Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Pasca Tewasnya "El Mencho", Guadalajara Mencekam di Bawah Bayang-Bayang Kartel CJNG

Thalatie K Yani
25/2/2026 05:27
Pasca Tewasnya
Kota Guadalajara, Meksiko, lumpuh setelah kartel CJNG mengamuk pasca tewasnya bos mereka. Keamanan Piala Dunia 2026 kini menjadi sorotan besar.(AFP)

JEJAK kehancuran masih terlihat jelas di jalanan Guadalajara, Meksiko Barat. Bangkai mobil yang hangus dan aspal yang menghitam menjadi saksi bisu amuk massa yang dilakukan Jalisco New Generation Cartel (CJNG) pada Minggu lalu.

Aksi teror ini merupakan respons brutal atas tewasnya pemimpin tertinggi mereka, Nemesio "El Mencho" Oseguera. Dengan membakar puluhan kendaraan dan menjarah toko-toko kelontong, CJNG mengirimkan pesan eksplisit, dengan atau tanpa pemimpin mereka, kekuatan kartel ini tetap mampu melumpuhkan kota dan menyebarkan ketakutan massal.

Kota yang "Mati" Sementara

Meski Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, mengklaim "kedamaian dan ketenangan" telah kembali, realitas di lapangan berbicara sebaliknya. Di pusat kota Guadalajara, jalanan tampak lebih sepi dari biasanya. Sebagian besar bisnis kecil memilih tutup, sekolah-sekolah diliburkan, dan warga lebih memilih bersembunyi di dalam rumah.

Anwar Montoya, pemilik café Severo, adalah satu dari sedikit pengusaha yang berani membuka usahanya. "Saya harus buka hari ini. Kami bisnis baru dan banyak tagihan yang harus dibayar," ujarnya kepada BBC sambil tertawa getir. "Itu adalah hari yang aneh dan sulit, semua orang ketakutan."

Kegagalan Strategi "Kingpin"

Kekerasan yang meledak kali ini memicu kritik terhadap strategi pemerintah dalam menangani kartel. Mariana Casillas, seorang anggota parlemen sayap kiri, menyebut skenario ini terus berulang sejak "perang melawan narkoba" dimulai pada 2006.

"Hanya saja kali ini, karena melibatkan pembunuhan seorang capo (pimpinan tertinggi) tingkat atas, ledakan kekerasannya jauh lebih dahsyat dari biasanya," kata Casillas. Ia berargumen pemerintah terlalu fokus pada penangkapan pemimpin besar daripada mengatasi kemiskinan dan lingkungan yang membuat anak muda terjebak ke dunia kriminal.

Para ahli memperingatkan bahwa tewasnya "El Mencho" justru akan memicu kekosongan kekuasaan yang berbahaya. Deborah Bonello, pengamat dari lembaga Insight Crime, menjelaskan bahwa penghapusan pemimpin besar selalu berujung pada kekerasan yang lebih parah akibat perebutan tahta di dalam organisasi.

Ancaman Bagi Piala Dunia 2026

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran besar mengingat Guadalajara dijadwalkan menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA pada Juni mendatang. Pertandingan besar antara Spanyol dan Uruguay direncanakan digelar di stadion utama kota ini.

Namun, jaminan keamanan dari pemerintah tampaknya belum mampu meyakinkan warga lokal. Anwar Montoya bahkan meragukan keamanan kotanya bagi pengunjung internasional. "Saya tidak pikir ini tempat yang aman untuk Piala Dunia," cetusnya.

Casillas menambahkan bahwa warga lokal memiliki prioritas yang berbeda dari pemerintah. "Masyarakat di sini tidak menginginkan Piala Dunia. Mereka menginginkan keamanan, air bersih, dan kepulangan anggota keluarga mereka yang hilang," tegasnya. Sejak 2007, puluhan ribu orang dilaporkan hilang di Meksiko, banyak di antaranya direkrut paksa oleh kartel atau dibunuh karena melawan. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya