Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
Kuasa hukum salah satu korban dugaan pelecehan berinisial N, Wanda Al-Fathi Akbar, mengungkapkan bahwa jumlah korban dalam kasus dugaan pelecehan yang melibatkan guru di sebuah SMA di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, diduga lebih dari dua orang. Menurut Wanda, berdasarkan informasi yang diperoleh pihaknya, terdapat beberapa korban lain yang selama ini memilih diam dan belum berani mengungkapkan pengalaman yang mereka alami.
“Dari informasi yang kami dapat, ada beberapa korban. Selama ini kemungkinan mereka belum berani berbicara. Estimasinya bisa lebih dari dua orang,” kata Wanda di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, kasus dugaan pelecehan tersebut diduga telah berlangsung cukup lama dan tidak terungkap ke publik karena para korban memilih menyimpan pengalaman tersebut. Setelah salah satu korban berani melapor, korban-korban lain mulai muncul dan menyampaikan cerita serupa.
“Kasus ini sebelumnya seperti tertutup. Setelah korban yang sekarang kami dampingi melapor, barulah muncul korban-korban lain,” ujarnya.
Wanda memastikan pihaknya telah melaporkan dugaan pelecehan tersebut ke Polres Metro Jakarta Timur. Saat ini, penanganan perkara masih berada pada tahap penyelidikan dan berpeluang ditingkatkan ke tahap penyidikan.
“Masih tahap penyelidikan, tetapi ada kemungkinan segera naik ke tahap penyidikan,” kata dia.
Selain melapor ke kepolisian, kuasa hukum juga telah berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk memastikan tindak lanjut terhadap terduga pelaku yang merupakan guru di sekolah tersebut. Wanda menekankan pentingnya peran sekolah agar tidak lepas tangan dalam proses hukum yang berjalan.
“Kami datang untuk bermusyawarah agar ada solusi. Kami meminta pihak sekolah ikut mengawal proses ini dan tidak melepaskan tanggung jawab setelah adanya laporan dan pemberhentian terhadap oknum guru,” ujarnya.
Ia menilai dukungan dari pihak sekolah sangat penting agar proses hukum dapat berjalan secara tuntas dan memberikan keadilan bagi para korban.
Sebelumnya, pada Senin (9/2), sejumlah siswa di sekolah tersebut menggelar aksi solidaritas sebagai bentuk dukungan terhadap para korban dugaan pelecehan. Dalam aksi tersebut, para siswa menyuarakan tuntutan agar kasus ditangani secara transparan dan menyeluruh. Para siswa juga menyebut dugaan pelecehan telah berlangsung cukup lama. Pernyataan tersebut diperkuat oleh sejumlah alumni yang mulai berani menyampaikan pengalaman serupa.
Wanda menjelaskan dugaan pelecehan yang saat ini telah dilaporkan berkaitan dengan pesan-pesan bernada tidak pantas di grup WhatsApp yang melibatkan oknum guru. Dalam percakapan tersebut, terduga pelaku diduga membicarakan korban dan siswi lain dengan muatan yang tidak pantas.
“Dugaan yang kami pegang saat ini berupa pelecehan verbal melalui pesan WhatsApp, di mana oknum guru saling bertukar pesan dan membahas fisik korban maupun siswi lainnya,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku memperoleh informasi bahwa sejumlah korban lain diduga juga mengalami pelecehan fisik. Namun, hingga kini korban dalam dugaan tersebut belum teridentifikasi secara pasti.
“Bukti yang kami miliki saat ini baru sebatas verbal. Tetapi dari informasi yang kami terima, ada dugaan pelecehan fisik juga, hanya saja korban belum diketahui,” kata Wanda.
Ia menyebutkan, pada klien yang saat ini didampingi, dugaan pelecehan berlangsung selama kurang lebih dua bulan terakhir. Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami dampak psikologis berupa trauma, rasa takut, dan tekanan mental yang masih dirasakan hingga kini.
Wanda berharap proses hukum dapat berjalan secara transparan dan memberikan keadilan bagi seluruh korban. Ia juga menekankan pentingnya pendampingan psikologis bagi para siswi yang terdampak agar dapat pulih dari trauma yang dialami. (Ant/E-3)
Dokumen pengadilan yang baru dibuka mengungkap tuduhan serius terhadap Jes Staley, mantan CEO Barclays. Ia diduga melakukan pelecehan seksual dan kekerasan terhadap korban Jeffrey Epstein.
Departemen Kehakiman AS resmi mengakhiri peninjauan berkas Jeffrey Epstein, namun Kongres tetap melanjutkan penyelidikan. Nama Trump dan Clinton kembali jadi sorotan.
Dokumen terbaru Departemen Kehakiman AS mengungkap kedekatan Peter Mandelson dengan predator seksual Jeffrey Epstein, termasuk percakapan akrab setelah vonis tahun 2008.
Ketegangan terjadi di Oval Office saat Presiden Donald Trump menyerang pribadi jurnalis CNN, Kaitlan Collins, yang mencecarnya soal keadilan bagi korban Jeffrey Epstein.
Departemen Kehakiman AS (DOJ) menarik ribuan dokumen kasus Jeffrey Epstein setelah identitas para penyintas bocor akibat kesalahan redaksi yang fatal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved