Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Waspadai Child Grooming, Kenali Karakteristik dan Manipulasi Pelaku pada Anak

Basuki Eka Purnama
15/1/2026 14:09
Waspadai Child Grooming, Kenali Karakteristik dan Manipulasi Pelaku pada Anak
Ilustrasi(Freepik)

KASUS pelecehan seksual terhadap anak sering kali diawali dengan proses manipulasi yang rapi atau yang dikenal dengan istilah child grooming. Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, membedah karakteristik hingga pola pendekatan yang dilakukan pelaku agar keluarga Indonesia dapat melakukan deteksi dini.

Kasandra menjelaskan bahwa child grooming adalah proses sistematis untuk mempersiapkan anak menjadi korban pelecehan. Kunci utama dalam menghadapi ancaman ini adalah kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi pelaku sebelum aksi eksploitasi terjadi.

Karakteristik dan Topeng Pelaku

Menurut Kasandra, pelaku grooming tidak selalu terlihat mencurigakan. Sebaliknya, mereka sering kali merupakan individu dengan kemampuan sosial yang sangat baik.

“Karakteristik pelaku child grooming seperti sering kali sangat terampil dalam manipulasi emosional, mampu membangun kepercayaan dan hubungan yang kuat dengan anak dan orang dewasa di sekitarnya,” tutur Kasandra, Rabu (14/1).

Pelaku kerap menunjukkan empati serta perhatian berlebihan untuk menciptakan kesan peduli. Mereka juga biasanya masuk ke dunia anak melalui kegiatan yang disukai korban, seperti bermain gim, berolahraga, atau hobi lainnya. 

Kasandra menambahkan bahwa pelaku berusaha keras menyembunyikan niat jahat mereka agar tidak terdeteksi, meski beberapa di antaranya mungkin memiliki riwayat perilaku menyimpang di masa lalu.

Siapa Saja yang Patut Diwaspadai?

Publik perlu memahami bahwa pelaku bisa datang dari lingkaran mana pun. Kasandra memaparkan beberapa pihak yang berpotensi menjadi pelaku, di antaranya:

  • Lingkaran Terdekat: Anggota keluarga, teman keluarga, guru, pelatih, atau orang dewasa yang memiliki akses langsung ke anak.
  • Oknum Profesional: Individu yang bekerja dengan anak-anak, seperti pekerja sosial atau konselor, yang menyalahgunakan posisi mereka.
  • Dunia Digital: Orang asing yang berinteraksi melalui media sosial, aplikasi pesan, atau platform gim.
  • Rekan Sebaya: Remaja atau anak yang lebih tua terhadap anak yang lebih muda.

Pola Manipulasi dan Durasi

Dalam menjalankan aksinya, pelaku menggunakan teknik psikologis yang halus. Mereka menghabiskan waktu untuk membangun ikatan kuat sebelum mengarahkan hubungan ke arah berbahaya. 

Teknik seperti memberikan pujian berlebihan hingga gaslighting sering digunakan untuk membuat anak bingung dan meragukan diri sendiri, sehingga korban lebih mudah dikendalikan dan diisolasi dari keluarga.

Proses ini tidak terjadi dalam semalam. Kasandra menyebutkan durasi *grooming* bisa berlangsung dari hitungan minggu hingga tahunan.

“Proses child grooming dapat berlangsung dari beberapa minggu hingga beberapa tahun, tergantung pada strategi pelaku dan seberapa cepat mereka dapat membangun kepercayaan dengan anak. Pelaku sering kali meluangkan waktu untuk menciptakan hubungan yang kuat sebelum melakukan eksploitasi,” jelasnya.

Kecepatan proses ini juga dipengaruhi oleh kerentanan emosional korban dan media yang digunakan. Ruang digital cenderung mempercepat proses karena faktor anonimitas. 

Namun, Kasandra menekankan bahwa pengawasan orang tua dan keberanian anak untuk menunjukkan ketidaknyamanan adalah kunci utama untuk menghentikan proses grooming sejak awal. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya