥ bismi rabbikal-‘aẓīm(i).

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahaagung.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya