Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Jejak Gelap Jacques Leveugle, Catatan Digital Ungkap Pelecehan 89 Remaja di Berbagai Negara

Thalatie K Yani
11/2/2026 06:24
Jejak Gelap Jacques Leveugle, Catatan Digital Ungkap Pelecehan 89 Remaja di Berbagai Negara
Jacques Leveugle ditangkap setelah keponakannya menemukan USB berisi catatan kejahatan seksual terhadap 89 remaja di berbagai negara. (LeParisien)

KEPOLISIAN Prancis mengungkap salah satu kasus pelecehan seksual massal paling ekstensif yang melibatkan seorang pria lansia bernama Jacques Leveugle, 79. Ia didakwa atas dugaan pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap 89 remaja dalam rentang waktu lebih dari lima dekade, sejak tahun 1960-an hingga 2022.

Kasus ini terungkap berkat aksi keponakan Leveugle yang menaruh curiga saat sang paman berkunjung ke Isère, dekat Grenoble, pada Oktober 2023. Saat Leveugle tidak berada di tempat, keponakannya memeriksa sebuah flashdisk (USB) miliknya.

Jaksa Grenoble, Etienne Manteaux, dalam konferensi pers pada Selasa, mengungkapkan perangkat tersebut berisi "15 jilid materi yang sangat padat" berupa foto dan catatan tertulis mengenai hubungan seksual Leveugle dengan anak di bawah umur berusia 13 hingga 17 tahun.

Modus Guru Les Internasional 

Selama hidupnya, Leveugle bekerja sebagai pengajar informal atau asisten di kamp liburan. Ia berpindah-pindah ke berbagai negara untuk memberikan bimbingan belajar, yang diduga menjadi kesempatannya mencari korban.

Pihak berwenang meyakini kejahatan tersebut tidak hanya terjadi di Prancis, tetapi juga di Jerman, Swiss, Maroko, Niger, Aljazair, Filipina, India, Kolombia, hingga Kaledonia Baru.

"Dia melakukan perjalanan ke negara-negara yang berbeda ini dan di setiap tempat di mana dia menetap untuk memberikan les dan mengajar, dia akan bertemu dengan kaum muda dan berhubungan seksual dengan mereka," ujar Manteaux.

Meskipun terdapat 89 korban yang dicatat oleh pelaku, baru sekitar 40 orang yang berhasil diidentifikasi. Identitas Leveugle akhirnya dipublikasikan secara luar biasa agar korban lain berani melapor. "Jika ada korban yang ingin melapor, sekaranglah saatnya," tambah Manteaux.

Pengakuan Pembunuhan Anggota Keluarga 

Selain kasus pelecehan, pemeriksaan polisi mengungkap fakta yang lebih mengerikan. Leveugle diduga mengaku telah membunuh ibu kandung dan bibinya sendiri dengan cara membekap mereka menggunakan bantal.

Ia mengeklaim membunuh ibunya pada 1974 saat sang ibu berada di stadium terminal kanker. Sementara itu, bibinya yang berusia 92 tahun dibunuh pada 1992 karena terus memohon agar ia tidak pergi ke wilayah Cévennes.

"Dia menjelaskan kepada kami bahwa dia memberi tahu (bibinya) bahwa dia harus pergi ke Cévennes. Sang bibi memohon agar dia tidak pergi, jadi dia mengambil keputusan untuk membunuhnya juga," ungkap jaksa.

Leveugle mencoba membenarkan aksinya dengan dalih belas kasihan, berharap seseorang akan melakukan hal yang sama padanya jika ia berada di posisi yang sama di akhir hayatnya. Penyelidikan yudisial terpisah kini telah dibuka terkait dugaan pembunuhan ini.

Kasus Leveugle menambah daftar panjang predator seksual di Prancis yang menyimpan catatan detail atas aksi bejat mereka, serupa dengan kasus Dominique Pélicot dan Joël Le Scouarnec yang baru-baru ini mengguncang dunia internasional. (BBc/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya