Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Diterpa Insiden tidak Senonoh, Presiden Meksiko Perintahkan Reformasi Hukum Pelecehan Seksual

Dhika Kusuma Winata
07/11/2025 15:41
Diterpa Insiden tidak Senonoh, Presiden Meksiko Perintahkan Reformasi Hukum Pelecehan Seksual
Claudia Sheinbaum.(AFP/ENRIQUE CASTRO)

PRESIDEN Meksiko Claudia Sheinbaum mengumumkan langkah besar untuk memperkuat penegakan hukum terhadap kasus kekerasan serta pelecehan seksual. Hal itu dilakukan usai dirinya sendiri menjadi korban insiden pelecehan di ruang publik yang memicu kehebohan.

Sheinbaum, 63 tahun, yang merupakan presiden perempuan pertama dalam sejarah Meksiko, dilecehkan oleh seorang pria dalam kondisi mabuk ketika berjalan menyapa warga di jalanan ibu kota pada Selasa (4/11) lalu.

Pelaku mendekatinya, melingkarkan tangan ke bahunya, kemudian menyentuh bagian tubuhnya dan mencoba mencium lehernya sebelum akhirnya diamankan oleh petugas pengawal.

Kejadian tersebut langsung menjadi sorotan dunia dan menyoroti kembali tingginya risiko kekerasan serta pelecehan yang dihadapi perempuan di Meksiko. Sheinbaum pun melaporkan pelaku dengan tuduhan pelecehan seksual.

Sebagai respons, Sheinbaum memerintahkan kajian ulang terhadap ketimpangan aturan soal pelecehan dan kekerasan seksual di 32 negara bagian Meksiko yang selama ini memiliki definisi dan sanksi hukum berbeda-beda.

“Semoga apa yang terjadi pada saya menjadi pengingat bahwa perempuan tidak boleh merasa sendirian menghadapi pelecehan atau kekerasan. Untuk itu, negara dan institusi harus berdiri di belakang mereka,” ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (6/11) waktu setempat.

Menurut data PBB, sekitar 70% perempuan dan anak perempuan di Meksiko berusia 15 tahun ke atas pernah mengalami setidaknya satu bentuk pelecehan seksual. 

Sekretaris Urusan Perempuan, Citlalli Hernandez, menyebut sepanjang tahun ini sudah ada lebih dari 25 ribu laporan pelecehan seksual yang masuk. Namun angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi karena banyak perempuan enggan melapor akibat takut disalahkan atau tidak dipercaya aparat.

Sheinbaum menegaskan pentingnya membangun sistem pelaporan yang cepat dan efektif agar keadilan benar-benar dapat ditegakkan.

“Kita memerlukan mekanisme yang efisien dan tanggap, yang benar-benar memastikan keadilan bagi korban,” katanya.

Insiden tersebut juga memunculkan perdebatan mengenai keputusan Sheinbaum untuk tetap berinteraksi langsung dengan publik di tengah risiko keamanan yang tinggi bagi pejabat Meksiko, terutama akibat kekerasan kartel narkoba. Namun, ia menolak meningkatkan pengamanan pribadinya. 

“Kami harus tetap dekat dengan rakyat,” tegasnya. (AFP/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik